Saya seorang gadis yang masih muda. Saya mempunyai seorang teman cowok yang usianya beda 9 tahun dengan saya. Kami sudah lama akrab, bahkan keluarga saya sudah dekat dengan dia. Saya bingung, karena cowok itu pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada saya, tapi di lain pihak dia sudah punya pacar di luar kota.
Hampir setiap minggu dia datang ke rumah. Keluarga saya dan para tetangga menganggap dia sudah seperti pacar saya, padahal hubungan kami belum jelas. Memang saya menyayanginya, tetapi dia sudah punya pacar dan belum jelas hubungan mereka. Saya merasa takut akan perasaan ini. Romo, bagaimana saya harus menjelaskan hal tersebut kepada keluarga saya? Sepertinya keluarga saya sangat mengharapkan dia menjadi pasangan hidup saya, walaupun keluarga saya sudah tahu dia sudah punya pacar. Tolonglah saya, Romo.
Salam,
Kristiani

Kristiani yang dikasihi Tuhan. Saya berharap Anda memikirkan, merenungkan dan mempertimbangkan prinsip dalam persahabatan ini. Sebelum pria dan wanita saling mengikat diri lewat janji perkawinan, orang itu bebas. Mereka adalah milik siapa saja dan bisa memiliki siapa saja. Bahkan walaupun hubungan itu sudah pada taraf tukar cincin atau tunangan, secara hukum mereka belum terikat satu sama lain. Masih tetap terbuka kemungkinan untuk putus, bila memang ada alasan yang sangat mendasar.
Dalam kaitan dengan kasus yang sedang Anda hadapi ini, sebenarnya masalahnya sangat sederhana. Anda mengharapkan kepastian dari teman Anda itu. Kepastian atau kejelasan itu Anda peroleh bila teman Anda itu sudah memutuskan hubungan dengan pacarnya yang ada di luar kota. Sebenarnya dari pihak teman pria Anda sudah ada kepastian, yakni dia sudah mengungkapkan perasaan cintanya kepadamu. Sementara Anda merasa ragu untuk menjawab ya, karena Anda merasa dia masih ada ikatan dengan pacarnya.
Sebenarnya Anda tidak perlu bingung bila Anda memahami secara benar arti berpacaran. Menurut saya, berpacaran adalah masa di mana seorang pria dan wanita saling mencari dan mengenal siapa orang yang akan bisa menjadi teman hidupnya kelak. Pacaran adalah masa di mana seorang wanita dan pria mencoba mewujudkan impian dan harapan akan idealitas pria dan wanita pujaannya. Inilah masa mencari dan memilih, mengenal dan menentukan.
Karena itu, orang tetap bebas dan sebaiknya tidak mengikat diri hanya pada satu orang. Saya tidak menganjurkan Anda untuk menjadi playgirl atau playboy, tetapi menggunakan kesempatan masa pacaran, masa mencari dan memilih ini dengan bijaksana. Dalam konteks hidup perkawinan, kalau Anda salah memilih, padahal kesempatan memilih itu hanya satu kali, maka malapetaka akan menjadi teman Anda seumur hidup.
Setelah Anda merasa telah menemukan teman yang menjadi idola Anda, langkah selanjutnya adalah mengenal teman Anda itu secara jujur dan sungguh-sungguh. Kesalahan fatal yang dialami oleh banyak orang muda sekarang ini adalah sudah merasa yakin bahwa pacarnya itu akan menjadi teman hidup selamanya. Padahal mereka belum mengenal siapa pacar mereka itu sebenarnya.
Yang sering terjadi, karena sudah merasa terlalu yakin, mereka berani menyerahkan segalanya kepada pacar itu. Bahkan banyak yang bertindak seolah-olah mereka tidak bisa dipisahkan lagi. Mereka dibutakan perasaan cinta yang menggelora. Orang muda yang menjalani pacaran dengan cara ini akibatnya akan sangat fatal bagi orang itu bila mereka putus cinta.
Kembali kepada masalah Anda. Yang penting pada saat ini adalah mengenal pemuda itu secara jujur dan sungguh-sungguh. Apakah pemuda itu mencintaimu sungguh-sungguh atau cintanya kepadamu hanya sekedar pelampiasan rasa sepi karena jauh dari pacarnya? Waktu akan mengujinya dan ketegasan hati Anda dituntut. Sikap hati-hati dan bijaksana diperlukan, supaya Anda tidak terjerat pada cinta buta yang menghanyutkan.
Kalau memang belum ada kepastian dan Anda merasa ragu, katakanlah sejujurnya isi hatimu. Kesetiaan dalam bercinta itu perlu, namun ini bukanlah syarat wajib untuk mendapatkan jodoh yang tepat. Jangan merasa bahwa ganti pacar itu sebagai tanda ketidaksetiaan, melainkan lihat dan tempatkan masa pacaran pada proses mencari, mengenal dan memilih dan akhirnya memutuskan siapa di antara sekian banyak pemuda yang Anda rasa paling tepat sebagai teman hidup Anda selamanya.
Boleh saja berprinsip ‘sekali pacaran dengan satu orang untuk selamanya’, kalau Anda memang merasa orang itulah yang paling tepat menjadi teman hidupmu. Namun bila tidak, jangan paksakan kehendak dan hatimu untuk merasa harus memilih dia sebagai calon pasanganmu. Putus cinta pada masa pacaran selalu lebih baik daripada terpaksa ‘cerai’ setelah perkawinan.
Bicara jujur pada saat yang tepat adalah jalan yang paling baik untuk menjelaskan segala masalah yang Anda hadapi. Demikianlah hendaknya yang harus Anda lakukan kepada keluargamu. Mereka boleh berharap bahwa si pria itu akan menjadi teman hidup Anda, namun Andalah penentu harapan keluarga itu. Dukungan dari keluarga akan menambah rasa bahagia dan mantap dalam membina persahabatan, namun bisa juga menjadi beban bila diterima sebagai keharusan.
Semoga kepastian segera Anda dapat dari teman Anda, terutama setelah Anda tahu dan mengenal dia secara baik. Jangan lupa libatkan Tuhan dalam memilih pasangan. Bukankah kita yakin bahwa jodoh itu ada di tangan Tuhan? Berdoalah untuk itu. Berkat Tuhan melimpah.
Anda dapat melanjutkan refleksi Anda dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
Pertama, kalau Anda sudah tahu bahwa pacar Anda juga punya pacar di kota lain, apakah Anda pernah membicarakan hal ini berdua atau membiarkannya saja berlalu?
Kedua, bagaimana sikap Anda terhadap pacar Anda itu?
Ketiga, sebagai orang beriman, apakah Anda pernah membawa hal ini dalam keheningan doa bersama Tuhan Yesus? *
V. Teja Anthara SCJ
