Renungan Minggu, 4 Januari 2026

HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN, Hari Anak Misioner

Yes. 60:1-6; Mzm. 72:1-2,7-8,10-11,12-13; Ef. 3:2-3a,5-6; Mat. 2:1-12; BcO Yes 60:1-22; (P)

Para Majus dari timur.

Jadilah Terang

Saudara-saudari yang terkasih, hari ini Gereja merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan atau Epifani yang mengajak kita untuk merenungkan satu kebenaran penting yaitu: Allah menampakkan diri-Nya bukan hanya kepada satu bangsa, tetapi kepada seluruh dunia. Kelahiran Yesus bukanlah peristiwa tersembunyi yang hanya untuk orang-orang tertentu, melainkan terang yang bersinar bagi semua bangsa, semua budaya, dan semua zaman termasuk zaman kita sekarang.

Nabi Yesaya dengan penuh harapan berseru “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang.” Seruan ini disampaikan kepada bangsa yang sedang lemah, terluka, dan kehilangan arah. Namun justru dalam kegelapan itulah Allah menjanjikan terang. Terang itu bukan hasil usaha manusia, melainkan anugerah Allah sendiri. Yesus Sang Terang itu hadir sebagai Raja yang melayani. Ia menampakkan Allah yang berpihak pada kehidupan, martabat manusia, dan keadilan sosial.

Rasul Paulus menegaskan bahwa keselamatan Allah kini dinyatakan kepada semua bangsa. Di zaman modern yang masih ditandai oleh diskriminasi, fanatisme, dan sikap eksklusif, Gereja dipanggil menjadi saksi bahwa Allah tidak membeda-bedakan manusia. Puncaknya kita temukan dalam kisah para Majus. Mereka adalah orang asing yang tekun mencari kebenaran. Mereka berani meninggalkan kenyamanan, mengikuti bintang, dan akhirnya menemukan Kristus. Allah sering menampakkan diri kepada mereka yang mau mencari dengan hati tulus, bukan kepada mereka yang merasa sudah tahu segalanya.

Saudara saudari yang terkasih, Epifani mengajak kita bertanya: menjadi seperti siapakah kita hari ini? Seperti orang Majus yang terus mencari terang atau seperti Herodes yang takut kehilangan kenyamanan? Di tengah dunia digital dewasa ini dengan arus informasi yang begitu deras, kita dipanggil bukan hanya untuk melihat terang Kristus, tetapi juga menjadi terang itu sendiri: menggunakan media sosial dengan bijak, bersikap adil, peduli, jujur, dan penuh belas kasih.

Kita boleh berlajar dari para Majus yang pulang melalui jalan lain setelah  berjumpa dengan Yesus. Perjumpaan itu telah mengubah perjalanan dan arah hidup mereka. Semoga perayaan ini mendorong kita untuk berani berjalan di jalan baru, yaitu jalan kasih yang benar dan penuh harapan, agar dunia boleh melihat terang Kristus melalui hidup kita. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kitas semua.

**Fr. Petrus Bagul-Tingkat IV

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.