
BENGKULU — Gereja Katolik St. Yohanes Penginjil Bengkulu menggelar Perayaan Hari Raya Pentakosta dengan cara yang unik dan penuh warna. Mengangkat tema “Nai Ca Anggit Tuka Ca Leleng (Sehati Sejiwa)”, Perayaan Ekaristi kali ini dibalut dalam tradisi inkulturasi budaya Flobamora yang merekatkan keberagaman umat perantauan di tanah Bengkulu.
Perayaan yang berlangsung meriah ini dipimpin oleh Pastor Rekan Paroki St. Yohanes Penginjil Bnegkulu, Romo Paulus Yosse Pratama SCJ. Suasana khas Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah terasa kental sejak awal lewat penyambutan adat para petugas liturgi, dekorasi kain tenun bermotif unik, alun musik tradisional, hingga tarian khas Ronda. Sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan kasih, Romo Yosse juga dikalungi kain tenun khas NTT sesaat sebelum memimpin Ekaristi.

Kehadiran unsur budaya ini bukan tanpa alasan. Paroki sengaja menghadirkan nuansa Flobamora yang merangkul suku Flores, Sumba, Timor, dan Alor, karena pesatnya jumlah umat perantauan asal NTT di paroki tersebut. Selain itu, momen ini juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan 100 tahun Paroki St. Yohanes Penginjil Bengkulu.
Dalam homilinya, Romo Yosse mengingatkan umat bahwa esensi dari misa inkulturasi adalah mewujudkan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Kehadiran budaya dalam gereja bertindak sebagai sarana untuk membantu umat mengungkapkan iman kepada Allah yang Esa.

“Roh Kudus yang mempersatukan yang menjadi dasar dalam merayakan misa inkulturasi. Gereja itu satu, kudus, katolik, dan apostolik yang memiliki banyak karunia didalamnya. Maka, kebudayaan tertentu yang ada dipakai untuk membantu mengungkapkan iman kita kepada Allah yang Esa, dihimpun menjadi satu kesatuan di dalam Gereja,” ungkapnya.
Imam dehonian ini juga meluruskan pandangan umat yang kadang masih bingung membedakan antara tradisi budaya dan Ekaristi. Romo Yosse menegaskan bahwa misa inkulturatif wajib menyesuaikan diri dengan Liturgi Gereja dan sejalan dengan pesan Injil, sehingga struktur utama Ekaristi sama sekali tidak diubah. Budaya diekspresikan secara proporsional melalui lagu, musik, dekorasi, bahasa penyambutan, dan gerakan tari.
“Kebudayaan tertentu dijadikan sarana untuk memuliakan Tuhan yang dilandasi semangat Roh yang mempersatukan segala latar belakang budaya sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik,” terangnya.

Mengakhiri homilinya, Romo Yosse mengajak umat untuk semakin bersemangat dalam misi perutusan, menjadi saksi kabar sukacita Injil bagi dunia. “Mari, kita dipanggil untuk memiliki daya Roh Kudus yang bersaudara satu dengan yang lain. Kita hadirkan buah-buah Roh dalam hidup berkolaborasi, berani bersaksi, dan berdaya ubah dalam hidup ini.”
Perayaan ini berjalan sukses dan mendapat atensi positif dari seluruh umat. Melalui semangat Pentakosta ini, diharapkan nyala api Roh Kudus terus memacu umat untuk mensyukuri kekayaan budaya Indonesia lainnya sebagai sarana memuliakan Tuhan.
***Irene Viona (KOMSOS St. Yohanes Penginjil, Bengkulu)
