Komunitas Misa Komsos Kunjungi Paroki Sang Penebus Batuputih: Menapaki Jejak Iman di Tanah Ogan

Setelah melaksanakan bakti sosial di Panti Asuhan Rumah Yusuf Baturaja pada Sabtu  (6/12/2025) siang, rombongan Komunitas Misa Komsos Keuskupan Agung Palembang melanjutkan perjalanan menuju Paroki Sang Penebus Batuputih. Kunjungan ini dilakukan pada Sabtu sore sebagai bagian dari rangkaian kegiatan komunitas misa komsos. Setibanya di halaman gereja, rombongan disambut hangat oleh Pastor Paroki, Romo Silvester Joko Susanto, bersama Frater Yonathan Galih Pratama dan beberapa anggota Dewan Pastoral Paroki (DPP).

Rombongan laki-laki foto bersama di depan Gereja Paroki Sang Penebus Batuputih. | Foto: Komsos KAPal

Gereja Paroki Sang Penebus Batuputih dikenal sebagai salah satu paroki tertua di Sumatera Selatan, dengan sejarah iman yang unik dan berbeda dari daerah lain. Dalam pemaparan yang diberikan oleh Romo Joko, ia menegaskan bahwa iman umat di Batuputih tidak lahir dari kedatangan misionaris seperti banyak wilayah lainnya, tetapi tumbuh dari panggilan hati berdasarkan ajaran seorang tokoh Muslim, Kyai Mohammad Said, yang berasal dari Sarang Elang, Ogan Komering Ilir (OKI). Ajarannya tentang kebenaran dan pencarian iman menggerakkan empat tokoh utama di Batuputih untuk mencari agama Kristen, yaitu Abdul Hulik, Damseh, Idrus Alwie, dan Alisunni.

Keempat tokoh tersebut kemudian menemui Residen Belanda yang berkedudukan di Baturaja, Tuan Luyks, untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai agama Kristen. Ketika ditanya tentang Kristen mana yang ingin mereka peluk, dalam ketidaktahuan namun dipenuhi bimbingan Roh Kudus, mereka menjawab, “Kristen yang tertua.” Jawaban ini mengarahkan Tuan Luyks untuk menghubungkan mereka dengan imam Katolik yang bertugas di Palembang. Pada 16 Maret 1948 pukul 08.00 pagi, datanglah seorang imam bernama Romo Theodorus Borst, SCJ, ke Batuputih untuk memberikan pengajaran. Buah dari pengajaran itu tampak jelas ketika pada 31 Oktober 1948, sebanyak 24 orang dari empat keluarga dibaptis. Tanggal ini kemudian dikenang sebagai hari kelahiran Gereja Katolik di Tanah Ogan. Demikian disampaikan oleh Romo Joko.

Pastor Paroki Sang Penebus Batuputih, Romo Silvester Joko Susanto. | Foto: Komsos KAPal

Selain itu, mewakili umat Batuputih, Daniel Susanto turut memperkaya kisah mengenai sejarah awal Gereja Katolik di Batuputih. Ia menuturkan bahwa umat pada masa awal menghadapi banyak tantangan dan tekanan berupa gosip atau kabar bohong yang berusaha melemahkan iman mereka. Salah satu gosip yang kala itu tersebar adalah bahwa makam orang Katolik dapat “meletus” karena dianggap menentang agama lain. Walau demikian, umat tetap setia dan bertahan dalam iman, hingga benih iman yang mereka perjuangkan tumbuh subur seperti yang terlihat hari ini. Bapak Santo juga menambahkan bahwa hingga kini belum ada imam Katolik yang lahir dari suku Ogan, dan ia memohon doa agar calon imam pertama dari suku tersebut, Frater Markus Trio Agustra, dapat dipersiapkan dengan baik untuk menerima tahbisan di tahun mendatang.

Bapak Daniel Susanto salah satu umat di Batuputih. | Foto: Komsos KAPal

Pada kesempatan yang sama, Romo Titus Jatra Kelana, yang pernah berkarya sebagai Pastor Paroki Sang Penebus Batuputih turut berbagi kisah mengenai pembangunan ulang gereja paroki. Ia menceritakan bagaimana suatu ketika, saat merayakan Misa Jumat Pertama, hujan deras mengguyur dan air tiba-tiba menetes dari atap gereja, jatuh tepat di tengah altar. Koster terpaksa mengambil baskom dan meletakkannya di altar, sementara Romo Jatra melanjutkan perayaan di sisi altar agar liturgi tetap berjalan dengan khidmat. Pengalaman tersebut mendorong umat dan pastor untuk memulai proses renovasi besar demi kenyamanan dan kekhidmatan ibadah.

Romo Jatra juga menjelaskan bahwa gereja yang berdiri sekarang sarat dengan simbol-simbol Katolik yang memaknai sejarah dan spiritualitas umat setempat. Sepuluh tiang utama dari bangunan gereja lama tetap dipertahankan sebagai lambang sepuluh lingkungan yang ada di paroki. Bagian panti imam dihiasi ornamen yang melambangkan Lima Pilar Gereja dan Sepuluh Perintah Allah. Selain itu, empat tiang utama di bagian depan gereja menggambarkan empat wilayah pelayanan Paroki Batuputih. Simbol-simbol ini tidak hanya memperindah bangunan, tetapi menjadi pengingat akan perjalanan iman umat yang telah diwariskan lintas generasi.

Romo Titus Jatra Kelana membagikan sejarah direnovasinya gereja lama. | Foto: Komsos KAPal

Kunjungan sore itu diakhiri dengan ramah-tamah sederhana namun penuh kehangatan. Setelah menikmati makanan sederhana, rombongan diarahkan untuk bergerak menuju Gua Maria Bunda Sang Penebus yang menjadi satu kompleks dengan pemakaman Katolik. Di kompleks tersebut, empat tokoh utama Gereja Batuputih juga dimakamkan secara berdampingan.

Kunjungan ini menjadi kesempatan berharga untuk menapak kembali jejak iman yang kaya dan penuh perjuangan di Tsanah Ogan. Semangat sejarah, ketekunan umat, dan perhatian pastoral yang ditunjukkan dalam perjumpaan ini menjadi inspirasi bagi seluruh peserta untuk terus menabur kasih dan memelihara iman di tengah dunia yang terus berubah.

**Fr. Bednadetus Aprilyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published.