Kis. 16:1-10; Mzm. 100:1-2,3,5; Yoh. 15:18-21. BcO Kis. 20:1-16.

Ditolak Dunia, Diterima Allah
Saudara-saudari yang terkasih, ada seorang ibu rumah tangga yang setiap pagi berjualan sayur di pasar. Ia dikenal jujur, tidak pernah mengurangi timbangan, meski kadang pembeli menawar dengan harga sangat rendah. Suatu hari, seorang pedagang lain berkata kepadanya: “Kalau kamu terus jujur begitu, kamu tidak akan kaya. Dunia ini keras, kamu harus pintar-pintar menipu sedikit.” Ibu itu hanya tersenyum dan menjawab “Saya lebih memilih sedikit untung tetapi hati tenang. Saya memilih jujur karena saya percaya Tuhan akan mencukupkan segalanya.”
Saudara-saudari, dunia mungkin menganggap ibu penjual sayur itu “bodoh,” tetapi sesungguhnya ia hidup sesuai dengan Injil. Yesus sudah mengingatkan bahwa dunia akan menolak, bahkan membenci orang yang setia kepada-Nya. Namun penolakan itu bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kesetiaan.
Paulus dan rekan-rekannya berani melangkah ke Makedonia karena mereka percaya pada panggilan Roh Kudus. Mereka tidak mencari jalan mudah, tetapi jalan yang sesuai kehendak Allah. Demikian pula kita: menjadi murid Kristus berarti siap menghadapi penolakan dan kesulitan. Tetapi di tengah semuanya itu, kita diajak tetap bersyukur seperti kata pemazmur, “Bersoraklah bagi Tuhan, hai seluruh bumi!”
Kesetiaan kita, meski sederhana, adalah kesaksian yang kuat. Dunia mungkin tidak selalu mengerti, tetapi Tuhan melihat dan meneguhkan. Mari kita belajar dari ibu penjual sayur tadi: tetap jujur, tetap setia, meski dunia menolak. Biarlah hidup kita menjadi kesaksian nyata bahwa kasih Allah lebih berharga daripada penerimaan dunia.
Saudara-saudari terkasih, banyak jalan telah Tuhan sediakan hingga kita sampai pada titik ini. Semua perjuangan yang kita jalani tidak lepas dari campur tangan-Nya. Maka, percaya atau tidak, setiap kebaikan yang kita lakukan setiap hari adalah bagian dari karya Tuhan untuk membawa kita menuju kebahagiaan yang telah Ia siapkan. Oleh karena itu, jangan pernah lelah berbuat baik, jangan takut untuk tetap jujur, meski dunia berkata sebaliknya. Jangan ragu untuk tetap setia, meski jalan terasa berat. Sebab setiap langkah kecil yang kita ambil dalam kebenaran adalah bagian dari rencana besar Allah. Dan pada akhirnya, kita akan melihat bahwa kesetiaan kita tidak pernah sia-sia, karena Tuhan sendiri yang meneguhkan dan memberi sukacita.
Mari kita terus berbuat baik, tetap setia, dan bersyukur dalam segala hal. Sebab bersama Tuhan, hidup kita akan selalu cukup, penuh makna, dan menjadi berkat bagi sesama. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Delho Panca Firdaus Sinaga (Tingkat II)
