Bil. 21:4-9; Mzm. 102:2-3,16-18,19-21; Yoh. 8:21-30; BcO Bil. 14:1-25.

Beriman dengan Bijak
Saudara-saudari terkasih, sepanjang sejarah, ada tokoh-tokoh besar yang dianggap aneh, bahkan dicibir dan ditertawakan karena perkataan maupun tindakannya. Archimedes keluar dari rumah dan berlari telanjang ke jalan raya sambil berteriak “Eureka!”. Nietzsche yang dikenal sopan, religius dan tenang tiba-tiba mengguncang dunia dengan kalimat mengejutkan “Tuhan telah mati”, dan Nuh yang sibuk membangun kapal raksasa ketika banyak orang sibuk berpesa pora menikmati hidup. Bagi banyak orang, mereka tampak tidak waras, aneh dan mungkin gila. Namun, di balik keganjilan itu tersembunyi perjuangan besar mereka yang akhirnya mengguncang dunia.
Archimedes menemukan hukum alam yang menjadi dasar ilmu pengetahuan, Ia meluapkan kegembiraan penemuan ilmiahnya dengan cara yang mengejutkan, Nietzsche menyingkap krisis nilai dan mendorong manusia menciptakan makna baru, Ia menantang masyarakat untuk berani menghadapi nihilisme dan Nuh dengan kesetiaannya menyelamatkan kehidupan dari bencana, dengan iman teguh membangun sesuatu yang dianggap mustahil. Mereka semua dicibir, ditertawakan, bahkan dianggap gila. Namun, justru dari ejekan itu lahir perubahan besar: ilmu pengetahuan berkembang, filsafat modern menemukan arah baru, dan umat manusia diselamatkan dari air bah. Kisah-kisah diatas menunjukkan bahwa kebenaran, kebijaksanaan, keselamatan dari Allah sering hadir dalam bentuk yang tidak biasa.
Saudara-saudari terkasih, Yesus sendiri pernah dianggap aneh oleh banyak orang ketika Ia berkata: “Aku akan pergi, dan kamu akan mencari Aku, tetapi kamu akan mati dalam dosamu.” Banyak yang tidak mengerti sabda-Nya, bahkan menuduh-Nya berbicara konyol. Namun, seperti Archimedes, Nietzsche, dan Nuh, perkataan Yesus yang tampak membingungkan itu mengandung kebenaran mendalam: Ia berbicara tentang kepergian menuju Bapa dan keselamatan yang hanya dapat ditemukan dalam diri-Nya.
Dunia sering gagal memahami sabda Tuhan karena terjebak pada logika manusia, padahal sabda itu mengandung makna yang jauh lebih dalam. Kebenaran ilahi sering kali tidak mudah dipahami, bahkan bisa tampak tidak masuk akal bagi dunia. Tetapi iman mengajak kita untuk melihat lebih dalam, melampaui ejekan dan kebingungan, agar kita berani hidup setia, mencari makna sejati, dan membawa terang bagi sesama.
Hari ini kita belajar untuk tidak cepat mencibir atau menolak sesuatu yang tampak aneh, sebab bisa jadi di baliknya ada kebijaksanaan yang belum kita pahami. Kita diajak untuk rendah hati, berani setia pada kebenaran meski ditertawakan, dan menghargai perjuangan orang lain yang melawan arus demi kebaikan. Dalam hidup sehari-hari, ini berarti berani menolak kejahatan, membela keadilan, dan hidup setia pada iman, meski dunia menganggapnya tidak masuk akal. Dengan sikap itu, kita menjadi saksi bahwa dari ejekan bisa lahir perubahan, dan dari kesetiaan bisa lahir keselamatan. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Yustinus Irvan-Tingkat II
Foto: Pinterest
