Romo Teja, saya sedang dihadapkan pada masalah. Saya seorang suami yang baru saja tiga tahun menikah. Dulu kami sama-sama bekerja di salah satu perusahaan swasta. Tapi sejak awal pernikahan kami, telah ada kesepakatan di antara kami, yaitu saya yang bekerja sedang sang istri yang mengurus rumah tangga.
Tetapi di tengah perjalanan pernikahan, setelah kami mempunyai seorang anak entah pikiran apa yang merasuki istri saya. Setiap akhir bulan ia selalu meminta semua uang dari gaji saya. Bagi saya, itu tidak menjadi masalah karena saya masih memiliki uang bonus setiap penjualan dari perusahaan. Tetapi uang bonus itu juga dimintanya. Alasannya, untuk membeli susu anak kami.
Saya tidak ingin pernikahan saya ini hancur di tengah jalan. Masalahnya pernah satu kali istri saya minta cerai karena alasan keuangan. Yang ingin saya tanyakan:
Pertama, apakah dibenarkan seorang istri meminta semua uang gaji suaminya dan juga uang bonus suaminya untuk membeli susu anaknya? Kedua, apakah hanya alasan keuangan kami mesti bercerai?
Ketiga, apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi masalah ini?
Seorang umat di Lampung

Dari pengantar kata yang Anda ungkapkan saya jadi teringat kebenaran
fakta yang mengatakan, usia kritis suatu perkawinan adalah antara usia tiga tahun sampai dengan tujuh tahun. Dalam masa-masa ini suami istri semakin mengenal pribadi yang sebenarnya dari pasangan mereka. Mereka saling memahami kelebihan dan kelemahan masing-masing.
Apa yang disembunyikan dulu pada masa pacaran, pada masa ini semua menjadi tampak. Bisa jadi mereka berdua terkejut melihat kenyataan yang mereka alami. Hal ini terutama akan terjadi pada mereka yang pada masa pacaran tidak saling terbuka dan saling mengenal dengan jujur.
Romantika indah kehidupan cinta berdua sebagaimana dialami pada waktu masih pacaran semakin luntur dan jarang dinikmati. Mereka terbuai dengan kesibukan masing-masing. Suami sibuk mencari nafkah dengan kerja tanpa istirahat, sedang istri sibuk mengurus kehidupan keluarga dan anak-anak.
Sementara itu kehadiran anak dalam keluarga akan menjadi masalah tersendiri, terutama bila hal ini tidak dilihat sebagai suatu buah kasih dan tidak dipersiapkan secara matang. Dalam situasi seperti ini, menjadi sangat mungkin bahwa suami atau istri mengalami suatu perubahan. Apa yang dahulu diimpikan dan diharapkan ketika masih pacaran tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapi.
Berdasarkan pemikiran seperti ini saya melihat masalah ini sebenarnya bukan masalah besar dalam kehidupan keluarga, sehingga menggoncang perjalanan bahtera kehidupan perkawinan Anda.
Menurut saya, sebenarnya pertanyaan Anda itu kurang tepat. Karena pertanyaan itu mengisyaratkan atau mengandaikan Anda kurang memahami secara tepat apa yang semestinya Anda lakukan sebagai kepala keluarga. Masalahnya bukan terletak pada ‘dibenarkan atau tidak’, tetapi terletak pada bagaimana Anda berdua sebagai suami istri menangani masalah ekonomi rumah tangga.
Anda mengatakan, sejak awal perkawinan, Anda berdua telah mempunyai kesepakatan bahwa Anda yang bekeja dan istri Anda yang mengurus keluarga. Tampaknya hal ini merupakan suatu kesepakatan yang baik. Terutama bila kesepakatan ini dibuat berdasarkan suatu kesadaran bahwa urusan keluarga merupakan prioritas utama dalam kehidupan keluarga Anda. Namun tampaknya Anda tidak menyadari betul bahwa kesepakatan itu menjadi awal konflik dan salah pengertian di antara Anda berdua.
Mengurus dan mengatur kehidupan keluarga tidaklah cukup hanya didasari oleh adanya kesepakatan. Namun hal ini meupakan suatu tugas dan tanggung jawab bersama. Tidak bijaksana bila hanya ditumpukan pada satu orang sedang yang lain tinggal menunggu hasilnya yang serba beres dan baik.
Anda meletakkan masalah kesulitan mengatur kehidpan ekonomi keluarga sebagai alasan untuk minta cerai. Tidak ada alasan apapun yang bisa memisahkan dan menceraikan pasangan suami istri dari perkawinan Katolik yang resmi dan sah, kecuali karena kematian.
