PALEMBANG — Suasana hangat dan penuh sukacita mewarnai perayaan Pesta Nama Lingkungan Santo Lukas Paroki Santo Petrus Kenten, Palembang yang digelar di Pendopo Paroki pada Minggu (18/10/2026) petang. Perayaan yang dihadiri Pastor Paroki St. Petrus, Romo Gregorius Wahyu Wurdianto SCJ, Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santo Petrus, Nikasius Suseno, para suster FCh dari Biara Santa Agnes Praha Kenten, para ketua lingkungan setempat, dan puluhan umat.

Kemeriahan perayaan ini tak lepas dari peran Orang Muda Katolik (OMK) Lingkungan Santo Lukas yang dipercaya sebagai panitia inti dikoordinir Baltazar Nico. Dipandu oleh pembawa acara Jessica dan Joani, acara diawali dengan gerak dan lagu yang dibawakan penuh semangat oleh OMK. Seluruh umat pun ikut bernyanyi dan menari bersama, mencairkan suasana sejak awal perayaan. ni menjadi momen berkesan bagi seluruh umat, mulai dari anak-anak, kaum muda, hingga para lansia.
Selain sebagai ajang perjumpaan persaudaraan, perayaan ini juga menjadi sarana refleksi atas perjalanan kepemimpinan Lingkungan Santo Lukas dari masa ke masa. Semangat pelayanan tersebut tercatat terus berlanjut secara konsisten melalui jajaran ketua lingkungan, mulai dari Sugeng Indarto pada periode 2010–2016, Paulus Selamet (2019–2022), M. Pargiyanto (2022–2025), hingga kepemimpinan saat ini oleh Johanes Beda (2025–2028).
Dalam sambutannya, Romo Gregorius Wahyu Wurdiyanto SCJ, mengapresiasi tinggi kebersamaan yang terjalin erat di Lingkungan Santo Lukas. Ia secara khusus menggarisbawahi pentingnya regenerasi dan perhatian kepada generasi muda demi masa depan gereja.

“Saya berharap lingkungan ini semakin bertumbuh menjadi komunitas yang rukun, makin kompak, dan saling mendukung satu sama lain. Mari kita terus memperhatikan orang-orang muda sebagai generasi yang akan menggantikan kita ke depan,” ujar Romo Wahyu.
Meneladani Santo Lukas
Romo Wahyu juga mengajak umat untuk mendalami makna pelindung mereka, Santo Lukas, dalam kehidupan sehari-hari. Meneladani sosok Santo Lukas yang dikenal sebagai seorang tabib, umat diimbau untuk hadir sebagai agen penyembuh di tengah masyarakat, bukan sekadar menyembuhkan penyakit fisik, melainkan juga menyembuhkan luka batin, meredakan perselisihan, dan membawa kedamaian.
Lebih lanjut, Romo Wahyu menekankan pentingnya menghidupi Injil Kerahiman dengan menjadikan lingkungan sebagai rumah yang ramah, terbuka, serta aktif dalam aksi sosial tanpa membeda-bedakan status. Seluruh pelayanan tersebut diharapkan senantiasa berakar pada doa sebagai napas kehidupan rohani dan berlandaskan kerendahan hati seperti Bunda Maria. Sikap setia kawan dan solidaritas juga perlu terus dipupuk agar tidak ada warga lingkungan yang merasa sendirian atau terasing saat menghadapi persoalan hidup.
Menanggapi imbauan Keuskupan Agung Palembang terkait Arah Dasar V, Tahun Pendidikan, Romo Wahyu juga mengajak seluruh umat untuk bersama-sama memperhatikan pendidikan anak-anak di sekitar mereka, sehingga tidak ada anak yang sampai putus sekolah.

Imam dehonian ini menutup arahannya dengan bait-bait pantun khas Palembang: Pergi ke pasar membeli ikan, Ikan gabus dimasak pindang. Lingkungan St. Lukas bersatu kuatkan persaudaraan, Makin kompak, makin maju, makin menjadi bintang.
Puncak Kemeriahan
Acara puncak ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Pastor Paroki didampingi Ketua DPP, para suster, dan pengurus lingkungan. Potongan tumpeng pertama diserahkan secara khusus kepada para sesepuh lingkungan dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama.

Kemeriahan berlanjut saat pembagian doorprize yang disambut riuh gelak tawa dan sorak-sorai umat. Seluruh rangkaian perayaan kemudian ditutup dengan ramah tamah dan makan malam bersama dalam suasana persadaraan.
***Fransiska Panca S
