Lawan Human Trafficking: Paroki Sanfrades Suarakan Martabat Manusia Lewat Seminar dan Doa Bersama

Gereja Katolik tidak boleh hanya diam dan merasa aman sendiri di tengah ancaman kejahatan kemanusiaan yang nyata. Semangat inilah yang menggerakkan Paroki St. Fransiskus de Sales (Sanfrades) Palembang untuk menggelar seminar dan doa bersama lintas generasi guna melawan praktik Human Trafficking atau perdagangan manusia.

Tema seminar yang diselenggarakan oleh Paroki St. Fransiskus de Sales. | Foto: Komsos Paroki Sanfrades

Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (1/2/2026) pagi, di aula Paroki Sanfrades ini mengangkat tema besar: “Peace Begins with Dignity: A Global Call to End Human Trafficking”. Acara ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan bentuk dukungan terhadap program prioritas Keuskupan Agung Palembang dan Hari Doa Internasional Melawan Perdagangan Manusia yang jatuh setiap 8 Februari, bertepatan dengan peringatan Santa Josephine Bakhita, pelindung para korban perdagangan manusia.

Gereja Tidak Boleh Merasa Aman Sendiri

Ketua DPP Sanfrades, Yulius Sukamto, membuka acara dengan ajakan agar seluruh umat ambil bagian dalam gerakan pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Ajakan itu dipertegas oleh Pastor Paroki, Romo Petrus Haryanto SCJ.  Dalam sambutannya imam dehonian ini menegaskan bahwa perdagangan manusia bukanlah isu yang jauh dari keseharian umat. Menurutnya, praktik ini sering tumbuh subur dalam “budaya diam”, relasi yang tidak setara, dan kurangnya kepedulian terhadap sesama.

Pastor Paroki Sanfrades, Romo Petrus Haryanto SCJ. | Foto: Komsos Paroki Sanfrades

“Jika ada orang di sekitar yang hidup dalam ancaman atau penderitaan, Gereja tidak boleh bersikap acuh,” tegas Romo Haryanto.

Seminar ini, menurutnya adalah momen penting untuk belajar bersama, saling menjaga, dan membangun kepedulian mulai dari keluarga dan lingkungan terdekat.

Kesetaraan Gender: Martabat yang Sama sebagai Citra Allah

Menghadirkan Sr. M. Margaretha FCh dari Talitha Kum Indonesia sebagai narasumber, seminar ini membedah akar kerentanan korban.

Dalam sesi pertama, ia menjelaskan perbedaan antara seks (kondisi biologis) dan gender (peran sosial yang dibentuk budaya). Ia menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan setara sebagai citra Allah, namun realitas sosial menunjukkan masih banyak ketidakadilan gender.

Sr. M. Margaretha FCh. | Foto: Komsos Paroki Sanfrades

Bentuk ketidakadilan itu antara lain subordinasi perempuan, stereotip negatif, dan beban peran ganda yang tidak seimbang. Situasi ini membuat perempuan dan anak menjadi kelompok paling rentan terhadap eksploitasi dan perdagangan manusia. Keluarga menurutnya harus menyadari perannya sebagai tempat pertama untuk menanamkan nilai kesetaraan, saling menghormati, dan perlindungan terhadap martabat manusia.

Realitas TPPO

Ketua Komisi Gender dan Pemberdayaan Perempuan (KGPP) Keuskupan Agung Palembang ini juga mengajak peserta untuk memahami realitas TPPO di Indonesia yang terus meningkat. Korban umumnya berasal dari kelompok rentan, terutama perempuan dan anak, dengan latar belakang kemiskinan, rendahnya pendidikan, lemahnya norma sosial, serta penyalahgunaan teknologi digital.

Berbagai modus dijelaskan, mulai dari tawaran kerja palsu di media sosial, pekerja migran ilegal, pekerja rumah tangga, anak buah kapal, hingga eksploitasi anak. Banyak korban terjebak karena tergiur janji gaji besar tanpa memiliki bekal literasi digital dan keberanian untuk memverifikasi informasi.

Dari Doa Menuju Aksi Nyata

Kegiatan ini ditutup dengan doa bersama melalui perantaraan Santa Josephine Bakhita. Umat pun diajak untuk tidak hanya berhenti pada doa, tetapi berani menjadi “Pewarta Sukacita” dengan tindakan nyata: melindungi keluarga, waspada terhadap situasi mencurigakan, dan berani melapor.

Doa bersama dengan perantaraan Santa Josephine Bakhita. | Foto: Komsos Paroki Sanfrades

Melalui momen ini, Paroki Sanfrades mengingatkan kembali bahwa perdamaian sejati hanya bisa terwujud jika martabat setiap manusia dijunjung tinggi.

*** (Herman Yosef dan Christian Yudha – Komsos Paroki Sanfrades)

Leave a Reply

Your email address will not be published.