Renungan Harian Kamis, 11 Desember 2025

Yes 41:13-20; Mzm 145:1.9.10-11.12-13ab; Mat 11:11-15; BcO Yes. 26:7-21; (U)

Harapan yang hidup.

Bertumbuh dalam Harapan

Saudara-saudari terkasih, Masa Adven selalu membawa kita pada suasana penantian yang penuh harap. Di tengah hiruk-pikuk hidup, kesibukan, bahkan kelelahan batin, Adven datang sebagai waktu yang lembut namun tegas, mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak pernah jauh. Ia sedang datang, dan Ia tidak membiarkan umat-Nya berjalan sendirian. Yesaya menuliskan pesan Tuhan yang penuh kasih: “janganlah takut Akulah yang akan menolong engkau.” Kata-kata ini bukan sekadar janji kosong, di tengah kekeringan hidup, Allah menumbuhkan kehidupan baru, di tengah dunia yang tampak gersang oleh dosa, kebencian, dan ketidakadilan, Ia datang membawa air hidup dan pengharapan.

Dalam kisah Injil hari ini Yesus berbicara tentang Yohanes Pembaptis, yang disebut-Nya sebagai “yang terbesar di antara mereka yang dilahirkan oleh Perempuan.” Yohanes adalah sosok yang dengan tegas menyiapkan jalan bagi Tuhan. Ia hidup dalam kesederhanaan dan keberanian, berseru di padang gurun agar manusia bertobat dan membuka hati bagi Sang Mesias yang akan datang. Kadang hati kita seperti padang gurun kering karena kesibukan, dingin karena luka, atau keras karena ego. Namun justru di sanalah Tuhan ingin datang dan berkarya. Seperti yang dijanjikan dalam Yesaya, Ia ingin membuat mata air mengalir di tanah kering hidup kita, agar kita kembali menemukan sukacita sejati.

Adven bukan hanya menantikan kelahiran Yesus di Betlehem, melainkan juga menyiapkan hati bagi kehadiran-Nya setiap hari. Saat kita merasa lemah dan tidak berdaya, Tuhan berkata, “Jangan takut, Aku menolong engkau.” Saat kita merasa tidak layak, Ia berkata, “Aku menebus engkau.” Dan saat kita merasa hidup ini tak lagi berwarna, Ia menumbuhkan pohon-pohon harapan di tanah hati yang tandus.

Yohanes Pembaptis mengingatkan kita bahwa kedatangan Kristus tidak bisa disambut dengan hati yang tertutup. Ia harus disambut dengan pertobatan dan kesiapan untuk berubah. Pertobatan bukan sekadar meninggalkan dosa, tetapi membuka diri agar kasih Allah mengubah kita sedikit demi sedikit. Seperti padang gurun yang perlahan menjadi taman, demikian pula hidup kita bisa menjadi tempat di mana kasih Tuhan tumbuh dan memberi kehidupan bagi sesama. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.


**Fr Yohanes Jumadi-Tingkat 4

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.