Wajah Baru Biara Charitas Santa Maria Degli Angeli Klepu, Yogyakarta: Buah Doa dan Pelayanan

“Biara adalah ruang rohani tempat Allah berdiam dan manusia belajar tinggal bersama-Nya. Di sanalah doa dilantunkan secara setia, keheningan dipelihara dengan penuh kesadaran, dan relasi antarsesama dirawat dalam semangat kasih. Dari kehidupan doa yang setia itulah, lahir kekuatan rohani yang tidak hanya meneguhkan komunitas di dalam biara, tetapi juga mengalir keluar sebagai pelayanan kasih bagi Gereja dan masyarakat.”

Demikian diungkapkan oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko dalam homilinya pada Perayaan Ekaristi Pemberkatan dan Peresmian Biara Charitas Santa Maria Degli Angeli Klepu, Sendangmulyo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta pada Sabtu (3/1/2026) pagi. Tampak hadir mendampingi sebagai konselebran adalah Uskup Emeritus Keuskupan Agung Palembang, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, Vikaris Episkopal (Vikep) Yogyakarta Barat, Romo Alfonsus Rodriguez Yudono Suwondo, dan Romo Tarcisius Insaf Santoso.

Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko memimpin Perayaan Ekaristi Pemberkatan dan
Peresmian Biara Charitas Santa Maria Degli Angeli Klepu.
| Foto: Dok. Charitas Klepu

Lebih lanjut, dalam perayaan yang dihadiri Pimpinan Umum Kongregasi Suster St. Fransiskus Charitas (FCh), Sr. M. Patricia FCh dan Ketua Yayasan Rumah Sakit Charitas, Sr. M. Henrika FCh ini, Mgr. Robertus juga menekankan bahwa doa merupakan sumber daya rohani untuk meneguhkan komunitas dan pelayanan. Biara dipanggil menjadi tempat di mana sukacita sejati bertumbuh bukan sukacita yang lahir dari hiruk-pikuk, melainkan sukacita yang mengalir dari kedalaman relasi dengan Tuhan. Dari sukacita yang berakar pada doa inilah, pelayanan nyata dilahirkan dan diteguhkan.

Pimpinan Umum Kongregasi Suster St. Fransiskus Charitas (FCh), Sr. M. Patricia FCh dan
Ketua Yayasan Rumah Sakit Charitas, Sr. M. Henrika FCh tampak hadir dalam perayaan Ekaristi.
| Foto: Dok. Charitas Klepu

Mengakhiri homilinya, Bapa Uskup mengajak seluruh umat, khususnya Keluarga Besar Charitas, untuk mengarahkan perhatian pada pelayanan Kongregasi FCh kepada orang sakit melalui pelayanan di Rumah Sakit Charitas Klepu. Ia mengingatkan bahwa karya pelayanan di Klepu berawal dari rumah sakit yang kecil dan sederhana yang kini telah bertumbuh dan berkembang menjadi rumah sakit yang besar dan representatif. “Perkembangan itu bukan semata hasil kemajuan fasilitas, melainkan buah dari doa yang setia dan semangat pelayanan yang terus diperbarui,” tegasnya.

Usai homili, perayaan dilanjutkan dengan upacara pemberkatan biara, mulai dari pemberkatan altar, salib, arca Bunda Maria dan Santo Fransiskus, serta seluruh ruang biara. Upacara ini menjadi tanda bahwa seluruh aspek hidup harian komunitas diserahkan kepada Tuhan, sehingga biara menjadi rumah yang utuh, tempat doa dan kerja, istirahat dan kebersamaan yang dijalani dalam terang iman dan kehadiran Allah.

Usai Perayaan Ekaristi, suasana syukur berlanjut dalam peresmian biara yang ditandai dengan pemotongan tumpeng, penandatanganan prasasti, dan  pengguntingan pita oleh Sr. M. Patricia FCh dan Mgr. Robertus Rubiyatmoko.

Pimpinan Umum Kongregasi Suster St. Fransiskus Charitas (FCh), Sr. M. Patricia FCh menandatangai prasasti peresmian.
| Foto: Dok. Charitas Klepu

Dalam sambutannya, Vikep Yogyakarta Barat, Romo Wondo, demikian ia biasa disapa, menyampaikan kesan dan harapannya. “Begitu masuk, terasa sebagai biara yang terbuka suasananya,” tuturnya. Keterbukaan itu, menurutnya, tidak hanya tampak dari tata bangunan, tetapi terutama dari roh yang hendak dihidupi. “Semoga biara ini menjadi tempat di mana banyak orang mengalami kelegaan dan sukacita ruang yang menyambut, menenangkan, dan memulihkan,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan oleh Pemimpin Umum Kongregasi FCh, Sr. M. Patricia FCh. Dalam sambutannya, ia menuturkan bahwa berdirinya biara ini merupakan buah syukur atas kesetiaan Tuhan dan kerja sama banyak pihak. “Biara ini diharapkan menjadi rumah tempat para suster terus dibentuk dalam doa, kesederhanaan, dan persaudaraan. Dari kehidupan komunitas yang berakar pada Ekaristi dan doa, lahirlah sukacita yang otentik sukacita yang tidak disimpan untuk diri sendiri, tetapi dibagikan dalam pelayanan,” ungkapnya.

Anggota komunitas Biara Charitas Santa Maria Degli Angeli Klepu.
| Foto: Dok. Charitas Klepu

Sr. Patricia juga menegaskan bahwa biara sebagai rumah doa bukanlah tempat untuk menarik diri dari dunia, melainkan sumber kekuatan untuk hadir di tengah dunia dengan hati yang penuh kasih. Biara ini diharapkan menjadi sumber daya rohani yang menopang perutusan Kongregasi, sekaligus menjadi tanda harapan bagi siapa pun yang datang dan singgah.

Pemberkatan dan Peresmian Biara Charitas Klepu menjadi peristiwa iman yang meneguhkan kembali makna biara sebagai rumah doa dan sumber sukacita. Dari keheningan doa yang dipelihara, dari Ekaristi yang dirayakan, dan dari keterbukaan yang dihidupi, biara ini diharapkan memancarkan sukacita yang menguatkan bagi komunitas, Gereja, dan masyarakat luas.

**Laporan Sr. M. Petri FCh dan Sr. M. Teresa FCh dari Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published.