Umat Paroki St. Stefanus Talang Betutu punya pastor paroki baru. Minggu, (26/2) dilangsungkan Ekaristi serah terima jabatan Pastor Paroki St. Stefanus Talang Betutu, Keuskupan Agung Palembang dari Romo Anselmus Ola Soni ke Romo Simon Margono. Ekaristi pagi yang dihadiri oleh ratusan umat ini, dipimpin langsung oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono, yang didampingi oleh enam orang imam.

Peristiwa pelantikkan dilakukan usai homili, yang didahului dengan pembacaan surat keputusan uskup. Lantas, pastor paroki baru mengikrarkan syahadat iman dan dilanjutkan dengan janji kesetiaan. Janji akan setia mengabdi dengan tulus hati sebagai pastor paroki, sekaligus setia pada magisterium atau ajaran Gereja.

Dosa Karena Tidak Bertanggung Jawab
Dalam homilinya, Uskup Agung Yuwono menyinggung tentang bacaan pertama hari Minggu Prapaskah I. Bacaan itu mengisahkan bagaimana manusia pertama, Adam dan Hawa jatuh pada dosa. Menurut Bapak Uskup, Adamlah yang dikatakan manusia pertama yang berdosa, bukannya Hawa, meskipun Hawa yang memberikan buah terlarang kepada Adam.
”Andaikan Adam menghidupi tanggung jawabnya sebagai pelindung perempuan, dia pasti akan mengusir ular itu. Ular pasti taat, karena ular berada di kuasa ular itu. Dosa berasal dari Adam, karena Adam tidak menghidupi tanggung jawabnya. Ular menggoda istrinya dan karena dosa Adamlah, maut ada. Itulah mengapa Kristus berinkarnasi sebagai seorang laki-laki, karena Dia yang menebus dosa manusia pertama,” jelas Uskup Harun.
Dosa terjadi karena lalai akan tanggung jawab. Maka, kata Uskup Agung, kita dipanggil untuk menjadi anak-anak Allah yang bertanggung jawab. “Bertanggung jawab karena rahmat, panggilan, karena hidup Allah sendiri telah diberikan kepada kita, karena itu marilah kita hidupi hidup Allah yang telah diberikan kepada kita ini dengan menjadi anak-anak Allah,” ajaknya.

Bertanggung Jawab Karena Allah Selalu Mengasihi
Dalam Kitab Suci, dikatakan Allah menghembuskan nafas-Nya kepada manusia. Dengan demikian, Allah sendiri memberikan hidup-Nya kepada manusia. ”Andaikan Allah tidak memberikan hidup-Nya, manusia hanyalah debu yang tidak bernyawa. Namun karena Allah memberikan hidup-Nya, maka manusia adalah prototype Allah. Karena itu martabat manusia sungguh sangat mulia.”
Yesus adalah teladan utama kita dalam bertanggung jawab. Dia menghidupi perutusannya dengan menolak cobaan-cobaan di padang gurun, tatkala Dia berpuasa selama 40 hari, 40 malam. “Apapun tawaran dunia, Tuhan tidak tergoda, karena ingin setia pada kehendak-Nya, mengasihi manusia tanpa pamrih. Kalau dengan pamrih, Allah bisa menghukum manusia. Karena tanpa pamrih, pun kalau manusia telah berdosa, Allah tetap mengasihi,” jelasnya.
Karena kasih Allah ini, kita bertanggung jawab untuk saling mengasihi. “Dalam arah dasar keuskupan kita, ditetapkan spiritualitas yang harus kita hidupi: seperti Kristus, berkenan kepada Allah dengan mengasihi tanpa pamrih dalam persaudaraan sejati. Sebab kita ini saudara-saudari Kristus dan saudara-saudari satu sama lain,” tutur Uskup Harun.


Serah Terima Jabatan
“Terima kasih, saya belajar bersama dengan Anda, dan terus belajar untuk berjuang menjadi imam yang baik di tempat tugas yang baru. Terima kasih untuk semuanya. Saya mengucapkan terima kasih, karena Anda telah memberikan yang terbaik selama saya berkarya di paroki ini,” kata Romo Ansel.
“Kami, saya dan Romo Misran, akan melanjutkan pelayanan Romo Ansel. Saya sudah kedua kalinya ke sini. Tentu tidak seperti dua puluh tahun yang lalu. Kini saya sudah tua. Dan karena sudah tua, maka kami berdua diutus ke sini, saya dan Romo Misran. Mudah-mudahan, meskipun tua, kami masih sehat untuk melayani,” kata Romo Simon.
“Apa yang sudah dilakukan Romo Ansel yang baik, mari kita lanjutkan dan tumbuh suburkan. Kita diharap untuk bergandeng tangan bersama, mewujudkan visi dan misi keuskupan, agar apa yang menjadi cita-cita bapak uskup dapat terwujud. Terima kasih boleh menerima saya,” kata Romo Misran, yang menjadi pastor pembantu.
**Kristiana Rinawati
