
PALEMBANG — Di balik riak ombak Pantai Rio dan beningnya perairan Taman Nemo Pahawang, ada riak lain yang sedang diresapi oleh keluarga besar SMA Xaverius 1 Palembang. Memasuki usia yang ke-75 tahun, sebuah usia matang bagi lembaga pendidikan, sekolah ini tak hanya merayakan perjalanan panjangnya dengan pesta, tetapi juga dengan berefleksi dan memulihkan energi bersama.
Sebanyak 65 guru dan karyawan SMA Xaverius 1 Palembang menempuh perjalanan lintas provinsi menuju Lampung, Sabtu (22/8/2026). Menggunakan dua bus pariwisata, rombongan bertolak dari halaman kantor Yayasan Xaverius Palembang untuk mengikuti agenda rutin tahunan yang kali ini dikemas berbeda: memadukan kehangatan gathering yang rekreatif dengan kedalaman suasana rekoleksi. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 22-24 Agustus 2026.
Menjalin Keakraban

Hari pertama dan kedua diisi dengan melepas penat dari rutinitas persekolahan. Deburan ombak besar dan hamparan pasir putih di Pantai Rio, Kalianda, Lampung Selatan menjadi tempat persinggahan pertama. Tawa dan kebersamaan berlanjut hingga esok harinya saat rombongan menyeberang menuju Pulau Kelagian Besar di Kabupaten Pesawaran.
Di pulau tropis bernuansa asri ini, ragam fun games digelar untuk melunakkan sekat-sekat antarstaf dan mempererat persaudaraan. Usai memompa semangat lewat permainan, rombongan bergeser ke Pulau Pahawang untuk menikmati hidangan khas desa wisata berupa ikan bakar sambal dan es kelapa muda yang segar. Kegiatan rekreasi pun ditutup manis dengan snorkeling menyapa terumbu karang dan ikan-ikan di Taman Nemo.
Namun, rekreasi hanyalah pintu masuk. Perjalanan sebenarnya baru dimulai ketika rombongan tiba di Rumah Khalwat Ngison Nando, Kalianda, untuk memasuki sesi rekoleksi.
Menghadapi “Gelombang” Zaman

Dipandu oleh Romo Antonius Edy Prasetyo SCJ, seorang alumnus SMA Xaverius 1 yang berkarya di Universitas Katolik Musi Charitas, rekoleksi mengusung tema Reflecting the Journey, Renewing the Spirit pun dimulai. Dalam suasana hening dan penuh permenungan, Romo Edy mengajak para peserta melihat realitas SMA Xaverius 1 hari ini.
Dahulu, sekolah ini berdiri menjadi salah satu ungguan dan pilihan utama masyarakat Sumatera Selatan. Namun kini, lanskap pendidikan telah berubah. Sekolah-sekolah baru dengan modal besar dan fasilitas modern bermunculan menjadi pesaing ketat.
Romo Edy mengibaratkan dinamika ini sebagai “gelombang-gelombang” yang harus diarungi. Alih-alih merasa gentar, ia menegaskan bahwa pimpinan, pendidik, dan tenaga kependidikan harus berjalan bersama, berinovasi, serta menyederhanakan hambatan birokratis internal agar SMA Xaverius 1 tetap menjadi rumah belajar terpercaya bagi masyarakat.
“Sekolah sering kurang leluasa mengeksekusi program atau membuat terobosan-terobosan di lapangan karena harus menyesuaikan rencana-rencana tersebut dengan sudut pandang dari lembaga pengelola karya pendidikan yang membawahi sekolah-sekolah tersebut,” tuturnya.
Mendengar dan Menerima
Salah satu poin penting yang disuarakan dalam rekoleksi ini adalah hakikat kehadiran seorang guru di mata murid. Romo Edy mengingatkan bahwa kepandaian dan penguasaan materi saja tidak cukup untuk merebut hati siswa.
“Murid mempercayai gurunya bukan hanya karena guru itu cerdas, melainkan karena mereka merasa diterima, diperhatikan, dan didengarkan,” ungkapnya. Guru juga diajak untuk menjadi pribadi yang jujur, bersahaja mengakui kelemahan, serta pandai menjaga kerahasiaan dan martabat muridnya.

Dalam sesi diskusi, para guru secara terbuka membagikan tantangan di lapangan, seperti besarnya jumlah siswa dalam satu kelas serta keterbatasan waktu untuk memberikan perhatian personal secara menyeluruh. Kendati demikian, berbagai langkah kreatif mulai diterapkan, salah satunya melalui prinsip Option for the Weak and Empowering the Strong. Melalui strategi ini, siswa yang rentan mendapat pendampingan ekstra, sementara siswa yang unggul diberdayakan sebagai tutor sebaya (Peer-Tutoring).
Melayani dengan Hati
Mengakhiri rangkaian kegiatan di Lampung pada Senin (24/8), keluarga besar SMA Xaverius 1 Palembang membawa pulang komitmen baru. Usia 75 tahun bukan sekadar pengingat akan kejayaan masa lalu, melainkan panggilan untuk terus memperbarui pelayanan.
Para guru dan karyawan berikrar untuk mengenal setiap murid secara lebih mendalam, memetakan kebutuhan mereka, serta menjadikan sekolah sebagai ruang yang aman dan ramah bagi tumbuh kembang anak-anak yang dipercayakan kepada mereka dengan satu kunci utama: melayani dengan hati.
***Daniel D. Lesmana (Tenaga Pendidik Seminari Menengah St. Paulus & SMA Xaverius 1 Palembang)
