Yer. 11:18-20; Mzm. 7:2-3,9bc-10,11-12; Yoh. 7:40-53; BcO Bil. 11:4-6,10-33; (U)

Berani Berpihak pada Kebenaran
Saudara-saudarai terkasih, masa Prapaskah mengajak kita menatap perjalanan Yesus menuju salib, sebuah rute yang penuh penolakan. Kita diingatkan melalui kisah Nabi Yeremia bahwa menyuarakan kebenaran sering kali membuat kita tidak populer, bahkan terancam. Yeremia merasa seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian karena dikhianati orang-orang terdekatnya. Namun, ia memberi teladan penting: saat dunia mencoba membungkam kita, jangan berputus asa, melainkan serahkanlah segala perkara kepada Tuhan yang maha tahu.
Pengalaman Yeremia adalah bayangan dari apa yang dialami Yesus. Dalam Injil, kita melihat orang-orang terpecah; ada yang percaya, namun banyak yang menolak karena terjebak pada prasangka asal-usul. Mereka menyepelekan Yesus hanya karena Ia dari Galilea. Ini menjadi teguran keras bagi kita: sering kali kita pun menutup mata terhadap kebenaran hanya karena pembawa pesannya tidak sesuai dengan standar atau selera pribadi kita.
Di tengah arus penolakan itu, muncul sosok Nikodemus yang berani bersuara meski risikonya dicemooh. Ia tidak langsung membela Yesus secara frontal, tapi ia berani menunjukkan ketidakadilan yang sedang terjadi. Nikodemus mengajarkan kita bahwa iman butuh keberanian untuk tidak sekadar ikut-ikutan. Terkadang, Tuhan tidak meminta kita melakukan hal besar, melainkan keberanian kecil untuk meluruskan sesuatu yang salah di lingkungan kita.
Mari kita jujur pada diri sendiri di masa pertobatan ini. Berapa kali kita “menolak” Yesus lewat sikap acuh tak acuh? Kita mungkin rajin beribadah, tapi memilih diam seribu bahasa ketika melihat ketidakadilan di depan mata karena takut dikucilkan atau kehilangan kenyamanan. Kita tahu apa yang benar, tapi sering kali nyali kita menciut saat harus membela mereka yang lemah di tempat kerja, keluarga, atau masyarakat.
Prapaskah mengingatkan kita bahwa jalan salib tidak pernah sia-sia. Yeremia dikuatkan, Nikodemus akhirnya berani tampil terbuka, dan Yesus bangkit dalam kemuliaan. Mari kita gunakan waktu ini untuk menumbuhkan keberanian iman. Beranilah untuk tidak sekadar hanyut terbawa arus, beranilah hidup sesuai iman walau harus berbeda, dan percayalah bahwa Tuhan selalu berdiri di sisi mereka yang teguh memegang kebenaran. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Clementio Simanullang-Tingkat IV
Foto: Pinterest
