Hari Sabtu Imam
Yes 30:19-21.23-26; Mzm 147:1-2.3-4.5-6; Mat 9:35-10:1.6-8; BcO Yes. 21:6-12; (U)

Diutus untuk Melayani
Saudara-saudari terkasih, dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai banyak orang yang menderita dan membutuhkan bantuan. Ketika menghadapi situasi seperti itu, apa yang biasanya kita lakukan? Apakah kita tergerak membantu, atau justru bersikap acuh tak acuh? Injil hari ini mengisahkan Yesus yang berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajar, mewartakan Kerajaan Allah, dan menyembuhkan berbagai penyakit. Dari kisah ini, ada tiga peristiwa penting yang dapat kita renungkan.
Pertama, Yesus berkeliling sambil mengajar, memberitakan Injil, dan menyembuhkan banyak orang. Ini menunjukkan bahwa kasih yang Ia wartakan bukan hanya kata-kata, tetapi terwujud dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi banyak orang. Melalui teladan ini, Yesus mengajak kita untuk berani mewujudkan kasih Allah dalam bentuk konkret bagi mereka yang ada di sekitar kita.
Kedua, Yesus digerakkan oleh belas kasihan ketika melihat banyak orang yang menderita, lalu Ia berkata bahwa tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit. Kasih adalah dasar dari gerakan hati ini. Saat ini jumlah umat Katolik terus bertambah, namun tidak banyak yang tergerak untuk menyerahkan diri menjadi pelayan khusus di kebun anggur Tuhan: imam, biarawan, atau biarawati. Karena itu, kita diundang untuk membuka hati, menjadi peka, dan rela berkorban dalam panggilan pelayanan sesuai talenta kita masing-masing.
Ketiga, Yesus memanggil, melengkapi, dan mengutus para murid-Nya. Ini menegaskan bahwa setiap murid Yesus juga dipanggil untuk berkarya bagi sesama. Yesus telah memberi kita kemampuan untuk melayani. Kita memang tidak selalu diminta melakukan hal-hal besar, tetapi melalui hal-hal kecil yang kita lakukan dengan kasih bagi orang yang membutuhkan, kita sudah mengambil bagian dalam pelayanan Kristiani yang sejati.
Saudara-saudari terkasih, apa pun yang kita miliki adalah pemberian Tuhan. Karena itu, kita tidak boleh berhenti hanya sebagai penerima berkat. Kita juga diutus untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Yose Manurung-Tingkat 1
Foto: Pinterest
