Renungan Harian Rabu, 25 Maret 2026

HARI RAYA KABAR SUKACITA

Yes. 7:10-14; 8:10; Mzm. 40:7-8a,8b-9,10,11; Ibr. 10:4-10; Luk. 1:26-38. BcO 1Taw. 17:1-15.

Membawa Sukacita

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita merayakan Hari Raya Kabar Sukacita. Bacaan-bacaan suci yang kita dengarkan mengajak kita untuk merenungkan betapa besar kasih Allah kepada umat-Nya. Allah tidak tinggal jauh di surga, melainkan datang mendekati manusia, masuk ke dalam sejarah hidup kita.

Dalam bacaan Injil, Allah menyatakan kasih-Nya melalui Malaikat Gabriel yang diutus kepada Bunda Maria. Malaikat itu membawa kabar bahwa Maria akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Kabar ini tentu mengejutkan Maria, sebab ia belum bersuami. Namun malaikat berkata kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau.” Menghadapi rencana Allah yang begitu besar dan melampaui pengertiannya, Maria tidak menolak atau melarikan diri. Dengan penuh iman dan kerendahan hati ia menjawab: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Jawaban inilah yang membuka jalan keselamatan bagi seluruh umat manusia.

Pesan yang disampaikan Malaikat Gabriel ini sesungguhnya telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya “Seorang perempuan muda akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel,” yang berarti Allah menyertai kita. Melalui Yesus, Allah sendiri hadir di tengah-tengah manusia untuk menyelamatkan kita dari belenggu dosa. Mengapa Allah harus datang sendiri? Karena kurban darah hewan dalam Perjanjian Lama hanyalah lambang dan bersifat sementara. Seperti ditegaskan dalam Surat kepada Orang Ibrani, kurban sejati yang berkenan kepada Allah adalah penyerahan diri Kristus sendiri. Yesus mempersembahkan tubuh-Nya sekali untuk selama-lamanya demi keselamatan kita.

Saudara-saudari terkasih, sebagai orang Katolik, kita pun dipanggil untuk mewartakan kabar sukacita itu. Kita dipanggil bukan hanya sekedar mengakui bahwa kita orang beriman, tetapi sungguh menghadirkan Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Iman kita harus tampak dalam perkataan, sikap, dan tindakan. Hidup kita seharusnya mencerminkan bahwa kita adalah murid-murid Kristus, bukan orang yang mencari kemuliaan diri sendiri. Kita belajar berkata “ya” seperti Maria. Kadang, kita sering menolak kehendak Tuhan karena takut, ragu, atau merasa tidak mampu.

Teladan Maria mengajak kita berani percaya dan taat, sekalipun rencana Tuhan tidak selalu mudah. Kita juga harus menghadirkan Kristus melalui kasih. Kita dapat menjadi pembawa kabar sukacita dengan hal-hal sederhana: membantu yang membutuhkan, menghibur yang sedih, mengampuni yang bersalah, dan peduli pada sesama. Kita juga dipanggil untuk mewartakan Injil lewat tindakan nyata, bukan hanya kata-kata. Sikap seperti kejujuran dalam bekerja, kerendahan hati dalam pelayanan, hidup doa yang tekun adalah bukti bahwa iman kita berbuah. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Krisna Kilo-Tingkat V

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.