Mempersiapkan Imam-Imam Era Peradaban Digital

Sebagai rangkaian Yubileum 75 tahun, Seminari Menengah Santo Paulus Palembang mengadakan seminar dengan diskusi panel pada Sabtu (2/7) lalu. Kegiatan berlangsung di Xaverius Centrum Studiorum yang dihadiri oleh alumni seminari atau dikenal dengan sebutan PASPAPA (Paguyuban Alumni Seminari Menengah Santo Paulus Palembang).

Rm Petrus Sugiarto SCJ, rektor seminari, memberikan sambutan awal sekaligus membuka secara resmi kegiatan ini.

“Terima kasih kepada alumni seminari yang selama lima tahun terakhir semakin semangat dan banyak hal yang diberikan kepada seminari. Ada banyak kegiatan dan kontribusi serta sumbangan perhatian. Selalu menemani para seminaris dalam berproses, sehingga kami merasa tidak berjalan sendiri,” ucap Rm Sugiarto.

Mengusung tema “Mempersiapkan Imam-imam Era Peradaban Digital” seminar ini bertujuan untuk menginspirasi para alumnus agar mengetahui bagaimana cara mempersiapkan para calon imam di zaman yang penuh tantangan ini. 

“Kalau bukan kita siapa lagi? Umat sudah turut ambil bagian apalagi para alumnus,” tambahnya.

Seminar dibagi dalam tiga sub tema. Pertama, “Digitalisasi  sebagai peradaban baru, fenomenologi digital di berbagai sektor menjadi gelombang yang tak terhindarkan” yang dipaparkan oleh Dr. Ignasius Hendro Setiawan. Beliau merupakan penulis dan tokoh awam.

Kedua, “Bagaimana peradaban digital berpengaruh pada kehidupan beriman dan kehidupan menggereja” yang dipaparkan oleh Rm Dr. Yustinus Slamet Antono, S.Ag. M.Si., dosen filsafat Unika St. Thomas Medan.

Ketiga, Rm Albertus Joni SCJ, Imam biarawan dan praktisi pendidikan memaparkan tentang “Transformasi Digital, Imamat, dan Reksa Pastoral – Bagaimana pengaruh digitalisasi terhadap Imamat dan reksa pastoral”.

Sebagai alumnus seminari tahun 1964 Mgr. Aloysius Sudarso SCJ juga turut hadir dalam acara tersebut dan memberikan sambutan akhir. Ia menyampaikan bahwa ia senang dengan forum PASPAPA yang datang memberikan sesuatu yang sangat berharga bagi Gereja maupun masyarakat melalui pendidikan. Di era ini kita dibombardir oleh informasi-informasi dari  berbagai media. Karena itu, sangat penting bagi kita untuk menciptakan pikiran yang terorganisir dan berpikir lurus.

“Sejak kecil, anak-anak kita dihadapkan dengan pilihan yang begitu banyak. Kita sendiri juga dihadapkan pada pilihan-pilihan itu. Namun selanjutnya kita bisa menentukan bagaimana kita dapat hidup sehat, tidak gila pada hal-hal yang dilimpahkan begitu saja. Hal apa pun itu, bahkan dalam pemilihan calon, calon istri dan suami,” tutur Mgr. Sudarso.

Beliau mengungkapkan kekuatiran terhadap orang-orang muda. Ia mengatakan, tidak mudah mengambil keputusan pada zaman ini. Menjadi sesuatu yang berat, karena begitu banyak tawaran yang disuguhkan oleh media.  

“Bagaimana dengan orang-orang muda kita? Mereka terlalu banyak menerima informasi, terlalu banyak keputusan-keputusan bahkan ide-ide yang ditawarkan. Ide-ide yang bukan hanya ide biasa tetapi ide yang idealistik. Hal ini menyebabkan anak-anak muda kita bisa berubah dalam hidup ini. Bahkan orang dewasa pun bisa dengan mudah berubah,” tutur pria yang kerab disapa Mgr. Aloy ini.

Menurut beliau, kita juga tidak memiliki kemampuan yang cukup dan cara yang mudah untuk mengatasi hal tersebut. Meski banyak tawaran tulisan dan sebagainya tentang organize mind. Bagaimana mengorganisir pikiran kita terhadap informasi-informasi zaman ini.

Karena itu, ia meneruskan pesan Bapa Suci tahun 2003 ketika para uskup se-Asia berkumpul untuk berbicara tentang komunikasi sosial di antara orang-orang muda.

“Coba perhatikan supaya Gereja tidak tersingkirkan, terpinggirkan dalam dunia seperti ini.”

“Gereja jangan sampai tersingkirkan dari dunia informasi, dunia digital seperti ini. Itulah hal utama yang harus kita pikirkan untuk keselamatan Gereja dan orang-orang muda. Melalui berbagai cara entah bagaimana kita tetap berkatekese, mengadakan seminar atau diskusi, dan menyumbangkan ide-ide yang perlu diserap oleh masyarakat dalam kehidupan kita ini,” sambung Mgr Sudarso.

Menurut Mgr Sudarso, ketika kita berbicara tentang komunikasi sosial tentu yang diutamakan adalah bagaimana menangkap komunikasi yang singkat tapi benar. Banyak media yang memberikan ide-ide yang idealisme. Bahkan ilmu science yang menjadi scientis. Seakan-akan ilmu dapat memecahkan semua masalah. Banyak ilmuwan yang tidak berhubungan dengan agama. Mereka merasa bahwa ilmu dapat memecahkan masalah-masalah itu.

“Pemikiran seperti itu dapat mengubah pandangan kita terhadap agama. Maka Bapa Suci menegaskan jangan sampai iman kita tersingkir. Pewartaan tersingkir dalam dunia digital seperti ini. Karena itu, pertemuan seperti ini sangat membantu terutama mencarikan solusi-solusi cara mendidik orang-orang muda kita,” pungkasnya. **

Kristina Yuyuani Daro

Leave a Reply

Your email address will not be published.