HARI MINGGU PRAPASKAH V
Yeh. 37:12-14; Mzm. 130:1-2,3-4ab,4c-6,7-8; Rm. 8:8-11; Yoh. 11:1-45 (panjang) atau Yoh. 1:3-7,17,20-27,33b-45 (singkat). BcO Bil. 12:1-15.

Percaya Saat Harapan Tampak Mati
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita memasuki Hari Minggu Prapaskah kelima. Barangkali, kita pernah merasa “kok doa-doaku nggak dijawab, ya sama Tuhan”. Perasaan itu akhirnya membuat kita kecewa pada Tuhan sampai merasa “Tuhan nggak sayang lagi padaku”. Kita protes sama Tuhan: “Ke mana saja Engkau, Tuhan? Mengapa Engkau datang saat semuanya sudah terlambat?”. Itulah ungkapan hati Marta saat meratapi kematian Lazarus. Apakah Marta kurang beriman? Tentu tidak. Marta adalah orang beriman, namun imannya sedang goyah karena kenyataan pahit di depan mata.
Saudara-saudari yang terkasih, saat hendak pergi ke tempat Lazarus yang sudah mati, Yesus mengatakan sesuatu yang mengejutkan “…tetapi, syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar PERCAYA (Yoh 11:14)”. Perkataan Yesus itu hendaknya menyadarkan kita bahwa “PERCAYA” adalah kata yang sangat mudah diucapkan, tetapi tidak semudah itu menghidupinya. Dari Marta kita belajar bahwa PERCAYA itu bukan sekadar “tahu” bahwa Tuhan sanggup, melainkan berani “bersandar-menyerahkan diri” ketika harapan tampak mati. Jaminannya adalah pribadi Yesus sendiri.
Yesus menegaskan siapa diriNya kepada Marta “Akulah kebangkitan dan hidup…” (Yoh 11:25). Percayakah kita akan perkataan Yesus itu? Tentu, sebagai orang beriman, kita akan menjawab “Ya, Tuhan, aku percaya”. Namun, melalui peristiwa kematian Lazarus ini, Yesus mengajak kita untuk memaknai kata PERCAYA itu lebih dalam. PERCAYA berarti berani mengizinkan Tuhan bekerja, justru saat kita merasa semuanya sudah berakhir. Percaya bukan berarti menyangkal kenyataan bahwa masalah itu ada, tetapi meyakini bahwa Yesus selalu ada untuk menemani dan menuntun langkah hidup kita. PERCAYA berarti kita mau menyerahkan seluruh hidup kita ke dalam tanganNya yang penuh kasih.
Lantas, bagaimana mewujudkan iman itu secara nyata? Di penghujung masa Prapaskah ini, saat kita bersiap memasuki Pekan Suci, marilah kita wujudkan iman kita dengan sikap yang benar. Rasul Paulus memberikan contoh tentang sikap iman yang benar itu, yakni berani meninggalkan “hidup dalam daging” dan mulai “hidup dalam Roh”.
Ketika kita memilih untuk menahan jempol agar tidak mengetik komentar pedas di grup WhatsApp saat ada yang memancing emosi, dan justru memilih mendoakannya, itu hidup dalam Roh. Ketika kita memilih memberi saat kita sendiri kekurangan, itu hidup dalam Roh. Ketika kita tetap tersenyum dan berharap di tengah badai kehidupan, itulah bukti nyata bahwa Roh yang membangkitkan Yesus itu sungguh hidup di dalam diri kita. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Felix Widicahyadi-Tingkat VI
Foto: Pinterest
