Saya seorang mahasiswa sebuah universitas negeri. Di kampus, saya mengenal cewek yang menurut saya pribadinya sangat menarik, kendati ia berbeda agama dengan saya. Setelah jalan beberapa bulan, saya mencoba mengajaknya pergi ke gereja, karena saya melihat ia sendiri tidak pernah beribadah sesuai dengan agama yang tercantum pada kartu mahasiswanya.
Kendati cukup sulit mengajaknya ke gereja, tetapi ia bersedia juga ikut saya ke gereja. Beberapa kali ia bersedia ikut dengan saya ke gereja, saya melihat ia berminat. Tetapi setiap kali dia diajak, ia malu ikut saya ke gereja karena tidak ada teman.
Setelah kami menjalani masa pacaran selama satu tahun, akhirnya kami berpisah. Namun ia masih sesekali pergi ke gereja. Setelah saya putus dengan dia, sampai sekarang saya masih bingung mencari teman dekat yang lain. Apakah ia harus beragama sama seperti saya? Atau ia beragama lain? Tetapi selama ini saya merasa lebih sreg untuk memilih teman dekat yang bukan beragama seperti saya. Salahkah saya jika dalam hal ini memilah-milah? Bukankah Yesus meminta kita menjadikan semua bangsa muridNya?
Sekian dulu, Romo. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan Romo.
Salam sejahtera,
Robertus

Robertus yang sedang bingung dengan pacar berbeda agama. Pertama-tama mesti Anda sadari adalah Tuhan tidak melarang orang untuk memiliki pilihan pacar berbeda agama. Yang penting adalah bagaimana Anda menjalin hubungan yang penuh persaudaraan tanpa mendahulukan ego Anda. Yang juga mesti Anda pahami adalah bahwa sikap memaksakan agama kepada orang lain bukanlah suatu sikap terpuji.
Saya sangat bangga bahwa Anda berani mengajak (mantan) pacar Anda itu ke gereja meski ia tidak seiman denganmu. Yang penting adalah tindakan itu bukan karena terpaksa, tetapi keluar dari hatinya. Untuk membuktikan bahwa tindakan seseorang itu tulus, Anda dapat mengalaminya dalam perjalanan pergaulan Anda berdua. Sikap yang tulus akan tampak dalam tingkah laku seseorang. Juga sebaliknya.
Nah, persoalan yang Anda hadapi adalah Anda ingin punya pasangan berbeda agama. Itu baik. Namun persoalan pertamanya adalah apakah Anda mampu membina suatu perkawinan yang baik, kalau falsafah hidup Anda yang kental diwarnai oleh nilai-nilai kristiani berbeda dengan falsafah pasangan Anda yang beragama lain itu? Tidak mudah hidup dalam dua falsafah yang berbeda. Orang mesti mampu mempertemukan keduanya.
Yang saya kuatirkan adalah bahwa selama Anda belum bersatu dalam suatu bahtera perkawinan, persoalan beda agama ini bukan suatu masalah besar. Namun nanti kalau Anda sudah hidup dalam perkawinan lalu muncul persoalan-persoalan berkenaan dengan perbedaan agama. Itu nanti lebih repot lagi. Karena itu, kalau nanti Anda punya pasangan yang berbeda agama dengan Anda, Robertus mesti sungguh-sungguh mengerti siapa dia. Misalnya kepribadiannya, sifat-sifat dan falsafah hidupnya. Itu yang pertama.
Yang kedua adalah lebih bijaksana kalau Anda punya pasangan yang seiman dengan Anda. Dengan demikian di dalam bahtera rumah tangga Anda hanya ada satu falsafah hidup, yaitu falsafah yang berdasarkan pada nilai-nilai Injili.
Yang ketiga adalah kalau pasangan Anda itu mau menjadi katolik, segeralah menuntunnya agar ia dapat menjadi seorang katolik yang baik yang sungguh-sungguh memahami dan menghayati iman kristiani.
Terakhir, kalau terpaksa Anda harus hidup berumahtangga dengan pasangan berbeda agama, Anda mesti membangun hidup iman kristiani yang baik bagi dirimu sendiri dan bagi anak-anakmu yang akan lahir dari perkawinan itu. Semoga Tuhan memberkati Anda.
Anda dapat melanjutkan refleksi Anda dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
Pertama, seandainya Anda adalah orangtua dari anak-anak Anda yang ingin membangun hidup bersama dengan orang yang berbeda agama, apa reaksi Anda? Bagaimana Anda mengolah reaksi atau sikap Anda itu?
Kedua, seandainya Anda adalah seorang gadis Katolik yang sedang jatuh cinta dengan seorang pemuda pujaan hati yang berbeda agama dengan Anda, apa yang Anda lakukan kalau kekasih Anda membujuk Anda untuk mengikuti agamanya? **
V. Teja Anthara SCJ
