JAMBI – Memasuki hari kedua gelaran peringatan Hari Pangan Sedunia 2026 di Dekanat Jambi yang dipusatkan di Aula Paroki Santo Gregorius Agung Jambi, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) menggelar sosialisasi intensif untuk menegaskan kembali komitmen membumikan kasih Allah melalui aksi nyata, diakonia, dan kepedulian terhadap keutuhan ciptaan, pada Sabtu (24/10/2026).

Melalui pembekalan yang juga dihadiri sejumlah imam, di antaranya Pastor Paroki St. Gregorius Agung sekaligus Dekan Dekanat Jambi, Romo Felix Astana Atmaja SCJ, Pastor Paroki St. Paulus Muara Bungo, Romo Pankratius Redemptus Boki, dan Romo Antonius Manik ini, seluruh peserta diajak untuk menjadikan nilai-nilai iman bukan sekadar wacana spiritual, melainkan gerakan bersama yang berdampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan hidup.
Gerakan Bersama
Pada sesi pertama, Ketua Komisi PSE KAPal, Romo Laurensius Rakidi menegaskan bahwa keberadaan Komisi PSE tidak boleh dipandang sebatas deretan program kerja seksi di gereja semata.
“Kasih Allah hendaknya tidak berhenti di dalam dinding-dinding gereja saja, melainkan diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari. PSE hadir bukan sekadar program seksi, melainkan sebuah gerakan bersama yang menjadi tanggung jawab kita semua untuk menggerakkan hati dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama serta bumi ciptaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Romo Rakidi juga memaparkan tiga pilar utama PSE yaitu Aksi Puasa Pembangunan (APP), Hari Pangan Sedunia (HPS), dan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang berfungsi sebagai instrumen pertobatan, solidaritas, dan pemberdayaan ekonomi umat. Gerakan ini berakar kuat pada seruan mendiang Paus Fransiskus yang tertuang dalam Ensiklik Laudato Si.
“Suara bumi yang menderita dan suara orang miskin adalah representasi dari suara Allah di dunia saat ini. Kita dipanggil untuk melakukan pertobatan ekologis, mengubah gaya hidup demi merawat kelestarian dan menjaga keilahian ciptaan-Nya,” tambahnya.
Langkah Strategis
Melengkapi paparan tersebut, sesi kedua menghadirkan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jambi, Evridal Asri. Ia memaparkan langkah-langkah strategis dan taktis dalam menghadapi ancaman krisis pangan global, perubahan iklim, dan pentingnya konservasi lahan. Menurutnya, sektor pertanian dan pengelolaan lingkungan harus mulai digerakkan dari unit terkecil masyarakat.

“Di tengah ancaman krisis pangan global dan perubahan iklim, kita perlu membangkitkan kembali semangat swasembada melalui gerakan ‘Ayo Menanam’ dan penerapan urban farming. Pemanfaatan pekarangan rumah di kawasan perkotaan menjadi kunci penting ketahanan pangan keluarga,” jelas Evridal.
Ia juga mengajak umat untuk lebih peduli pada pengelolaan sampah organik rumah tangga melalui teknologi sederhana seperti lubang resapan biopori.
“Pembuatan lubang biopori di pekarangan terbukti mampu mengurangi hingga 60 % volume sampah organik yang ada. Biopori bukan hanya meresap air dan menyuplai unsur hara bagi tanah, tetapi hasilnya bisa langsung dimanfaatkan sebagai pupuk kompos untuk budidaya tanaman kita,” tambahnya.

Kegiatan sosialisasi yang diakhiri dengan sesi foto bersama ini membawa harapan besar agar seluruh umat dapat bergerak bersama mewujudkan pertobatan ekologis dalam tindakan sehari-hari, selalu berpihak pada kaum miskin, serta membangun Gereja yang inklusif, partisipatif, dan mandiri demi kelestarian bumi ciptaan Allah.
***Lisbet Theresa Pakpahan (Komsos Paroki St. Gregorius Agung)
