Napak Tilas Jejak Iman, Mensyukuri Anugerah Iman

Kekatolikan di Sumatra Selatan sudah dimulai sejak sebelum abad ke-19.  Pada tahun 1923, Vatikan mendirikan Prefektur Apostolik Bengkulu yang melayani seluruh daerah bagian selatan Sumatra (sekarang Keuskupan Agung Palembang dan Keuskupan Tanjung Karang). Pusat Prefektur Apostolik Bengkulu terletak di Tanjung Sakti. Karena Tanjung Sakti pada waktu itu terletak di keresidenan Bengkulu, maka wilayah gerejani tersebut dinamakan Prefektur Apostolik Bengkulu. Prefektur Apostolik Bengkulu dipercayakan kepada imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ). Pada 23 September 1924 tiba tiga misionaris SCJ pertama yaitu Pastor Henricus van Oort, Pastor Carolus van Stekelenburg, dan Bruder Felix van Langenberg.

“Menapakkan kaki, merasakan kehadiran para misionaris pembawa warta sukacita, merefleksikan dan mencecap spiritualitas yang telah mereka wariskan menjadi saat istimewa yang dilakukan umat dalam rangkaian acara 100 tahun Perfektur Apostolik Bengkulu. Melangkah menyusuri jalan dan lorong menghirup udara yang tertabur, berbaur aneka aroma kekinian yang bercampur dengan kelampauan, melintasi bangunan-bangunan tua, saksi sejarah yang masih berdiri tegak meskipun telah termakan usia, menyimbolkan kekokohan tekad dan budaya masyarakat kala itu. Dari satu stasi ke stasi yang lain, memandang betapa kuatnya semangat dan perkasanya tangan Allah dalam membangun Kerajaan-Nya. Betapa tajamnya “mata hati Allah” laksana burung rajawali memandang dari ketinggian masa depan bangsa manusia di Sumatera Bagian Selatan mulai dari pesisir pantai Bengkulu. Hati-Nya tergerak saat memandang masih ada bangsa manusia yang rindu mencari Allah. Ada kawanan yang masih kebingungan mencari arah hidup di Kerisidenan Bengkulu. Seruan, teriakan mereka ternyata dipedulikan Allah dengan mengirim orang-orang beriman, yang perkasa mengarungi samudera bergelombang-berprahara. Seperti Guru mereka yang bernama Yesus tak menyayangkan nyawa-Nya sendiri demi keselamatan sesama manusia demikian juga mereka. Setelah seabad, kawanan kecil secara kasat mata telah menjelma menjadi kawanan besar memenuhi Sumbagsel, yaitu Gereja Keuskupan Agung Palembang dan Keuskupan Tanjung Karang,” ungkap Rm Paulus Sarmono SCJ.

Mengenang dan menimba semangat para misionaris dengan berjalan bersama menapaki jejak-jejak syukur tonggak sejarah Perpektur Apostolik Bengkulu diharapkan menghasilkan buah melimpah untuk menatap masa depan. Ada 5 stasi tonggak sejarah yang diziarahi oleh umat katolik di Bengkulu pada 20 Agustus 2023 lalu.

Stasi Pertama: Kegigihan Perintis

Lokasi di Gereja perdana yang dibangun pada tahun 1929. Syukur kepada Tuhan, kita masih boleh memandang gedung gereja pertama, yang menggantikan tempat ibadat di pasar Melintang. Setelah Romo Neilen membeli tanah sebagian untuk biara dan sekolahan Suster CB, yang lebih rendah 9 meter, sebagian lagi untuk pastoran, asrama dan gedung gereja. Meski gedung ini tidak seperti pada saat didirikan karena mengalami beberapa perubahan, seperti penambahan bangunan di bagian depan, hilangnya bagian atas tempat menaruh salib, sakristi dan lain-lain namun sebagian besar masih seperti dulu; struktur bangunan, tegel, kaca. Kayu-kayu tenam, batubata panjang dan lebar van Batavia kokoh menyangga atap gereja yang menjulang tinggi. Bangunan tinggi ini tetap kokoh tampak sebagai saksi bisu tetapi sebenarnya penuh sesak cerita, yang mungkin kalau tersurat bisa berlembar-lembar, berjilid-jilid, berkisah mengenai perjalanan iman, bukan hanya puluhan, ratusan orang tetapi pasti ribuan orang.

Ribuan orang, puluhan ribu bahkan mungkin ratusan ribu orang berderet-deret memasuki pintu itu, mengambil air suci menandai diri dengan tanda salib, mulai dari tempat air suci dari logam kuningan, hingga dari cangkang keong yang besar.

