Peserta Magang Komsos KWI dan UPP Komunikasi KAS Gelar Praktik Produksi Film Pendek tentang Karhutla

YOGYAKARTA – Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI) bekerja sama dengan UPP Komunikasi Keuskupan Agung Semarang (KAS) kembali menggelar program magang bagi para pegiat komunikasi sosial dari berbagai keuskupan di Indonesia. Salah satu peserta magang yang berlangsung selama satu bulan mulai 19 Oktober hingga 18 November 2026 adalah staf Komisi Komsos Keuskupan Agung Palembang, Andreas Setyo Nugroho.

Foto: Dok. Pribadi

Memasuki hari kelima program magang, para peserta menjalani praktik produksi film pendek bertema kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Jumat (23/10/2026). Praktik produksi film ini berlangsung di sekitar lingkungan UPP Komunikasi KAS, Yogyakarta dengan melibatkan aktor profesional, Noel Kefas. Melalui kegiatan ini, para peserta belajar menerjemahkan gagasan menjadi karya audiovisual sekaligus menyampaikan pesan sosial melalui medium film.

Film pendek yang diproduksi mengangkat situasi kehidupan seorang pekerja di tengah bencana karhutla. Cerita tersebut menggambarkan keseharian tokoh yang harus menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan, sekaligus menyoroti ajakan untuk beradaptasi di tengah situasi yang mengancam kehidupan masyarakat.

Foto: Dok. Pribadi

Melalui penggarapan cerita ini, para peserta menunjukkan empati kepada masyarakat yang terdampak karhutla. Empati tersebut diwujudkan melalui upaya memahami situasi korban dan menghadirkannya dalam adegan-adegan film, sehingga penonton dapat melihat persoalan karhutla dari sisi kemanusiaan.

Keterlibatan Noel Kefas sebagai aktor profesional mendukung proses pengadeganan dan penerjemahan naskah ke dalam bahasa visual. Para peserta turut mempraktikkan proses produksi, termasuk pengambilan gambar dan pengelolaan adegan, sebagai bagian dari pembelajaran keterampilan perfilman.

Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengembangkan kemampuan teknis sekaligus kepekaan dalam mengangkat persoalan nyata di tengah masyarakat. Film tidak hanya dipelajari sebagai produk audiovisual, tetapi juga sebagai sarana menyampaikan kritik sosial, membangun kesadaran, dan menghadirkan kepedulian terhadap mereka yang terdampak bencana.

Foto: Dok. Pribadi

Melalui praktik produksi film pada hari kelima magang ini, peserta diharapkan mampu menghasilkan karya komunikasi yang kreatif, kritis, dan berakar pada nilai-nilai kemanusiaan.

***Andreas Setyo Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published.