Rindu Dekat Sang Kekasih
(Sumber: Buku Visitasi kepada Sakramen Mahakudus dan Bunda Maria Yang Terberkati karya St. Alphonsus Maria de Liguori)
“Nyala cinta yang melukai,
lembut membakar kerinduanku,
melumat habis nikmat duniawi,
membuahkan sukacita sukmaku!”

Pergolakan Jiwa di Hadapan Sakramen Mahakudus
“Lihatlah Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk!” (Why 3:20). Oh, gembala yang penuh kasih, seolah Engkau tidak pernah puas hanya dengan mengorbankan diri sampai mati di altar kayu salib demi kecintaan-Mu kepada kami kawanan-Mu.
Engkau juga menempatkan diri secara tersembunyi di balik Sakramen Mahakudus di gereja-gereja kami agar Engkau selalu dekat, dan mengetuk pintu hati kami, dan itu Engkau lakukan dengan tanpa pamrih. Aku tahu betapa indahnya selalu dekat dengan-Mu seperti kerinduan seorang kekasih yang dekat dengan belahan jiwanya, sebagaimana digambarkan dalam Kidung Agung: “betapa manis berada di antara gadis-gadis; seperti pohon apel di antara pohon-pohon hutan, demikianlah kekasihku di antara teruna-teruna!” (2:2-3).
Aku rindu selalu duduk di bawah naungan-Mu, itulah kerinduan hatiku. Sungguh Tuhan Yesus, aku mencintai-Mu – Engkaulah Yesus yang menawan hati. Aku rindu senantiasa di bawah kaki tabernakel dan tidak pernah akan meninggalkannya baik siang maupun malam. Aku rindu menikmati kemuliaan-Mu, menghibur hati di bawah secuil kekudusan-Mu.
Di sanalah aku menemukan betapa manis dan bahagianya tatkala jiwa tak henti memuliakan Engkau di tempat itu. Ya Tuhan Yesus, tariklah aku dengan wewangian keindahan-Mu, dan dekaplah aku dengan kehangatan kasih yang telah Engkau nyatakan dalam Sakramen Mahakudus.
Kidung Agung menggambarkan itu seperti berikut: “Ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur; harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu. Tariklah aku, dan bawalah aku ke dalam maligai-maligaiMu!….” (Kid 1:2-3)
Sungguh, oh penyelamatku, aku akan tinggalkan kenikmatan duniawi dan daya tarik aneka ciptaanMu, dan lari bersimpuh dan menikmati kehadiranMu dalam Sakramen Mahakudus seperti “tunas pohon zaitun yang mengelilingi mejamu” (Mzr 128:3).
Buah-buah keutamaan akan membahagiakan jiwa seperti ranting-ranting zaitun yang mengiringi Raja Daud, itulah yang dialami oleh orang yang senang bersimpuh di depan Sakramen Mahakudus. Sebetulnya, saya sangat malu berada di depan-Mu, oh Yesusku! Betapa miskin dan kurusnya aku dengan keutamaan-keutamaan-Mu. Padahal Engkau telah meminta agar setiap orang yang datang ke altar-Mu mesti tidak dengan tangan hampa – “Janganlah orang menghadap ke hadirat-Ku dengan tangan hampa” (Kel 23:15).
Lalu apa yang harus aku lakukan? Apakah aku tidak usah dekat dengan-Mu? Ah, pasti tidak! Sikap ini tidak Kaukehendaki. Betapa nistanya aku ini! Aku akan tetap dekat padaMu meski aku nista. Ya Tuhan Allahku curahilah aku dengan Rahmat-Mu. Aku tahu bahwa Engkau bertakta dalam Sakramen bukan hanya untuk mereka yang berjasa tetapi juga untuk mereka yang nista tak berdaya seperti aku ini.
Jadilah demikian itu ya Tuhanku! Mari kita sekarang mulai. Aku meyembah-Mu ya Raja hatiku, dan pencinta manusia yang sejati. Ya gembala utama yang mencintai domba-domba-Mu tanpa batas! Ke takta kasih-Mu itu kini aku dekat; dan tidak mempunyai apa-apa selain kehadiranku di hadapan-Mu.
Aku mempersembahkan hatiku yang hancur; itulah harta milikku semua! Aku rindu menikmati kasih yang indah daripada-Mu. Dengan hati yang rindu seperti itu aku bisa mengasihi-Mu, dan aku akan senantiasa mencintai-Mu sebisa mungkin. Tariklah dan ikatlah aku dengan kehendak-Mu, agar aku Kaupenuhi dengan kebahagiaan yang sempurna sehingga aku bisa berkata bahwa aku ini telah Kaurantai dengan kasih-Mu seperti St. Paulus berkata, “Aku ini, Paulus orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus…!” (Ef 3;1).
Satukanlah aku secara total sempurna dengan-Mu, ya Tuhanku, dan buatlah aku melupakan diriku sendiri agar aku menikmati sukacita setiap saat dan mampu membebaskan diri dari segala ikatan duniawi. Dan kalau perlu mampu melupakan diri sendiri untuk menemukan Engkau sebagai segalanya serta mencintai-Mu untuk selama-lamanya. Aku mencintaiMu; mencintai Sakramen-Mu. Demi diri-Mu, aku mengikatkan diri! Buatlah aku senantia menemukan Engkau; buatlah aku senantiasa mencintai-Mu dan jangan pernah terpisah dariku selamanya. Ya Yesusku, Engkau saja cukup bagiku- Deo solo basta!
Visitasi Kepada Bunda Maria
St. Bernardus menyebut Bunda Maria sebagai “Jalan raya Keselamatan!” Dia adalah jalan aman untuk menjumpai Sang Juruselamat dan menikmati keselamatan. Ini sungguh benar ya Ratu Surgawi. St. Bernardus juga menyebutmu: “sebuah kereta kencana untuk jiwaku menuju kepada Allah” – engkau adalah seorang penuntun kepada-Nya.
Oh Ratu Surgawi, engkau senantiasa membawaku ke dalam dekapanmu tanda engkau mendukung aku! Bawalah aku! Ya bawalah aku; dan jika aku lelah atau bermalas-malas tariklah aku dengan kuasamu; lawanlah aneka kejahatan – kekerasan dengan daya tarikmu yang lembut dan kasihmu yang mempeseona jiwaku agar aku setia pada kehendak Ilahi. Tunjukkanlah betapa luas halaman surga dengan kebesaranmu! Jangan jemu-jemu perlihatkanlah belaskasihmu kepadaku, jiwa yang jauh dari kesucian Ilahi ini.
Ya Bundaku, engkau bisa membuatku menjadi seorang kudus! Aku sungguh mengharapkan rahmat untuk itu daripadamu! Amin. **
Yohanes Haryoto SCJ
