Saya seorang mudika di sebuah paroki di Keuskupan Palembang. Di lingkungan sekitar tempat tinggal saya, saya termasuk orang yang cepat bergaul dengan siapa saja.
Suatu malam, sepulang dari kuliah saya tidak langsung masuk ke rumah, karena ada tetangga yang sedang asyik ngobrol. Lalu saya segera gabung dengan mereka dalam pembicaraan mereka. Ternyata lama-kelamaan saya semakin jauh terlibat. Dan baru saya ketahui bahwa salah seorang teman saya pernah menggunakan ekstasi jenis popeye. Ia mengaku tidak pernah merasa ada sugesti (kepingin) untuk mencoba lagi obat-obatan haram itu. Ketika saya tanya alasan ia meminum obat-obatan itu, ia mengaku karena malu cintanya ditolak cewek.
Yang menjadi pertanyaan saya, Romo, sebagai generasi penerus Gereja apakah saya harus menjauhi teman itu atau tetap berteman saja seperti biasa? Selama ini ia tidak pernah sekalipun menawarkan obat-obatan itu kepada saya. Yang membuat saya bingung adalah ada tulisan yang mengatakan pergaulan yang jahat merusak diri.
Ananda Ujo, Palembang

Ananda Ujo yang terkasih, Anda harus bersyukur telah diberi karunia untuk bisa bergaul dengan siapa saja. Sifat supel ini biasanya akan banyak menguntungkan bila digunakan secara tepat dan benar. Orang bijak mengatakan bahwa banyak teman itu baik, karena dengan demikian banyak rejeki akan datang. Namun dalam memilih teman pun harus hati-hati, karena teman yang sejati itu tidak mudah diperoleh. Sahabat sejati akan diuji oleh waktu dan disempurnakan oleh penderitaan.
Berhadapan dengan masalah Anda, kalau saya tidak salah menang¬kapnya, masalahmu sekarang adalah haruskah Anda menjauhi teman yang menjadi pengguna narkoba? Anda merasa bingung dengan ungkapan yang mengatakan pergaulan yang jahat merusak diri. Jawaban yang paling gampang dan singkat adalah tinggalkan teman-temanmu itu. Kenapa pusing-pusing memikirkan mereka? Lagi pula kalau Anda bergaul dengan mereka nanti bisa-bisa kena getah dari tindakan mereka yang ilegal itu. Jangan ambil resiko bila itu membahayakan dirimu. Saya yakin dengan sikap ini selesailah masalahmu.
Namun rasanya jawaban ini bukanlah yang Anda kehendaki. Dengan mengatakan sebagai ‘generasi muda penerus Gereja’ dan ‘seorang mahasiswa’, mengandaikan Anda adalah orang yang tanggap dan peka terhadap masalah sosial yang terjadi di lingkungan Anda. Situasi itu sekaligus mendorong Anda untuk ikut bertanggungjawab atas kesejahteraan masyarakat. Dengan dasar dugaan ini, saya berani mengatakan sebaiknya Anda tidak menjauhi teman-temanmu itu.
Talenta yang Tuhan berikan kepadamu justru bisa menjadi bekal untuk berkarya secara konkrit di tengah masyarakat yang sakit. Ini bisa menjadi suatu panggilan untuk berkarya di tengah umat yang membutuhkan. Kemampuanmu untuk mendengarkan ‘orang lain’ yang berkisah tentang diri dan perjuangannya bisa menjadi kesempatan untuk ’berkonseling’. Membantu mereka keluar dari masalah yang sedang mereka hadapi. Terus terang dalam dunia di mana aspek individualistis dominan, banyak orang tidak mampu mendengar penderitaan orang lain dengan baik. Mereka sibuk dengan diri dan masalahnya sendiri-sendiri.
Kenyataan yang Anda hadapi sekarang bisa menjadi medan perwujudan imanmu. Artinya, iman yang Anda hayati bisa mendapat wujud yang konkrit dalam diri orang yang membutuhkan pertolongan dan perlu didengar. Hadir bersama mereka, memberikan gagasan dan sumbangan yang tepat bisa membantu mereka menyadari bahwa apa yang mereka lakukan itu salah. Bahkan sangat membahayakan diri.
Mendengarkan keluh kesah dan penderitaan dengan sabar dan baik membuat mereka menjadi lega dan penderitaan terasa ringan. Mereka tidak merasa sendirian melainkan ada orang lain yang ikut merasakan. Mereka merasa didengar dan mempunyai teman, dihargai dan diterima. Di sinilah fungsi hakekat kemuridan kita sebagai garam dan terang dunia menjadi lebih nyata.
Menurut saya, Anda tidak bergaul dengan orang jahat, sehingga Anda tidak perlu takut bahwa Anda menjadi rusak. Anda menjadi rusak kalau Anda terlibat dan ikut dalam jual beli dan mengisap obat-obat terlarang itu. Namun membentengi diri dengan sikap waspada itu lebih bijaksana. Bertindak hati-hati dan tidak terlibat langsung dengan apa yang mereka lakukan akan membantu Anda untuk memahami persoalan mereka secara lebih baik. Tetaplah sadar akan kemampuan dan keterbatasan diri Anda.
Akhirnya, mohon kekuatan dan perlindungan dari Allah adalah satu-satunya andalan yang membantu kita untuk tetap bertahan hidup dengan baik. Iman yang teguh dan doa yang mantap adalah perisai hidup yang tahan terhadap segala godaan. Yakinlah bila Anda tidak ikut berbuat jahat, maka tidak akan rusak. **
V. Teja Anthara SCJ
