Hari Kamis Putih
Yes. 61:1-3a,6a,8b-9; Mzm. 89:21-22,25,27; Why. 1:5-8; Luk. 4:16-21.

Hidup dalam Kasih
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita merayakan Kamis Putih, mengenang karya keselamatan Allah yang telah dimulai sejak Perjanjian Lama dan mencapai kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus di Perjanjian Baru. Bacaan pertama mengisahkan bagaimana Allah memerintahkan bangsa Israel untuk menyembelih anak domba dan mengoleskan darahnya pada pintu rumah mereka. Darah itu menjadi tanda perlindungan dan pembebasan dari perbudakan di Mesir. Peristiwa ini menegaskan bahwa Allah sendiri bertindak menyelamatkan umat-Nya. Perintah tersebut juga menjadi tanda kasih Allah yang begitu besar, sekaligus pengingat bahwa kebebasan adalah anugerah yang patut disyukuri dan dikenang sepanjang masa.
Peristiwa Paskah itu menjadi gambaran tentang keselamatan yang lebih sempurna yang digenapi dalam diri Yesus. Bacaan kedua menegaskan bahwa Yesus adalah kepenuhan Sabda Allah itu sendiri. Santo Paulus mengingatkan kembali apa yang dilakukan Yesus pada malam sebelum Ia menderita. Yesus mengambil roti dan anggur lalu berkata, “Inilah Tubuh-Ku… Inilah Darah-Ku.” Di sini, Yesus tidak lagi memberikan darah anak domba, melainkan memberikan diri-Nya sendiri. Ia menjadi Anak Domba sejati yang menyerahkan hidup-Nya demi keselamatan kita. Pada saat inilah Yesus mendirikan Ekaristi sebagai sumber dan puncak iman kita. Setiap kali kita merayakannya, kita tidak hanya mengenang, tetapi juga menghadirkan kembali kasih pengorbanan Kristus dalam hidup kita.
Injil hari ini menunjukkan bahwa Kamis Putih tidak hanya berbicara tentang Ekaristi, tetapi juga tentang pelayanan. Yesus membasuh kaki para murid-Nya, suatu tindakan yang biasanya dilakukan oleh seorang hamba. Hal ini tentu mengejutkan, sebab Yesus adalah Guru dan Tuhan. Namun melalui tindakan ini, Ia mengajarkan bahwa kebesaran sejati bukan terletak pada kuasa atau kehormatan, melainkan pada kasih yang mau merendahkan diri untuk melayani. Iman tidak cukup hanya diucapkan atau dirayakan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Mengasihi berarti siap membantu, mengampuni, dan peduli kepada sesama, terutama mereka yang kecil dan lemah.
Saudara-saudari terkasih, marilah kita merefleksikan hubungan antara Ekaristi dan kehidupan sehari-hari kita. Kita menerima Tubuh Kristus agar kita semakin serupa dengan Kristus, hidup dalam kasih dan kerendahan hati. Hari ini kita diajak untuk memeriksa hati: sudahkah kita “membasuh kaki” sesama dalam keluarga, komunitas, maupun tempat kerja? Sudahkah kita berani merendahkan hati untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf? Semoga perayaan Kamis Putih ini membantu kita semakin memahami bahwa kasih adalah inti dari iman kita. Semoga hidup kita sungguh menjadi tanda kehadiran Kristus di tengah dunia. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Yulius Susilo-Tingkat IV
Foto: Pinterest
