Tuhanlah Benteng Hidupku
(Sumber: Buku Visitasi kepada Sakramen Mahakudus dan Bunda Maria Yang Terberkati karya St. Alphonsus Maria de Liguori)
“Karena Ia bijak, Ia mengasihimu secara bijaksana.
Karena Ia baik, Ia mengasihimu dengan baik.
Karena Ia kudus, Ia menagsihimu dalam kekudusan.
Karena Ia adil, Ia mengasihimu secara adil.
Karena Ia maharahim, Ia mengasihimu dengan lembut dan belaskasih.
Karena Ia mengenalmu, Ia mengasihimu dengan kesabaran!”(St Yohanes Salib)

Pengajaran
Madah ofisi resmi mengatakan, “Tidak ada suku bangsa di manapun, yang mempunyai Allah sedekat Allah kita!” Tatkala bangsa-bangsa mendengar karya cintakasih Allah kita, mereka berseru, “Betapa baiknya Allah orang kristiani itu!”
Pujian itu tidak mengada-ada, karena tatkala mereka memanggil allah mereka bahkan dalam situasi “trance atau ekstase” sekalipun, tidak akan ada ceritanya bahwa Allah mereka datang dengan kasihnya seperti Allah kita.
Cobalah kalian mencari dalam kisah tradisi keagamaan mereka, kalian tidak pernah akan menemukannya. Hanya Allah kita yang menunjukkan kasih-Nya secara mengagumkan dan ajaib! Dia telah mencurahkan rahmat-Nya tanda bahwa Ia menyertai kita senantiasa, Emanuel, dan Ia tinggal siang malam untuk menghibur kita di atas altar yang kudus.
Bunda Maria berseru, “Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus” (Luk 1:49). Sementara pemazmur meyakini bahwa perbuatan-perbuatan besar itu merupakan tanda bahwa Ia mengasihi kita, “Besar perbuatan-perbuatan Tuhan, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukai-Nya. Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan-Nya peringatan; sungguh Tuhan itu pengasih dan penyayang!” (Mzr 111:4)
Tanggapan Jiwa
Yesusku yang manis, engkau telah menyenangkan kami umat-Mu dengan perbuatan-perbuatan yang ajaib; dengan tinggal dan hadir untuk kami, Engkau memuaskan kerinduan hati kami. Mengapa masih banyak orang yang menjauh dari hadirat-Mu? Bahkan menyangkal-Mu? Bagaimana mereka bisa hidup jauh daripada-Mu, atau sangat jarang mengunjungi-Mu? Bagaimana mereka bisa merasa sia-sia, gelisah dan rugi tatkala menyediakan waktu bagi-Mu; bahkan hanya lima belas menit saja sudah dianggapnya lama, serasa berabad-abad!
Oh, Yesusku yang sabar, betapa besar hati-Mu! Betul, ya Tuhanku, aku sungguh mengenal-Mu “kesabaran-Mu sangat mengagumkan!” Karena kasih-Mu itulah yang membuat manusia terbebas dari aneka belenggu. Perkenankanlah aku berkata, “kuatkanlah untuk senantiasa hadir di tengah kami orang-orang yang sering tidak tahu berterimakasih ini!”
Ya Tuhanku, Engkau sungguh sempurna dan memiliki kasih yang tak terbatas! Curahkanlah rahmat dalam hatiku supaya aku bisa menanggapi kemurahan-Mu dengan kesetiaanku menyembah-Mu. Pada suatu saat, aku akan gelisah dan cemas tatkala aku tidak hadir di hadapanMu karena aku mengasihi-Mu. Dengan bantuan rahmat-Mu aku akan mampu mencintai-Mu secara total, aku tidak akan lagi segan untuk tinggal bersama-Mu bahkan sepajang hari dan malam di bawah kaki Sakramen Mahakudus.
Oh, Allah Bapa yang kekal, aku mempersembahkan Putera-Mu terkasih: terimalah Dia demi aku dan curahkan kebaikan-Nya kepadaku supaya aku selalu dan antusias mengasihi Sakramen Mahakudus, di mana Yesus bertakta di dalam setiap Gereja. Ya Yesusku, aku senantiasa rindu tinggal diam dan menikmati kehadiran-Mu. Ya Bapa, demi kasihku pada Yesus, berilah aku rahmat-Mu untuk mencintai Sakramen Mahakudus.
Visitasi kepada Bunda Maria
Bunda Maria adalah “Menara Daud”. Secara misteri Roh Kudus, dalam Kidung Agung melukiskan siapakah Bunda Maria itu, “Lehermu seperti Menara Daud, dibangun untuk menyimpan senjata. Seribu perisai tergantung padanya dan gada para pahlawan semuaya!” (Kid 4:4).
Sebuah Menara dibangun di antara ribuan benteng, dan di sana ada tempat perlindungan dan tempat menyimpan senjata, untuk menyelamatkan mereka yang berlindung padanya. Mari ikut St. Ignasius yang mengatakan, ”Oh Perawan tersuci, engkaulah benteng pertahanan yang amat kuat bagi semua saja yang terdesak dalam peperangan!
Walaupun musuh terus-menerus menyerangku untuk merebutku dari rahmat Allah, engkau adalah benteng pertahananku ya Bunda yang terkasih! Engkau begitu kuat! Engkau sungguh tidak menganggap hina atau remeh peperangan itu dan engkau tidak mengabaikan mereka yang berlindung padamu; karena St. Ephrem menyebutmu, kubu pertahanan yang terpercaya! Maka lindungilah aku dan berperanglah untukku yang sangat mengharapkan pertolonganmu dan aku serahkan hidupku padamu!” ** Yohanes Haryoto SCJ
