Tantangan dan Peluang Artificial Intelligence bagi Karya Pewartaan

Usai Perayaan Ekaristi, para anggota Signis Indonesia mengikuti Hari Studi, yakni seminar dengan tema ‘Berjalan Bersama Menuju Era Masyarakat 5.0’. Dalam seminar ini, hadir pula para peserta pelatihan audio visual dari mahasiswa Sekolah Tinggi Kateketik dan Pastoral (STIKPAR) Rantepao Toraja dan perwakilan OMK dari paroki-paroki di Kevikepan Toraja.

Apa itu masyarakat 5.0? Ditandai dengan perkembangan teknologi yang pesat, terlebih semenjak pandemi. Teknologi sangat membantu di tengah pandemi.

Sesi pertama dimulai dengan pendalaman materi tentang ‘Arah Kecerdasan Buatan’ oleh Andreas Maryoto, seorang wartawan senior Kompas. Saat ini, tengah terjadi perubahan besar dalam hal teknologi yang bisa kita sebut sebagai revolusi digital. Hal-hal praktis seperti pemesanan ojek atau tiket pesawat dapat dilakukan secara digital.

“Namun tanpa kita sadari, informasi-informasi yang kita bagikan dalam berbagai aplikasi direkam oleh internet dan menjadi big data yang menjurus pada terbentuknya kecerdasan buatan,” kata Andreas.

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligent (AI) kini tengah marak dalam masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi khususnya AI semakin dekat dengan manusia. Lantas apa saja dampak dari kecerdasan buatan ini?

Agama menjadi hal yang mungkin akan terus ditantang di tengah maraknya AI dalam kehidupan manusia. Selain itu, akan berdampak pula pada keraguan manusia akan eksistensinya karena merasa kalah saing dengan mesin. Namun hal ini akan mendorong terbentuknya filsafat atau pemikiran-pemikiran baru (posthumanism), di mana ilmu lama akan berpisah dan ilmu baru akan terus bermunculan. Dan yang paling terasa, penyajian informasi akan berubah, menjadi semakin maju, modern, dan tentunya berbasis teknologi.

Lalu bagaimana sikap kita di tengah gempuran kecerdasan buatan ini?

“Jangan panik! Manusia pasti bisa beradaptasi. Kecerdasan buatan akan bermanfaat jika diisi dengan hal-hal baik, karena kecerdasan buatan diisi oleh manusia itu sendiri. Dan yang penting, harus selalu belajar di luar bidang kita agar bisa melihat masalah yang kompleks dari sudut pandang berbeda,” kata Andreas menutup sesinya.

Sesi kedua adalah pendalaman materi tentang ‘AI: memudahkan atau meresahkan pekerja media?’ yang disampaikan oleh Indra Samsie, seorang dosen teknologi informasi.

“Manusia tidak akan digantikan oleh teknologi. Tapi pekerjaan akan hilang, terutama pekerjaan yang mengandalkan otot,” kata Indra membuka pendalaman materinya.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari, seperti petugas parkir atau kasir, kini perlahan mulai digantikan dengan mesin, bukan lagi dengan tenaga manusia. Teknologi tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang tidak memakai teknologi akan tersisih.

Penggunaan social media oleh hampir seluruh warga di dunia juga menjadi sarana branding atau memunculkan citra diri seseorang. Pasalnya, kini perusahaan-perusahaan memantau para kandidat karyawan melalui sosmed.

Peserta seminar: anggota Signis Indonesia dan mahasiswa Stikpar dan OMK | Foto: KOMSOS KAPal

Inilah yang disebut dengan masyarakat 5.0 atau society 5.0. Berawal dari society 1.0 dimana manusia hanya mengenal berburu dan berkumpul, lalu beralh ke society 2.0 yang mengutamakan agrikultural. Kemudian muncul society 3.0 yang beralih pada industry, dan society 4.0 yang mengutamakan komunikasi dan informasi. Kini tengah santer society 5.0 dimana manusia menggunakan teknologi untuk kesejahteraan dirinya.

“Sekarang, semua file disimpan di cloud. Oleh algoritma, data-data ini akan dianalisis untuk menghasilkan echo chamber untuk Anda. Kalau ada yang suka sepakbola dan nonton apapun tentang sepakbola di sosmed, sewaktu membuka kembali instagram, yang muncul adalah hal-hal tentang sepakbola. Ini dampak nyata dari society 5.0,” kata Indra.

Maka, di tengah fenomena society 5.0, Indra mengimbau bahwa masyarakat Indonesia perlu menguasai hard and soft skill. Harus tau ABC (Artificial intelligent, Big data, Cloud computing) dan 4C (Creative, Critical thinking, Collaboration, Communication). Hal ini sangat penting agar manusia tidak kalah dengan teknologi dan diperbudak oleh teknologi.

“Kita mengenal generator yang merupakan mesin ciptaan manusia dan verifier yang adalah manusia. Sebelum memakai produk AI, kita harus punya ABC dan 4C supaya manusia tidak tergantung pada teknologi tapi memanfaatkan teknologi dalam kehidupan sehari-hari,” kata Indra menutup sesinya. **

Maria Sylvista

Leave a Reply

Your email address will not be published.