Pada sesi kedua Seminar Pendidikan dalam rangka Dies Natalis ke-7 Universitas Katolik Musi Charitas, Sr. Dr. M. Pauli FSGM menyampaikan materinya tentang Sekolah Katolik yang Kokoh Melintas Zaman.
Suster Pauli yang merupakan Ketua Yayasan Dwi Bakti Bandar Lampung menggarisbawahi empat spiritualitas dalam materinya, yakni Human Capital Management di Era 4.0, Building HR & Market Place, Swarm Leadership, dan Blue Ocean Strategy.

Sebelumnya, Suster Pauli menyoroti kurikulum merdeka yang saat ini tengah digerakkan. Prinsip kurikulum merdeka menenkankan pengembangan peserta didik secara holistic, kualitas, mengatasi kesenajangan, dan pendekatan personal terhadap peserta didik. Hal ini telah sejalan dengan spirit pendidikan Katolik. Maka, Suster Pauli mengajak para peserta seminar yang merupakan para pendidik dan orang-orang yang fokus pada dunia pendidikan, untuk bisa mengelola human capital atau SDM, dalam hal ini pengurus yayasan, kepala sekolah, sertaa guru dan tenaga kependidikan.
“Untuk mencapai sebuah tujuan, butuh pribadi-pribadi pembaharu yang punya ‘api’, komitmen, dan keberanian, pribadi yang tahan ‘disepak’. Ini permasalahan yang kita hadapi. Kita semua adalah human capital,” ucapnya.
Dalam pengelolaan human capital ini, lembaga pendidikan Katolik butuh kepemiminan/leadership manajemen model baru yang menyadari bahwa ide, keputusan, dan inovasi dapat timbul dari kolaborasi dan jejaring terbuka. Lebih lanjut, Suster Pauli mengatakan bahwa lembaga pendidikan Katolik membutuhkan pemimpin yang adaptif, mudah terhubung, kolaboratif, dan responsive terhadap setiap situasi. Beliau mengibaratkan pemimpin seperti seekor rusa.
“Pemimpin harus seperti rusa. Rusa adalah sasaran empuk hewan buas. Kalau rusa tidak responsif ketika ada pemangsa, dia akan dimakan. Pemimpin harus seperti itu juga, responsif!” tegasnya.
Menjadi seorang pemimpin di zaman sekarang juga harus menyadari perubahan zaman yang kini telah memasuki industry 4.0, dimana revolusi digital dipicu oleh internet dan berbagai perkembangan teknologi yang super cepat. Menanggapi hal ini, Suster Pauli memberi solusi untuk menerapkan constructing leadersip 4.0 yang mengubah pradigma dari kepemimpinan karismatis dan sister control ke swarm leadership.
Swarm leadership adalah model kepemimpinan yang saling memiliki, terhubung, dan kolaboratif, mengorganisasi, serta penghubung andal yang responsif dalam sistem kolaborasi. Menurut Suster Pauli penting untuk dapat menerapkan swarm leadership ini dalam lembaga pendidikan Katolik, terlebih dalam perkembangan zaman dan pendidikan yang dipengaruhi industry 4.0.
Oleh karena itu, lembaga pendidikan butuh strategi agar semakin ‘gesit’ dan semakin memiliki nilai tambah. Lembaga pendidikan Katolik dapat menerapkan Blue Ocean Strategy dimana visi kongregasi/gereja/pendiri lembaga pendidikan Katolik ke dalam seluruh proses dan dinamika pendidikan seirama tuntutan zaman, dengan model baru yang inovatif dan sulit ditiru.
“Kita harus bisa menciptakan peluang di samudera yang dalam. Mencari keunggulan yang tidak dimiliki orang lain. Bermainnya disitu. Baru pelan-pelan membangun branding dan eksistensi kita. Maka kita bisa bersaing,” terang Suster Pauli. **
