PALEMBANG — Perayaan Pembuka Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) II tingkat Provinsi Sumatera Selatan berlangsung meriah pada Jumat (23/10/2026) malam. Acara yang mempertemukan ratusan kontingen dari 9 LP3KD kabupaten dan kota se-Sumsel ini menjadi panggung perayaan iman sekaligus simbol kokohnya toleransi antarumat beragama di Bumi Sriwijaya.

Suasana hangat dan penuh persaudaraan terasa sepanjang acara pembukaan. Hadir dalam kesempatan tersebut jajaran Forkopimda Sumsel, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang, Romo Yohanes Kristianto, Sekretaris Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional (LP3KN), Salman Habeahan, tokoh-tokoh lintas agama, pengurus LP3KD, serta peserta dan official.
Beragam tampilan menarik tampil memukau dengan sajian seni lintas agama, mulai dari Tari Kreasi dari santri Pondok Pesantren Aulia Cendikia Palembang, Tari Bali hingga alunan suara merdu dari paduan suara Sekolah Kusuma Bangsa.

Dalam sambutannya, Wakil Ketua PWNU Sumatera Selatan, Isniaini Madani, menegaskan pentingnya menjaga keharmonisan di tengah perbedaan. Menurutnya, keberagaman adalah anugerah terbesar bagi Indonesia.

“Musik dan nyanyian dalam Pesparani bukan sekadar alunan nada atau kompetisi, melainkan media untuk mengagungkan nama Tuhan, memperhalus budi pekerti, serta memancarkan nilai-nilai kasih sayang dan kedamaian,” ujar Isniaini.
Perspektif mendalam juga disampaikan oleh Sekrataris LP3KN, Salman Habeahan. Ia menekankan bahwa ajang Pesparani bukan sekadar panggung kompetisi olah vokal, melainkan ruang pembinaan karakter dan nilai-nilai kebangsaan.
“Dalam sebuah paduan suara, keindahan tidak lahir karena semua orang menyanyikan suara yang sama, tetapi karena setiap suara mengambil bagian dan berpadu secara harmonis. Pembelajaran ini sangat relevan bagi kehidupan berbangsa. Kita perlu belajar menyampaikan pendapat tanpa merendahkan, menegakkan keyakinan tanpa memusuhi, serta memperjuangkan kepentingan bersama tanpa mengabaikan mereka yang berbeda,” tegas Salman.

Ia juga menambahkan apresiasinya atas sinergi yang kuat antara LP3KD dan Pemerintah Daerah dalam membina generasi muda. Menurutnya, Pesparani daerah adalah ruang pelayanan penting untuk menggembleng bakat, disiplin, dan solidaritas umat setempat.
Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Sumsel Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Panji Tjahyanto, yang hadir mewakili Gubernur Sumatera Selatan, dalam sambutannya mengapresiasi tinggi gelaran ini sebagai wadah memperkuat komitmen Sumsel sebagai daerah zero conflict.
“Sumatera Selatan sampai hari ini dikenal sebagai provinsi yang zero konflik. Mari kita jadikan Pesparani sebagai momentum untuk memperkuat persaudaraan sejati, toleransi, dan semangat gotong royong,” tutur Panji sebelum membuka acara.

Usai sambutan, Panji pun membuka rangkaian Pesparani II Provinsi Sumsel dengan memukul gong didampingi Vikjen KAPal, Romo Yohanes Kristianto, Sekretaris LP3KN, Salman Habeahan, Ketua LP3KD Prov. Sumsel, Alphonsus Supardi dan sejumlah tokoh lainnya.
Melalui pelaksanaan Pesparani II ini, seluruh kontingen diharapkan dapat memberikan penampilan terbaiknya dengan menjunjung tinggi sportivitas, sekaligus menjadikan momen ini untuk merawat kedamaian dan kerukunan di Sumatera Selatan.
***Fransiska Panca S
