
Perayaan Ekaristi pembuka Hari Studi Imam digelar di Wismalat Podomoro, Selasa (3/3) pukul 06.00 WIB. Perayaan tersebut dipimpin oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono dan didampingi sejumlah imam.
Dalam homilinya, Mgr. Yohanes yang akrab disapa Mgr. Yu menekankan pentingnya semangat belajar bagi para imam, khususnya dalam hal berbuat baik dan membangun kepedulian terhadap sesama. Ia mengajak para imam untuk berani memulai dari “nol” dalam memperdalam bela rasa dan pelayanan pastoral.
“Belajar berbuat baik harus dimulai sekarang, karena pada dasarnya kita tidak pernah tahu segalanya. Kita belajar terus-menerus,” ujarnya.

Menurutnya, memulai dari nol memang tidak mudah. Tanpa modal ketulusan dan niat untuk belajar, seseorang akan tertatih dalam menjalankan pelayanan. Namun, jika sudah memiliki dasar bela rasa, maka proses memperdalam kepedulian terhadap sesama akan menjadi kekuatan dalam menjalankan tugas sebagai gembala umat.
Ia juga menyinggung pentingnya memperdalam konsep paroki tanggap bencana sebagai wujud nyata kepedulian Gereja. Upaya tersebut, kata dia, perlu dibangun dari semangat bela rasa yang terus ditingkatkan.

Dalam refleksinya, Mgr. Yohanes mencontohkan kerendahan hati Tuhan yang, meskipun memiliki kedudukan tinggi, rela merendahkan diri dan duduk sejajar dengan umat-Nya. Sikap tersebut dinilai menjadi teladan bagi para imam dalam menjalankan pelayanan.
“Kalau kita sombong, kita tidak akan dihormati. Tetapi kalau kita tulus melayani umat tanpa pamrih, umat akan menghargai kita,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa ketulusan hati dalam melayani akan menghadirkan kedamaian, sekaligus menjadi sarana bagi Tuhan untuk melengkapi setiap kekurangan pelayan-Nya. Mgr. Yohanes juga mengingatkan agar para imam melakukan refleksi diri, sehingga kehadiran mereka sungguh menjadi berkat bagi umat.
Mengakhiri homilinya, Mgr. Yohanes kembali menegaskan komitmen untuk terus belajar dalam kebaikan.
“Kita belajar berbuat baik, belajar terus-menerus,” tandasnya.
***Yuyuani Daro
