“Kebiasaan berdoa bersama dalam keluarga kami sangat ditekankan. Mama adalah seorang pendoa yang rajin, sedangkan Bapa sangat aktif dalam kegiatan pembangunan gedung-gedung gereja di kota Kupang. Setiap malam kami berusaha sedapat mungkin untuk berdoa bersama sebelum tidur. Jika bulan Maria atau bulan Rosario, kami selalu mengikuti doa rosario bersama di lingkungan. Harus saya akui bahwa kebiasaan berdoa yang sudah dibangun sejak kecil dalam keluarga kami sangat berpengaruh pada panggilan hidup saya,” kata RD Basilius Benedictus Suban Meo Klobor, kelahiran Kupang, 02 Januari 1996.

Menurutnya, panggilan untuk menjadi seorang imam tidak didasarkan pertama-tama pada faktor eksternal, misalnya prihatin atas situasi iman umat. Panggilan itu harus tersadar dari dalam diri sendiri bahwa Tuhan memanggil untuk menjadi imam-Nya.



“Kekuatan menjawab panggilan menjadi imam, harus langsung berasal dari Allah sendiri yang memanggil. Sejak saat itu saya berusaha untuk terus merefleksikan motivasi panggilan supaya dimurnikan dari waktu ke waktu. Saya sungguh mengimani dan bersyukur bahwa Allah memanggil dan memilih saya untuk menjadi imam-Nya,” tegas Imam Diosesan Keuskupan Agung Palembang, lulusan Seminari Menegah St. Rafael di Kupang (2010 – 2014).



Ia ingin menghidupi imamatnya sampai akhir dengan meneladan Bunda Maria, maka ia memilih motto tahbisan dari Injil Lukas 1:46-47, “Magnificat anima mea Dominum et exsultavit spiritus meus in Deo salutari meo”.


**
RD Widhy
