Tidak ke Gereja, Berdosakah Saya?

Damai Tuhan beserta kita. Romo yang baik hati, saya seorang lelaki berusia 21 tahun dan telah dipermandikan di Gereja Katolik dan menerima komuni pertama di Gereja St. Maria Gunung Sitoli, Nias. Yang jadi masalah sekarang adalah pertama saya telah merantau dan bekerja di salah satu NPN Jambi dan saya tinggal di hutan Jambi. Selama hampir satu setengah tahun saya berada di Jambi hanya 3 atau 4 kali saya ke Gereja Katolik St. Teresia. Yang saya tanyakan apakah saya berdosa bila tidak ke gereja?

Kedua, saya rindu akan Sakramen Krisma, tapi saya bingung sebab umur saya 21 tahun, surat baptis saya dari Medan Berawan, menerima komuni di Nias. Apakah saya bisa menerima Sakramen Krisma di Gereja St. Teresia? Bagaimana caranya agar saya bisa belajar dan menerima Sakramen Krisma, sedang tempat tinggal saya di hutan dan perusahaan memberi ijin 6 bulan sekali baru boleh turun ke Jambi?

Ramli T. Simanjuntak

Pergi ke gereja hari minggu | Foto: Tabloid KOMUNIO/ KOMSOS KAPal

Saudara Ramli yang dikasihi Tuhan. Terima kasih banyak atas suratmu yang telah saya terima beberapa waktu lalu. Maaf, bila baru kali ini sempat menjawabnya, karena harus menunggu gilirannya.

Menjawab pertanyaanmu yang pertama, secara prinsipiil menurut saya bahwa ‘tidak pergi ke gereja pada hari minggu’ karena alasan yang serius tidaklah berdosa. Dalam kasus Anda ‘serius’ di sini karena tempat di mana Anda bekerja tidak ada pelayanan Sakramen Ekaristi. Situasi Anda tidak memungkinkan Anda untuk bisa menerima Sakramen Ekaristi secara teratur. Banyak umat di daerah Sumatera ini mengalami situasi seperti Anda.

Banyak umat di daerah pedalaman transmigrasi yang karena keterbatasan jumlah pastor, waktu pelayanan karena banyaknya tempat dan sulitnya medan tempuh membuat mereka hanya bisa menerima Ekaristi satu tahun sekali, atau paling cepat tiga bulan sekali. Apakah dalam situasi seperti ini mereka berdosa? Saya yakin tidak. Mereka dikondisikan oleh situasi yang membuat mereka tidak bisa merayakan perayaan Ekaristi sebagaimana layaknya.

Saya yakin mereka pun merindukan situasi seperti yang Anda rindukan. Lain masalahnya bila orang tidak ke gereja karena malas. Mereka bisa saja ‘dimungkinkan berdosa’, bukan karena alasan ‘tidak ke gereia’ melainkan karena kemalasan pribadi. Rasa malas membuat orang mudah jatuh dalam dosa. Maka bila Anda tidak bisa ke gereja bukan karena alasan ‘kemalasan’ tetapi karena kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan, janganlah merasa Anda telah berbuat dosa besar. Percayalah Tuhan tahu apa yang menjadi kerinduan hatimu.

Yang perlu Anda tingkatkan adalah berdoa pada hari Tuhan itu. Bila Anda melihat ada beberapa orang katolik yang tinggal bersama Anda di perusahaan itu dan mempunyai kerinduan seperti Anda, ajaklah mereka untuk berkumpul bersama dan berdoa. Rayakanlah bersama perayaan Sabda. Hayatilah dan rasakan kehadiran Tuhan dalam ‘komuni batin’. Yakinlah pada sabda Yesus yang mengatakan “Kalau ada dua tiga orang berkumpul atas namaku, Aku hadir di tengah-tengahmu”.

Gereja bukan semata-tama gedung fisik. Gereja adalah kita semua yang menjadi anggota dari Sang Kepala. Dia terus hadir di mana pun kita berkumpul atas namaNya. Perayaan Ekaristi menjadi sangat penting, karena kita bisa bersatu secara penuh dan akrab dalam komunio kudus. Maka seandainya Anda memang mendapat kesempatan pergi ke Jambi dan merayakan Ekaristi di sana, gunakan kesempatan itu untuk merayakan iman Anda. Nikmatilah dan rasakanlah kebersamaan dengan Yesus Kristus itu secara penuh dan syukur.

Mengenai kerinduamu untuk menerima Sakramen Krisma, Romo tidak bisa memberikan jawaban yang pasti. Yang perlu Anda jalankan adalah pergi dan temui romo paroki St. Theresia Jambi. Romo paroki akan menjelaskan apa yang perlu Anda lakukan dan juga kebijaksanaan yang dilakukan oleh paroki yang bersahgkutan.

Bahwa Anda diperkenankan untuk bisa menerima Sakramen Krisma itu tidak perlu diragukan. Karena setiap orang yang telah dibaptis secara katolik dan sudah cukup umur berhak menerima sakramen ini. Sejauh saya tahu, penerimaan Sakremen Krisma ini sangat ditentukan oleh situasi dan kondisi paroki setempat. Ada paroki yang setiap tahun mengadakan penerimaan Sakramen Krisma, ada yang dua tahun atau bahkan tiga tahun sekali. Karena untuk menerimakan sakramen ini biasanya diberikan oleh uskup atau imam yang diberi delegasi dan mandat khusus. Maka sangat baik bila Anda menghubungi romo di paroki di mana Anda bertempat tinggal.

Untuk mendapatkan kembali ‘copy’ surat baptis bisa ditempuh dengan mengirim surat permohonan ke paroki di mana Anda dibaptis. Bila Anda mempunyai surat baptis Anda, buatlah copynya dan lampirkan ke permohonan pembaharuan surat baptis yang Anda minta. Bila Anda tidak mempunyai surat baptis sama sekali, tulisankan dengan jelas nama lengkap dan baptis Anda, di mana dibaptis, tanggal dan tahun dan nama orang tua. Kalau semua informasi ini dengan jelas Anda berikan mereka dengan mudah akan mengirimkan pembaharuan surat baptis itu kepada Anda. Hanya perlu dicatat bahwa pembaharuan surat baptis ini biasanya secara legal hanya berlaku untuk jangka waktu enam bulan setelah tanggal pembaharuan.

Kiranya cukup sekian dulu, semoga jawaban ini membantu. Terima kasih dan berkat Tuhan melimpah.

Anda dapat melanjutkan refleksi Anda dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

Pertama, hidup menggereja seperti apa yang ada dalam benak Anda?

Kedua, tempatkan diri Anda sebagai orang yang selalu mempunyai kesempatan untuk menghadiri perayaan Ekaristi setiap pagi, apa yang akan Anda lakukan?

Ketiga, kalau Anda selalu ke gereja setiap hari, bagaimana Anda menghargai Tubuh Kristus yang Anda terima setiap pagi itu? **

V. Teja Anthara SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.