Renungan Minggu, 29 Maret 2026

HARI MINGGU PALMA

Mat. 21:1-11. Yes. 50:4-7; Mzm. 22:8-9,17-18a,19-20,23-24; Flp. 2:6-11; Mat. 26:14–27:66 (panjang) atau Mat. 27:11-54 (singkat)

“Iman yang Tidak Berhenti di kata Hosanna”

Saudara-saudari terkasih, selamat Hari Minggu Palma! Liturgi hari ini terasa unik. Kita mulai dengan pawai meriah dengan daun palma, teriakan “Hosanna!”, penuh semangat lalu tiba-tiba diajak masuk ke kisah sengsara Yesus yang panjang dan berat. Rasanya seperti “satu hidangan, tapi isinya dua rasa”. Di luar meriah, di dalam serius. Bedanya, kalau makanan membuat kenyang, kisah sengsara bikin hati kita ditegur. Daun palma yang kita pegang juga macam-macam. Ada yang rapi, ada yang berkibar, ada juga yang paling besar, dan yang daunnya kecil. Semua tetap kebagian kasih-Nya.

Dalam Injil, orang banyak berseru, “Hosanna! Hosanna!” Kata ini bukan sekadar sorak-sorai, tetapi teriakan minta diselamatkan. Kita pun sering berteriak “Hosanna”, tapi isinya kadang begini: “Tuhan, selamatkan aku dari cicilan”, “Tuhan, selamatkan aku dari macet dekat Ampera”, atau “Tuhan, selamatkan aku dari bos yang cerewet”. Tuhan peduli kebutuhan kita, tetapi Injil hari ini mengingatkan bahwa Yesus datang bukan hanya menyelamatkan masalah luar, melainkan menyelamatkan hati dari dosa, ego, dendam, dan luka yang kita simpan diam-diam.

Yesus masuk Yerusalem bukan naik kuda perang, tetapi naik keledai yang menjadi tanda kerendahan hati dan damai. Ia tidak datang dengan gaya konvoi dan sirene. Kadang kita ingin Tuhan menyelesaikan hidup kita dengan cara yang “wah” dan instan. Namun Yesus menunjukkan bahwa jalan keselamatan sering lewat kerendahan hati, kesetiaan, dan salib. Yang menohok, hari ini kita mulai dengan “Hosanna”, tetapi dalam kisah sengsara terdengar teriakan “Salibkan Dia!” Hidup kita pun kadang begitu. Minggu Palma mengajak kita jujur agar jangan sampai mulut memuji Tuhan, tapi hidup kita justru melukai Dia lewat kata-kata kasar, kebiasaan merendahkan orang, atau dendam yang dipelihara.

Daun palma yang kita bawa pulang bukan jimat. Bukan asuransi anti-macet, anti-tilang, atau anti-marah. Kalau tidak latihan sabar, emosi tetap bisa naik. Daun palma adalah pengingat bahwa kita mau ikut Yesus masuk Pekan Suci, bukan hanya ikut pawai hari ini. Kiranya Pekan Suci ini menuntun kita berjalan bersama Kristus sampai Paskah, sampai kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Frendi Pascalis-Tingkat 1V

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.