2Raj. 24:8-17; Mzm. 79:1-2,3-5,8,9; Mat. 7:21-29; BcO Yer. 1:1-19.
Hadir dalam Keluarga

Saudara-saudari terkasih, dalam bacaan Injil hari ini, Yesus memberikan perumpamaan tentang dua orang yang mendirikan rumah: orang bijaksana yang membangun di atas dasar batu wadas yang kokoh, dan orang bodoh yang membangun di atas pasir tanpa dasar. Melalui metafora ini, Yesus sebenarnya tidak sedang berbicara tentang teknik arsitektur, melainkan tentang fondasi esensial kehidupan kita. Rumah yang dimaksud merujuk langsung pada diri pribadi dan kehidupan keluarga kita; jika fondasi hidup ini tidak berakar kuat pada iman dan kasih Kristus, kita akan mudah rapuh, menyerah, dan hancur saat badai persoalan hidup datang menerpa.
Keluarga adalah anugerah terindah dari Tuhan, tempat utama di mana kasih, perhatian, pengorbanan, dan iman seharusnya dipelajari serta dihidupi bersama. Sayangnya, realitas saat ini menunjukkan banyak orang yang tinggal dalam satu atap namun hatinya saling berjauhan. Terjebak dalam kesibukan kerja, egoisme pribadi, dan kelekatan pada layar media sosial membuat kehadiran fisik menjadi hampa tanpa relasi yang mendalam. Orang tua kehilangan waktu untuk mendengarkan anak, anak-anak menjauh dari orang tua, serta suami-istri yang jarang lagi berbicara dari hati ke hati, hingga rumah tak lagi menjadi tempat yang hangat.
Saudara-saudari terkasih, Yesus menegaskan bahwa hidup yang dibangun di atas dasar Sabda Tuhan dan kasih akan tetap berdiri kokoh menghadapi hantaman ujian duniawi. Sebaliknya, hidup yang hanya mengandalkan ambisi diri, kesibukan sekuler, dan egoisme akan sangat mudah runtuh saat didera kesulitan. Melalui refleksi ini, kita semua diundang untuk memeriksa kembali peran masing-masing di dalam keluarga dan berani bertanya pada diri sendiri: “Sudahkah aku sungguh hadir dan menanamkan dasar iman serta cinta yang hidup di dalam rumahku?”
Iman dan cinta kasih yang sejati tidak pernah cukup jika hanya berhenti pada tatapan kata atau ucapan di bibir, melainkan harus mewujud dalam tindakan nyata sehari-hari. Mengasihi seluruh anggota keluarga, menghormati orang tua, menjaga kesetiaan terhadap pasangan, mendidik anak dengan kelembutan, serta menyediakan waktu berkualitas untuk hadir secara utuh adalah bentuk konkret dari melaksanakan kehendak Tuhan. Mari kita bangun kembali rumah tangga kita di atas batu wadas kasih Kristus agar tetap kokoh dan memancarkan berkat. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Carolus Robet Silalahi–Tingkat III
