Menjadi Biarawan? Jalani Saja!

Hidup membiara adalah cara hidup yang dimiliki oleh Gereja dengan mempersembahkan diri lewat kaul-kaul. Menjadi biarawan atau imam berarti mau memberikan diri seutuhnya kepada Allah, kepada Gereja.

Ekaristi 25 tahun hidup membiara , Rm Antonius Joko SCJ, Rm Ignatius Elis Handoko SCJ, dan Rm Anselmus Inharjanto SCJ | Foto: KOMSOS KAPal

Untuk menjadi biarawan, yang terpenting adalah menjalin hubungan dengan Kristus, lewat Gereja dan umat. Pada Sabtu (5/8) lalu, Rm Antonius Joko SCJ, Rm Ignatius Elis Handoko SCJ, dan Rm Anselmus Inharjanto SCJ merayakan 25 tahun hidup membiara. Mereka mengikrarkan kaul pertama 1 Agustus 1998 lalu di novisiat St Yohanes Gisting, Lampung. Perayaan syukur ini dibawa dalam misa kudus di Paroki Hati Kudus yang dipimpin oleh uskup emeritus, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ. Tiga imam lainnya yang juga merayakan pesta perak hidup membiara, yakni Rm Adi Purnama Susanti SCJ, Rm Christoforus Wahyu SCJ, dan Rm Gabriel Kera Tukan SCJ berhalangan hadir.

Kiri ke kanan: Romo Elis SCJ, Romo Suparman SCJ, Mgr. Sudarso SCJ, Romo Inharjanto SCJ, dan Romo Joko SCJ | Foto: KOMSOS KAPal

Romo Elis merenungkan 25 tahun hidup membiara dengan gambaran yang tidak jauh berbeda dengan pengalaman umat dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. Kalau disimpulkan, tentu ungkapan yang paling tepat adalah syukur.

“Dalam perjalanan 25 tahun, yang kami temukan betapa Allah murah hati, betapa Allah berbelas kasih, betapa Allah selalu mengampuni. Karena apa? Karena di sisi syukur tadi, hadirlah kami manusia yang lemah dan rapuh ini,” katanya.

Ekaristi 25 tahun hidup membiara , Rm Antonius Joko SCJ, Rm Ignatius Elis Handoko SCJ, dan Rm Anselmus Inharjanto SCJ | Foto: KOMSOS KAPal

Romo Elis mengajak umat untuk tidak sombong dalam perjalanan mencari dan mencapai kesuksesan, karena itulah awal dari perjalanan yang sesungguhnya. Ketika para imam yang merayakan pesta perak hidup membiara, mereka seperti murid-murid yang mengalami kemuliaan bersama Allah. Allah memberi kesempatan untuk melayani dan berjalan bersama umat. Pengalaman rahmat bersama Tuhan ini menjadi berkat yang dibagikan pada umat agar mereka juga mengalami syukur.

Apakah tidak sulit membawa Yesus dalam setiap langkah hidup kita? Berat kalau hanya dibayangkan tapi tidak dilakukan. Romo Elis membagikan sebuah filosofi sederhana yang ia hidupi: jalani saja.

“Allah pasti menyertai. Allah pasti menambahkan berkat khusus agar perjalanan ini menapakkan Dia dalam kehidupan, sehingga kemuliaan-Nya hadir dalam hidup kita.”

Romo Andreas Suparman SCJ, Provinsial SCJ Indonesia | Foto: KOMSOS KAPal

Romo Andreas Suparman SCJ, Provinsial SCJ, mengungkapkan bahwa 25 tahun adalah usia yang sangat positif dan dinamis. Beliau mengungkapkan bahwa ketiga imam yang merayakan pesta perak hidup membiara ini mungkin memiliki kekhasan dan kelebihannya masing-masing, namun mereka bisa menggunakannya dalam berbagai karya.

“Pesan saya untuk para konfrater: sekarang Yesus sudah bangkit, maka itu tugas para romo untuk menceritakan sukacita bersama Tuhan selama 25 tahun ini,” pesan Rm Suparman.

Sebelum menutup perayaan ekaristi, Mgr. Sudarso menegaskan agar para imam, khususnya yang sedang merayakan 25 tahun hidup membiara, untuk selalu mengutamakan hubungan dengan Kristus.

Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, Uskup Emeritus Keuskupan Agung Palembang | Foto: KOMSOS KAPal

“Ketika para imam mengalami Kristus, maka mereka bisa membawa sukacita dan rela memberikan diri dan taat dalam hidupnya. Maka pengalaman akan Yesus itu penting. Saya berharap, agar kita semua umat beriman mengalami Kristus. Dengan ikut Ekaristi, kita disentuh oleh Tuhan supaya kita mendapat bekal dalam perjalanan yang tidak mudah ini. Semoga romo-romo berbahagia karena memiliki pengalaman bersama Yesus,” tutur uskup emeritus.

Usai Ekaristi, acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng di halaman Gereja Hati Kudus bersama seluruh umat. Selamat merayakan pesta perak hidup membiara para romo! Semoga selalu menjadi gembala yang baik bagi seluruh umat. **

Maria Sylvista

Leave a Reply

Your email address will not be published.