Menyingkirkan Egoisme

Hidup bersama mesti selalu dipenuhi oleh pengertian demi pengertian. Hal ini menjadi pupuk dalam membangun keharmonisan hidup.

Di sebuah pusat perbelanjaan ada seorang anak perempuan kecil yang menjual bunga mawar kepada orang-orang yang lewat. Anak itu biasa berjualan di sana dari siang hari hingga petang.

Suatu siang saat melewati pusat perbelanjaan, anak kecil itu mendekati seorang pemuda. Dia menawarkan bunga mawar, “Om mau beli bunga mawar, Om? Bisa buat istri atau pacarnya Om. Murah kok. Lima ribu saja.”

Pemuda itu menolak dengan halus tawaran itu karena terburu-buru. Ia sempat melihat di keranjang anak itu masih tersisa sekitar dua puluh tangkai mawar. Sore harinya pemuda itu lewat pusat perbelanjaan itu lagi. Ia melihat si anak kecil masih menawarkan bunganya. Tampaknya gadis itu lupa kalau siang tadi telah menawarkan bunga. Pemuda itu melihat di dalam keranjang masih ada sekitar empat belas tangkai mawar.

Pemuda itu merasa iba. Namun karena masih memiliki urusan dan tidak membutuhkan bunga, ia menolak dengan halus. Lalu ia memberi anak itu selembar uang lima ribu. Anak itu mengambil uang lalu memberikannya kepada seorang pengemis di dekat sana.

“Kenapa uangnya dikasih ke pengemis? Adik nolak rezeki?” tanya pemuda itu.

“Saya ke sini karena disuruh ibu untuk jualan. Yang ke sini buat minta-minta pengemis itu,” jawab anak itu.

Bersihkan Diri

Dalam hidup bersama sering terjadi salah sangka. Orang yang temperamental akan menanggapi salah sangka itu dengan emosi yang meluap-luap. Orang seperti ini tidak mau menerima salah sangka. Orang seperti ini sering menuntut kesempurnaan hidup.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tetap sabar dalam menjalani hidup ini. Yang kita berikan kepada orang lain itu sudah menjadi milik orang itu. Orang itu mau gunakan untuk apa, terserah dia. Pemuda itu masih ingin mengatur pemberiannya. Sebenarnya tidak perlu lagi, karena sudah menjadi milik gadis penjual mawar itu.

Untuk itu, yang dibutuhkan dari diri kita adalah membersihkan diri dari egoisme. Cinta diri yang berlebihan mesti disingkirkan dari hidup kita. Kita membangun suatu pengertian yang mendalam akan kehadiran orang lain dalam hidup kita. Kita mesti percaya bahwa yang dilakukan oleh orang lain pasti bermanfaat bagi diri dan sesamanya. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.