Renungan Harian Kamis, 9 Juli 2026

Hos. 11:1-4,8c-9; Mzm. 80:2ac,3b,15-16; Mat. 10:7-15
Pembawa Damai

Saudara-saudari terkasih, dalam Injil hari ini, Yesus mengutus para murid-Nya bukan dengan membawa kekuasaan, harta, atau jaminan kenyamanan. Mereka diutus hanya dengan satu tugas yang jelas: memberitakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Mereka diminta menyembuhkan yang sakit, menghibur yang terluka, membangkitkan harapan, dan menghadirkan damai. Menariknya, Yesus juga mengingatkan bahwa tidak semua orang akan menerima mereka. Namun penolakan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti mewartakan kasih Allah.

Sabda ini sangat dekat dengan kehidupan kita yang hidup di tengah masyarakat yang majemuk, terdiri dari berbagai suku, budaya, adat-istiadat, dan agama. Dalam situasi seperti ini, pewartaan iman tidak pertama-tama dilakukan melalui kata-kata, tetapi melalui cara hidup yang penuh kasih, kejujuran, kepedulian, dan semangat melayani. Di tempat kerja, di sekolah, di lingkungan, bahkan di dalam keluarga, kita dipanggil menjadi wajah Kristus yang menghadirkan damai, bukan sumber perpecahan.

Yesus juga berkata, “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Kalimat ini mengingatkan kita bahwa semua yang kita miliki iman, talenta, kesehatan, kesempatan, bahkan hidup adalah anugerah Tuhan. Karena itu, iman tidak boleh berhenti sebagai pengalaman pribadi. Iman harus menjadi gerakan untuk berbagi. Di tengah masih adanya saudara-saudari yang hidup dalam kesulitan ekonomi, kesepian, atau kehilangan harapan, Gereja dipanggil untuk hadir dengan hati yang terbuka dan tangan yang siap menolong, bukan untuk mencari pujian, melainkan sebagai ungkapan syukur atas kasih Allah.

Di sisi lain, Yesus tidak menjanjikan bahwa setiap usaha kita akan selalu berhasil. Ada kalanya kebaikan dibalas dengan ketidakpedulian, kejujuran dianggap kelemahan, dan pelayanan tidak dihargai. Namun Yesus mengajarkan bahwa kesetiaan jauh lebih penting daripada keberhasilan. Tugas kita bukan memastikan semua orang menerima pewartaan kita, melainkan tetap setia menjadi saksi Kristus dalam keadaan apa pun.

Saudara-saudari terkasih, semoga kita tidak hanya bangga menjadi bagian dari Gereja, tetapi juga berani menjadi Gereja yang hadir di tengah masyarakat. Gereja yang membawa pengharapan bagi yang putus asa, menjadi jembatan persaudaraan di tengah perbedaan, serta menjadi tanda kasih Allah melalui tindakan nyata setiap hari. Dengan demikian, melalui hidup kita, orang lain dapat merasakan bahwa Kerajaan Allah sungguh sudah dekat. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

Fr. Antonius Bintang C.

Leave a Reply

Your email address will not be published.