Discernment dan Diskresi Fransiskan: Membentuk Formandi yang Jujur, Otentik, dan Bertanggung Jawab

Sr. M. Carolisa FCh memaparkan materinya. | Foto: Komsos KAPal

Hari ketiga workshop para formator yang berlangsung pada Sabtu (9/5) di RR Giri Nugraha kembali diisi dengan pendalaman tema “How To Be a Good Enough Formator”. Pada sesi kedua, pembahasan difokuskan pada aspek discernment (pembedaan roh) dan diskresi Fransiskan, yang disampaikan oleh Sr. M. Carolisa, FCh.

Discernment: Menilai Kehendak Allah dengan Seluruh Diri

Dalam pemaparannya, Sr. Carolisa menjelaskan bahwa discernment adalah kemampuan untuk menilai dan membedakan gerak roh dalam hidup manusia. Menurutnya, proses ini tidak hanya mengandalkan rasio atau kemampuan berpikir, tetapi melibatkan seluruh dimensi kemanusiaan: hati nurani, kehendak, kesadaran, serta relasi personal dengan Allah.

“Kecerdasan (dalam discernment) mencakup seluruh ciri khas manusia, yaitu kebebasan, akal budi, kesadaran, serta kemampuan untuk memiliki arah dan tujuan hidup,” ungkapnya.

Kemampuan inilah yang menjadi fondasi krusial dalam proses pembinaan dan pendampingan para formandi.

Mengenali Suara Allah Melalui Peran Roh

Sr. Carolisa menekankan bahwa Roh-lah yang memampukan manusia mengenali suara Allah di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari. Namun, kepekaan ini tidak muncul secara instan; ia harus terus diasah melalui relasi yang mendalam dengan Tuhan.

Foto: Komsos KAPal

“Roh harus terus-menerus dibantu untuk berelasi dengan Allah,” tegasnya. Ia menjelaskan bahwa discernment menuntut suasana hening, doa, dan kemampuan mendengarkan. Melalui proses ini, seseorang diajak membedakan mana dorongan yang berasal dari Roh Kudus dan mana dorongan yang justru menjauhkan manusia dari Allah. Doa, bagi Sr. Carolisa, adalah syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.

Diskresi Fransiskan: Perpaduan Kebijaksanaan dan Belas Kasih

Memasuki pembahasan mengenai diskresi Fransiskan, Sr. Carolisa mengangkat spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi sebagai teladan hidup yang penuh hikmat. Diskresi dalam tradisi Fransiskan bukan sekadar teknik mengambil keputusan, melainkan seni memahami kondisi sesama dengan kepekaan cinta kasih.

“Kebijaksanaan harus berjalan beriringan dengan belas kasih. Formasi tidak bertujuan mencetak pribadi yang keras, melainkan pribadi yang semakin manusiawi,” ujarnya.

Foto: Komsos KAPal

Keseimbangan dan kedewasaan emosional menjadi kunci bagi seorang formator agar mampu mendampingi formandi secara bijaksana dan empati.

Membentuk Formandi yang Bebas dan Bertanggung Jawab

Sr. Carolisa juga mengajak para formator untuk menanamkan nilai kebebasan, tanggung jawab, dan ketaatan dalam diri formandi. Ia menggarisbawahi bahwa kebebasan dalam hidup panggilan bukanlah hidup tanpa aturan, melainkan kemampuan memilih dan memutuskan secara dewasa selaras dengan kehendak Allah.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya kepekaan dalam komunitas. Seorang formator harus memiliki kepedulian agar tidak menciptakan situasi yang mempermalukan atau membuat saudara lain merasa tidak nyaman. Pendampingan harus selalu memperhatikan keunikan kondisi setiap pribadi.

Panggilan Menjadi Formator yang Otentik

Sebagai penutup yang kuat, Sr. Carolisa mengingatkan para peserta untuk menjadi teladan hidup yang nyata.

“Kita sebagai formator tidak boleh munafik,” tegasnya.

Foto: Komsos KAPal

Ia mengakui bahwa tantangan besar dalam pembinaan saat ini adalah membentuk pribadi yang jujur dan tidak manipulatif. Menghasilkan formandi yang otentik adalah “pekerjaan rumah” bersama yang menuntut formator untuk memiliki kerendahan hati dan keterbukaan untuk terus dibentuk oleh Allah.

Dengan hidup doa yang kuat, rumah formasi diharapkan dapat bertransformasi menjadi ruang pertumbuhan iman, persaudaraan, dan kebijaksanaan yang sejati.

**Diakon Bednadetus Aprilyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published.