
BATUPUTIH, OKU – Semangat kebersamaan dan sukacita iman terpancar dari wajah sekitar 100 Remaja Katolik (Remaka) asal Paroki Santo Petrus dan Paulus Baturaja serta Paroki Sang Penebus Batuputih. Mereka berkumpul dalam kegiatan ziarah dan temu persaudaraan di Gua Maria Bunda Penebus, Batuputih, pada Selasa (14/5/2026) untuk merayakan Bulan Maria.
Kegiatan dibuka dengan sapaan hangat oleh Pastor Rekan Paroki Sang Penebus Batuputih, Romo Markus Agus Tarnanu. Melalui lagu “Hari Ini Kurasa Bahagia”, Romo Nanu, demikian ia biasa disapa, mengajak para remaja membuka hati untuk mengalami kehadiran Tuhan. Nyanyian ini bukan sekadar musik, melainkan ungkapan harapan agar iman para peserta semakin dalam dan persaudaraan mereka semakin erat.

Simbol Penyerahan Diri
Salah satu momen menyentuh adalah ketika peserta menuliskan ujud doa pribadi. Doa-doa tersebut dikumpulkan ke dalam sebuah kendi dan dibakar saat doa Rosario. Aksi ini menjadi simbol penyerahan total segala harapan, pergumulan, dan rasa syukur kepada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria.
Napak Tilas Sejarah Gua Maria
Di sela kegiatan, Fr. Yonathan Galih Amar Pratama, calon imam Keuskupan Agung Palembang yang menjalani Tahun Oriantasi Pastoral di Batuputih, membagikan kisah di balik berdirinya Gua Maria Bunda Penebus. Digagas tahun 1979 oleh Pastor Koziel, SCJ, gua ini dibangun secara gotong royong oleh umat, termasuk kaum muda saat itu yang mencari kayu di tepian Sungai Lengkayap. Kini, tempat ini telah menjadi saksi bisu berbagai kesaksian iman dan pusat devosi yang hidup bagi banyak umat, khususnya di Paroki Batuputih.

Belajar Menghidupi Iman
Setelah doa Rosario yang khidmat, kegiatan berlanjut di aula paroki. Di sana, Fr. Galih bersama Sr. Renata FSGM dan Sr. Geasinta FSGM mengajak para remaja berdiskusi interaktif. Lewat tanya jawab seru seputar Bulan Maria, para remaja diajak untuk tidak hanya memahami teori devosi, tetapi juga menghidupinya dalam perilaku sehari-hari.
Rangkaian kegiatan diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh Fr. Aldo Fofid dan makan siang sederhana dari bekal masing-masing. Meski dalam kesederhanaan, keakraban yang terjalin kuat membuktikan bahwa generasi muda Gereja terus tumbuh sebagai pribadi yang beriman, penuh sukacita, dan saling menguatkan dalam persaudaraan.
***Fr. Yonathan Galih (Kontributor Batuputih)
