Renungan Harian, 12 September 2025

1 Timotius 1:1–2,12–14; Mazmur 16:1–2a,5,7–8,11;

Lukas 6:39–42; BcO: Hosea 4:1–10; 5:1–7; (H)

Belajar Rendah Hati

Berani mengakui lemah | Foto: Pinterest

Saudara-saudari terkasih, hari ini penginjil Matius menampilkan Yesus yang mengajar para murid-Nya dengan sebuah perumpamaan. Yesus memakai perumpamaan agar ajaran-Nya lebih mudah dipahami oleh para murid dan semua yang mendengarkan. Dalam perumpamaan ini, Yesus mengingatkan bahwa mencari kelemahan orang lain sering kali jauh lebih mudah daripada menyadari kelemahan diri sendiri. Hampir semua orang bisa melakukannya, bahkan sering dikatakan bahwa kita lebih cepat melihat kesalahan orang lain daripada mengakui kesalahan kita sendiri. Inilah kenyataan hidup: kita mudah merasa lebih benar, lebih baik, atau lebih kuat dari sesama. Sikap ini menunjukkan adanya egoisme dan kesombongan dalam diri kita. Tidak banyak orang yang berani jujur mengakui bahwa dirinya lemah dan membutuhkan pertolongan. Karena itu, kita perlu belajar tiga hal: melihat, menyadari, dan mengakui kekurangan kita sendiri.

Yesus bertanya, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?” Pertanyaan ini begitu menusuk hati kita. Manusia memang cenderung sibuk memperhatikan kekurangan kecil orang lain, tetapi menutup mata terhadap kelemahan besar dalam dirinya sendiri. Kita sering merasa lebih hebat dari orang lain, padahal kenyataannya kita pun lemah. Bahkan ketika menyadarinya, kita sering takut untuk mengakuinya. Perbedaan antara selumbar dan balok menunjukkan bahwa kelemahan kita sering kali justru lebih besar daripada yang kita lihat pada sesama.

Melalui Injil hari ini, Yesus mengajak kita berani melihat, menyadari, dan mengakui kelemahan diri sendiri. Setelah itu, kita diminta untuk berusaha memperbaikinya dengan cara yang benar, bukan menjadikan kelemahan itu sebagai alasan untuk merendahkan orang lain. Kita percaya bahwa bila segala usaha kita diserahkan kepada Tuhan, Ia akan menolong kita. Dengan pertolongan-Nya, kita mampu memperbaiki diri tanpa harus sibuk mencari-cari kesalahan sesama.

Kehadiran kita di dunia bukanlah untuk saling menjatuhkan, melainkan untuk saling melengkapi dan menguatkan. Allah tidak menciptakan kita sempurna, tetapi Ia menempatkan kita dalam kebersamaan agar kita belajar saling mengasihi dan menutupi kekurangan satu sama lain.

Mari kita mohon rahmat Tuhan agar kita selalu hidup dalam kasih-Nya, berani jujur melihat diri sendiri, dan setia saling menguatkan dalam perjalanan hidup ini. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita.

**Fr. Ignasius Seda

Tingkat 1Calon imam KAPal

Leave a Reply

Your email address will not be published.