Berlian di Burlian: Manusia Berkarakter dan Militan

PARY telah hadir selama 75 tahun untuk melayani generasi muda, masa kini dan masa depan Gereja dan Bangsa. Anak-anak yang dibina di PARY ibarat berlian yang barangkali selama ini tersembunyi dalam keterbatasan kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Mereka tertutup oleh faktor keterbatasan ekonomi, sehingga kurang mendapat kesempatan menikmati hidup yang layak, dan masih banyak faktor lainnya.

Namun Berlian itu akhirnya ditemukan di Burlian (Jl. Kol. Burlian, alamat PARY-Red.) melalui pembinaan yang diberikan selama tinggal di PARY. Anak-anak dibekali banyak hal baik untuk menyongsong masa depan mereka. Mereka disiapkan menjadi generasi handal bagi Gereja dan Bangsa.

Rangkaian acara 75 Tahun Panti Asuhan Rumah Yusup

Mgr Yohanes Harun Yuwono mengajak semua pihak yang terlibat dalam karya sosial Gereja di PARY supaya bercermin dari St. Yusup, pelindung panti. Beliau menguraikan bahwa Bapa Suci Paus Fransiskus dalam Patris Corde mengatakan bahwa St. Yusup bukan hanya bapa yang rendah hati dan penuh perhatian.

“Dalam melindungi, menyelamatkan Yesus kecil dan mendidik-Nya, dia adalah bapa yang pemberani, kreatif, pekerja keras, yang all out hidup dan bekerja bukan demi popularitas diri melainkan demi tanggung jawab mendidik Yesus secara manusiawi. Hasilnya menjadi luar biasa. Penginjil mengatakan, ‘Yesus bertambah besar dan bijaksana, dan Dia menyenangkan hati Allah maupun manusia’. St. Yusup sesungguhnya adalah bayang-bayang Allah Bapa sendiri yang penuh kasih kepada manusia,” kata Mgr Harun yang pernah mengenyam pendidikan di Asrama Kotabumi yang juga dimulai oleh Pastor Theodorus Borst SCJ.

Sejalan dengan harapan Bapa Uskup tersebut, “Momen 75 tahun ini disebut juga tahun “Berlian”. Dari perak, emas dan akhirnya menjadi berlian, semakin hari semakin berharga, semakin bernilai dalam karya pelayanan,” harap RD. Ignas, yang kesehariannya melayani 67 orang anak panti.

Dalam upaya itu, beliau selalu terbuka dengan semua orang yang berkehendak baik dan peduli dengan anak-anak asuh di PARY. Upaya yang selama ini dilakukan adalah pembinaan formal di sekolah dan pembinaan informal di Panti, yang meliputi aspek rohani dan jasmani.

“Saya memikirkan juga pendampingan skil. Saya berpikir belum tentu mereka yang lulus SMA bisa semua kuliah. Jadi mereka harus belajar skil yang bisa membantu mereka hidup di luar nanti. Sementara ini yang bisa diupayakan adalah belajar musik, jahit, driver,” tutur Rm Ignas.

Ia menambahkan bahwa anak-anak panti juga belajar wirausaha seperti membuat keripik dan merajut. “Kami sedang berfikir untuk membuat sesuatu yang bisa layak jual.” Kata RD. Wahyudi yang ditahbiskan imam di Paroki St. Yoseph Palembang, 11 September 2020.

Melandasi upaya teknis praktis dalam pelayanan tersebut, Uskup Agung KAPal, dalam sambutan tertulisnya untuk Buku Kenangan 75 tahun PARY, menegaskan bahwa PARY Baturaja diharapkan menjadi wadah pembinaan karakter kemanusiaan dan militansi iman.

“Panti Asuhan Rumah Yusup Baturaja pastilah dimaksudkan untuk menampung generasi muda Katolik agar memperoleh pendidikan bukan hanya dalam bidang akademis melainkan juga dalam bidang kemanusiaan dan kerohanian.

“Pembinaan di luar jam sekolah pastilah menekankan penanaman nilai-nilai luhur kemanusiaan dan iman kekatolikan. Yang namanya panti asuhan biasanya dihuni oleh anak-anak yatim atau piatu atau keduanya. Juga oleh anak-anak tidak mampu, karena berbagai alasan keadaan ekonomi orang tua mereka” kata Mgr Yuwono.

Rangkaian acara 75 Tahun Panti Asuhan Rumah Yusup

Mgr Harun Yuwono menambahkan, Panti Asuhan Rumah Yusup menjadi tempat di mana keluarga menyerahkan pembinaan dan pendidikan kepada orangtua baru yakni para pembina panti, agar mendapatkan pembinaan dan pendidikan yang baik. “Dengan demikian, para pembina mempunyai tanggung jawab luhur untuk memenuhi harapan orangtua anak-anak tersebut,” tulis Mgr. Yohanes Harun Yuwono.

Menurut refleksi Bapa Uskup, Yesus menjadi manusia yang matang manusiawi secara jasmani dan rohani karena sejak sangat kecil Yesus selalu diajak menaati Allah. Dia disunat pada usia 8 hari (Luk 2: 21). Dia lalu dipersembahkan kepada Allah di Bait-Nya di Yerusalem (Luk 2: 22). Ini terjadi barangkali pada waktu Yesus berusia 40 hari. Lalu Dia diajak untuk berziarah ke Yerusalem setiap tahun (Luk 2: 41). Ketika Yesus terancam jiwa-Nya karena keangkaramurkaan Herodes, Yosep membawa Yesus dan ibu-Nya mengungsi ke Mesir.

Rangkaian acara 75 Tahun Panti Asuhan Rumah Yusup

Di negeri asing itu, kata Mgr Harun, bisa jadi Yoseph bekerja serabutan untuk menghidupi Yesus dan Maria. Andaikan Yoseph seorang pemalas dan penakut, Yesus pasti tumbuh kurang gizi dan tidak sehat. Dari Mesir, Yesus dibawa kembali ke Israel dan tinggal di Nazareth. Untuk Nazareth ada pemeo, “Tidak ada sesuatu yang baik datang dari Nazareth” (Yoh 1: 46).

Dengan tinggal di Nazaret dan mendidik Yesus di situ, kata Mgr Harun, Yoseph berhasil menghapus citra buruk Nazareth di mata orang di zamannya. Sebagai tukang kayu, Yoseph mengajari Yesus bertukang sehingga Yesus bukan hanya disebut anak tukang kayu, melainkan juga tukang kayu itu sendiri (Mrk 6:3).

Rangkaian acara 75 Tahun Panti Asuhan Rumah Yusup

“Saya berharap bahwa PARY Baturaja menjadi wadah pembinaan kerohanian dan kemanusiaan. Para pembinanya meneladan St. Yoseph sebagai pendidik. Para siswanya mengikuti pembinaan, sehingga menjadi manusia yang seperti Yesus, makin bertumbuh besar dan dicintai oleh Allah dan manusia. Selamat Ulang Tahun ke-75 Panti Asuhan Rumah Yusup Baturaja. Berkah Dalem,” pungkas Mgr. Harun, pemilik motto ‘Deus Caritas Est’ ini. **

RD Widhy

Leave a Reply

Your email address will not be published.