Renungan Harian Selasa, 5 Mei 2026

Kis. 14:19-28; Mzm. 145:10-11,12-13ab,21; Yoh. 14:27-31a. BcO Kis. 17:19-34.

Membawa Damai

Saudara-saudari terkasih, dalam Injil hari ini Yesus berkata, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.” Ini bukan sekadar salam indah, tetapi janji Tuhan bagi kita. Tetapi damai yang Yesus berikan bukan berarti semua masalah langsung hilang. Kalau menunggu damai seperti itu, mungkin kita harus menunggu lama sekali. Damai Kristus adalah hati yang tetap percaya kepada Tuhan, meskipun hidup belum sepenuhnya beres.

Dalam bacaan pertama, kita menemukan kisah Paulus yang dilempari batu, diseret keluar kota, bahkan dikira sudah mati. Tetapi ia bangun kembali dan terus mewartakan Injil. Paulus terluka, tetapi tidak menyerah. Ia jatuh, tetapi bangkit. Ia menderita, tetapi tidak kehilangan damai. Kita pun punya “batu-batu” dalam hidup, berupa kata-kata kasar, masalah keluarga, sakit penyakit, pekerjaan berat, atau pelayanan yang kurang dihargai. Ada juga batu kecil tapi tajam seperti sindiran halus atau bahkan senyumnya sinis, tapi rasanya tersimpan sampai hari berganti. Karena itu Yesus berkata, “Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Tuhan tidak berkata bahwa hidup kita tidak akan punya masalah. Tuhan berkata agar hati kita jangan dikuasai oleh masalah.

Supaya mudah diingat, mari kita renungkan satu kata: D-A-M-A-I.

D – Dekat dengan Tuhan. Damai tumbuh kalau kita dekat dengan Tuhan dalam doa, Ekaristi, dan Sabda-Nya.

A – Akui bahwa hidup punya salib. Orang beriman bukan orang yang tidak pernah menangis, tetapi orang yang tetap percaya meskipun sedang menangis.

M – Menahan diri dari emosi. Kadang kemenangan terbesar bukan ketika kita berhasil membalas, tetapi ketika kita berhasil menjaga lidah dan hati.

A – Andalkan Tuhan. Perasaan bisa berubah-ubah. Tuhan tetap setia. Maka jangan mengambil keputusan besar saat hati sedang panas.

I – Ikut membawa damai. Di rumah, di lingkungan, di paroki, dan di tempat kerja, jangan jadi kompor. Jadilah orang yang menenangkan, menyatukan, dan menguatkan.

Saudara-saudari terkasih, dunia kita membutuhkan pembawa damai. Keluarga membutuhkan pembawa damai. Gereja dan masyarakat juga membutuhkan orang-orang yang tidak mudah panas, tidak mudah menyerah, dan tidak mudah ikut arus kebencian. Maka hari ini, kalau hati kita sedang gelisah, datanglah kepada Yesus. Kalau kita sedang terluka, datanglah kepada Yesus. Kalau kita sedang lelah dalam pelayanan, datanglah kepada Yesus. Semoga damai Kristus menguatkan kita untuk bangkit seperti Paulus, tetap setia dalam iman, dan menjadi pembawa damai bagi sesama. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

Fr. Frendi Pascalis (Tingkat VI)

Leave a Reply

Your email address will not be published.