Keinginan Rm Stephanus Lisdiyanto SCJ untuk menjadi seorang imam mulai muncul, ketika aktif dalam misdinar (putra-putri Altar) di stasi Nusamaju, Paroki St. Maria Tak Bernoda Tegalrejo, Belitang. Dalam kegiatan misdinar itu, imannya juga terbina dan bertumbuh.

“Pada saat itu saya masih berada di bangku kelas 3 SDN 02 Nusamaju. Setiap kali romo datang ke stasi untuk melayani Perayaan Ekaristi, saya selalu siap untuk bertugas menjadi misdinar. Pada waktu itu, saya dan teman saya yang sama-sama satu angkatan dan seumuran yang selalu bertugas menjadi misdinar. Bagi saya, bertugas menjadi misdinar adalah hal yang sangat menyenangkan, karena sudah dapat dipastikan bahwa perkembangan iman akan terjaga. Selain itu, pasti saya akan mendapatkan sesuatu dari romo, bisa berupa makanan atau souvenir,” ucapnya.


Ia mengurai bahwa keinginan menjadi imam itu semakin kuat, ketika melanjutkan ke SLTP Charitas 04 Karang Binangun. Bersekolah di sekolah Katolik memberi image yang sangat positip bagi perkembangan kepribadian, iman dan panggilannya.

“Sejak saya duduk di bangku SLTP, teman-teman seangkatan sudah memanggilku dengan sebutan ‘romo’. Saya sendiri tidak tahu mengapa mereka memanggil saya dengan sebutan tersebut. Tetapi sebutan tersebut membuat saya merasa nyaman dan terbiasa,” kenang imam Dehonian ini.

Benih panggilan yang bersemi itu sempat layu, namun seiring waktu kembali bersemi. Ia pun bertekad merawat panggilan itu dengan menjalani pembinaan sebagai calon imam dan biarawan SCJ.

“Saya memilih SCJ karena dua hal. Pertama, karena spiritualitas Hati Kudus Yesus yang mencintai manusia sampai sehabis-habisnya. Tuhan Yesus yang memberikan diri-Nya (bahkan sampai mati di kayu salib) menjadi wujud cinta Allah yang luar biasa bagi manusia (termasuk saya). Untuk itu, saya tergerak untuk membalas cinta-Nya itu dengan mempersembahkan diri bagi-Nya dan mewartakan cinta itu kepada semakin banyak orang. Kedua, karena dalam kongregasi SCJ ada persaudaraan yang sangat kuat, inilah yang disebut dengan hidup berkomunitas. Dengan hidup persaudaraan atau hidup berkomunitas ini saya merasa didukung dan diperhatikan serta di-wong-ke, sehingga rasa nyaman dan enjoy dalam menjalani panggilan selalu dirasakan,” kata imam kelahiran Nusa Maju, 23 November 1989.



Imam yang mengikrarkan Kaul Pertama dalam Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus pada 20 Juli 2014 ini, merasa menanggapi dan menjalani panggilan Tuhan tahap demi tahap dengan keterbatasan kemampuan yang ada di dalam dirinya. Pergulatan-pergulatan yang ada semakin memurnikan bagai emas yang ditempa dalam api (bdk. Sir. 2:5), baik pergulatan yang berasal dari dalam diri, keluarga, komunitas, studi, pelayanan dan lainnya.






“Saya yakin bahwa dalam setiap pergulatan itu Tuhan selalu ada dan memberi kekuatan pada hamba-Nya yang lemah ini melalui orang-orang yang selalu hadir dalam perjalanan panggilanku. Untuk itu, saya mau menjadi seorang religius Dehonian yang dewasa dan bijaksana serta mampu membawa sebanyak mungkin manusia merasakan, menyadari dan akhirnya membalas cinta Kristus yang telah lebih dahulu mencintai setiap insan manusia,” pungkas pemilik motto ‘Akulah gembala yang baik yang mengenal domba- domba-Ku’ (bdk. Yoh. 10:11). **
RD Widhy