Menurut saya, yang perlu Anda berdua lakukan sekarang adalah membina relasi yang benar antara Anda dan istri Anda. Maksudnya, Anda sungguh berusaha memahami secara benar dan tepat tentang makna menjadi seorang suami yang kristiani. Selain itu istri Anda semestinya juga semakin sadar betul akan tugas seorang istri sebagai ibu rumah tangga. Tuntutan istri Anda yang kurang tepat terhadap kebutuhan keuangan merupakan suatu tanda negatif bagi Anda untuk duduk bersama dan membicarakan kehidupan keluarga Anda secara tenang dan jujur.
Dalam kebanyakan keluarga kristiani, masalah ekonomi keluarga adalah masalah yang mesti diatur bersama-sama. Sepertinya Anda tidak terbiasa berbicara bersama mengenai pengaturan ekonomi keluarga Anda. Kalau hal ini tidak pernah dilakukan, inilah saatnya bagi Anda berdua untuk berbicara dan membuat bugdet untuk kehidupan keluarga Anda. Berapa uang yang diterima setiap bulan dan berapa pengeluaran pokok untuk kebutuhan keluarga yang harus dikeluarkan.
Anda harus mengetahui secara persis berapa uang yang Anda terima setiap bulan dan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan pokok dan lain-lainnya, sehingga tidak terjadi defisit. Sesuaikan bugdet Anda dengan gaji dan uang bonus yang Anda peroleh setiap bulan. Hindarilah pengeluaran yang melebihi pemasukan.
Adalah suatu kenyataan yang terjadi dalam kebanyakan keluarga kristiani bahwa pengaturan uang diserahkan sepenuhnya kepada sang istri. Istri yang bijak akan pandai-pandai mengatur dan mengelola keuangan keluarga sesuai dengan kebutuhan keluarga. Mengapa? Karena dialah ibu rumah tangga yang mesti mengatur kehidupan ekonomi keluarga. Sedangkan suami adalah kepala keluarga yang bertanggung jawab penuh terhadap kebutuhan rumah tangga itu.
Kerja sama antara suami dan istri dalam mengatur kehidupan ekonomi keluarga mengandaikan Anda sungguh saling mengenal dan saling memahami pribadi masing-masing. Tanpa adanya taraf cinta yang lebih tinggi dan saling pengertian yang mendalam hal ini tidak mungkin terjadi. Dalam sistem budaya paternalistik, suami selalu mengendalikan segalanya. Banyak suami yang tidak siap dan merasa ‘tidak harus’ memberikan uang kepada istri untuk mengaturnya.
Saya merasa yakin dalam pengaturan keuangan keluarga, istri lebih tahu daripada seorang suami. Istri lebih tahu persis berapa uang yang harus dikeluarkan untuk makanan atau kebutuhan yang lain, karena dia secara langsung mengatur penggunaan uang itu.
Karena itu, konflik yang sedang Anda hadapi ini merupakan kesempatan bagi Anda berdua untuk melihat kembali kehidupan keluarga Anda. Inilah kesempatan untuk semakin meningkatkan rasa saling pengertian dan relasi yang lebih mendalam sebagai suami dan istri.
Keluarga bukan sekedar tempat untuk singgah dan rumah untuk makan dan tidur. Keluarga adalah Gereja Kecil di mana kehidupan iman, kasih dan harapan mendapat wujudnya yang konkrit dalam relasi antara suami istri dan anak.
Memberikan uang kepada istri tanpa mengetahui tujuan dan penggunaan uang juga bukan tindakan bijaksana. Menyembunyikan uang dan berusaha untuk menggunakannya sebagai kebutuhan ‘pribadi’ juga bukan pada tempatnya dalam kehidupan keluarga. Keterbukaan dalam menggunakan dan mengatur uang dalam kehidupan ekonomi rumah tangga merupakan wujud kasih yang nyata.
Akhirnya, terima kasih atas kepercayaan Anda. Selamat belajar menjadi seorang suami dan kepala rumah tangga yang baik bagi istri dan anak-anakmu. Berdoalah tiada henti kepada Keluarga Kudus Nasareth dan belajarlah dari padanya. Bersyukurlah kepada Tuhan terhadap apa yang telah Anda terima. Tingkatkan hidup doa dalam keluarga dan Tuhan akan selalu memberkatimu dan keluarga.
Untuk keluarga-keluarga atau pribadi, Anda dapat melanjutkan refleksi Anda dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
Pertama, seandainya Anda adalah suami, bagaimana Anda menghadapi istri yang mata duitan? Kedua, seandainya Anda adalah istri, mengapa Anda menginginkan seluruh gaji suami Anda diserahkan kepada Anda? Ketiga, pernahkah Anda berdua duduk bersama untuk membuat perencanaan ekonomi rumah tangga Anda? Kalau belum, mengapa? **
V. Teja Anthara SCJ
