
PONTIANAK — Keuskupan Agung Pontianak resmi menjadi tuan rumah Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII yang berlangsung pada 26-31 Mei 2026. Sebanyak 200 delegasi dari berbagai keuskupan di seluruh Indonesia berkumpul untuk merefleksikan arah komunikasi Gereja di tengah masifnya arus kecerdasan buatan (AI).
Pertemuan berskala nasional ini merupakan puncak dari peringatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60. Tahun ini, Paus Leo XIV dalam pesannya untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang jatuh pada Minggu, 17 Mei 2026, secara khusus menyoroti tantangan etis teknologi modern melalui tema “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”.
Tema tersebut lahir dari kecemasan sekaligus harapan di era algoritma, di mana teknologi AI kini mampu mereproduksi suara, ekspresi wajah, hingga emosi manusia dengan sangat akurat. Paus Leo XIV mengingatkan bahwa esensi teknologi adalah untuk membantu hidup manusia, bukan justru mengaburkan atau menggantikan eksistensi kemanusiaan itu sendiri.
Teknologi sebagai Alat, Bukan Pengganti Relasi
Menurut Bapa Suci, wajah dan suara bukan sekadar aspek biologis atau identitas fisik, melainkan ruang perjumpaan yang suci dan otentik. Masuknya AI dalam ruang komunikasi memicu pertanyaan mendasar: apakah manusia akan tetap memegang kendali, atau justru tersingkir oleh sistem digital yang mereka ciptakan sendiri?
“Kita harus ingat bahwa AI adalah alat bantu. Sekali lagi, alat bantu bagi manusia,” tegas Uskup Surabaya sekaligus Ketua Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo.
Pernyataan ini mempertegas posisi Gereja yang tidak menolak teknologi, melainkan mengajak masyarakat untuk menggunakannya secara bijaksana dan bertanggung jawab. Bahaya terbesar saat ini bukanlah mesin yang makin canggih, melainkan kecenderungan manusia yang mulai menyerahkan proses berpikir, menilai, dan membangun relasi kepada algoritma digital.
Senada dengan hal tersebut, Uskup Sintang sekaligus Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin OFMCap, menekankan pentingnya merawat sisi kemanusiaan dalam setiap proses komunikasi.
“Dengan demikian, kehidupan dalam kebersamaan pada masa-masa mendatang sungguh lebih membahagiakan dan mensejahterakan kita semua. Dalam berkat Tuhan, mari kita berupaya agar PKSN kita laksanakan dengan baik seturut kehendak-Nya,” ujarnya.
Empat Pilar Solusi Hadapi Tantangan Digital
Untuk membumikan pesan Paus Leo XIV, PKSN XIII di Pontianak mengagendakan seluruh kegiatannya ke dalam empat pilar utama selama enam hari penyelenggaraan:
Pilar pertama adalah aksi kreativitas yang menjadi ruang kompetisi dan unjuk bakat bagi kreator serta pegiat media Gereja untuk menampilkan konten komunikasi yang kreatif, edukatif, dan humanis.
Pilar kedua adalah edukasi yang disajikan dalam bentuk seminar dan diskusi interaktif mengenai kecerdasan buatan dan etika komunikasi media baru, guna membangun sikap kritis dalam memanfaatkan teknologi untuk pewartaan.
Pilar ketiga adalah gerakan literasi berupa ajakan aktif untuk membaca, menulis, dan menyaring informasi secara sehat demi menangkal disinformasi, manipulasi digital, serta budaya viral tanpa verifikasi.
Sedangkan pilar keempat merupakan aksi kunjungan solidaritas kemanusiaan mewujudkan jaringan sekaligus keberanian menjumpai sesama secara nyata di mana peserta turun langsung menemui dan mendengarkan masyarakat yang membutuhkan, sebagai wujud komunikasi tatap muka yang memanusiakan.
Setiap akhir hari, seluruh rangkaian kegiatan akan ditutup dengan sesi refleksi bersama. Sesi ini dirancang sebagai ruang hening agar para peserta dapat merenungkan dan mengaplikasikan nilai-nilai “Menjaga Suara dan Wajah Manusia” dalam tugas pelayanan komunikasi sehari-hari.
Simbol Perjumpaan
Pemilihan Kota Pontianak di Kalimantan Barat sebagai pusat pelaksanaan PKSN XIII memiliki makna simbolis yang kuat. Sebagai kota yang heterogen, Pontianak menjadi representasi nyata dari ruang perjumpaan berbagai suku, agama, dan budaya yang berhasil membangun jembatan persaudaraan yang menyatukan keberagaman.
Di tengah kebisingan dunia modern yang dipenuhi notifikasi konstan, arus informasi instan, dan simulasi digital, PKSN XIII hadir untuk mengingatkan kembali esensi paling mendasar: manusia tetap membutuhkan kehadiran fisik dan empati yang tulus, yaitu wajah dan suara yang mendengarkan.
Sejalan dengan pesan Bapa Suci, Gereja Katolik Indonesia hendak menegaskan kembali bahwa teknologi hanya akan bernilai mulia jika ia tunduk untuk melayani martabat manusia, menjaga kebenaran, serta merawat komunikasi langsung sebagai ruang perjumpaan yang sejati.
***TJK