Seandainya gedung itu mampu bercerita pasti akan mengatakan, ”di sini ratusan ribu kali untuk menghadirkan Kristus yang telah mengorbankan diri-Nya, entah berapa jumlahnya, mungkin termasuk Anda yang menyatakan menerima Kristus, percaya kepada Bapa, Putera dan Roh Kudus dalam permandian, entah berapa yang berjanji setia mau menjadi saksi melalui urapan Krisma dan tamparan kasih Sang Gembala Agung. Pasti banyak pula yang mengikat cinta sebagai suami isteri.”

Romo Neilen SCJ dan 19 imam berikutnya pasti pernah berdiri di belakang altar, entah ketika menghadap ke tembok maupun ketika membelakangi tembok. Mereka adalah pioneer, mereka adalah pejuang, mereka adalah pewarta. Dalam kegigihannya mereka adalah gembala yang menjaga domba-domba.

Stasi Kedua: Kabar Sukacita Telah Datang

Lokasi di Tapak Paderi, Pelabuhan lama, tempat mendaratnya para misionaris. Memandang samudera luas, di kejauhan sana dahulu para misionaris mengarungi gelombang, bukan hanya sehari atau dua hari tetapi berbulan-bulan. Seperti Santo Paulus, Barnabas atau Markus yang tidak takut gelombang dan badai, demikian juga mereka dihadapkan bukan hanya pada buih-buih memutih yang menampilkan tarian-tarian indah, bulan purnama yang menyinarkan keemasan mengikuti liukan dansa-dansanya gelombang, tetapi kecemasan-kecemasan yang menyertai deru kerasnya deburan gelombang yang menabrak karang. Mereka tak membelokan haluan untuk pulang, tetapi melaju percaya pada penyelenggaraan Ilahi, “sekali pergi membajak tak pantas menoleh ke belakang.”

Iman yang militan membuatnya tak miris menghadapi samudera yang luas tetapi menghantarnya untuk mencari jiwa-jiwa yang dahaga, untuk memenangkan mereka yang belum mengenal Allah bagi Kristus Sang Guru. Mereka tak takut meninggalkan sanak saudara dan tanah air bahkan nyawanya sendiri dipertaruhkan, mereka yakin sabda Guru mereka, ”yang meninggalkan sanak saudaranya, orangtuanya, akan mendapatkan seratus kali lipat saudara-saudari dan orangtua.”

Berkotemplasi, membayangkan seakan-akan kita memandang mereka yang sedang berlayar menuju ke kita, Romo-romo Jesuit, Romo-romo Kapusin, Romo-romo SCJ. Mengenang Pastor Y. van Meurs SJ, yang pada saat itu bekerja di Padang diberi tugas untuk mempersiapkan misi di daerah Pasemah, Ulu Manna. Pada tahun 1888, Pastor Y. van Meurs SJ berangkat dari Bengkulu ke Tanjung Sakti. Beliau mempelajari Bahasa, budaya, adat istiadat masyarakat setempat sebagai persiapan misi di wilayah itu. Pastor Meurs dibantu oleh seorang kontrolir katolik yang bertugas di Keresidenan Bengkulu, Namanya O.I. Helfrich untuk menjalankan misinya di Tanjung Sakti dan sekitarnya.

Ada tulisan menarik dari Pastor Meurs, “Usaha saya yang utama tidak lain dari pada menabur dengan mencucurkan air mata (Mzm 126:5), sesudah saya akan datang orang lain yang melihat bagaimana benih yang saya taburkan akan bertumbuh. Kemudian, orang lain lagi akan menuai bersorak-sorai.”

Sepenggal surat itu merupakan ungkapan pergulatan berhadapan dengan masyarakat yang belum bisa membedakan antara seorang misionaris dan pedagang VOC, masyarakat yang masih terikat pada adat istiadat, bahkan beliau mengatakan bila tanpa pertolongan seorang kontrolir ia mungkin mati di daerah yang subur dan kaya…. Tidak ada roti, daging, susu, telur, kentang tidak ada apa-apa selain nasi, sayuran dan ayam yang kurus….” Untunglah pada tanggal 3 Februari 1891, Bruder J. Vester SJ mendarat di Indonesia dan pada tanggal 27 Februari tiba di Tanjung Sakti menemani P. van Meurs hingga mengurangi rasa kesepian. Saat Romo Meurs sakit, Pater Jennissen SJ menggantikannya, tanggal 22 Juli 1891, beliau berangkat ke Bengkulu dan tanggal 13 Agustus pukul tiga dini hari berangkat ke Tanjung Sakti mengantikan Romo Meurs.

Di kemudian hari, wilayah Bengkulu dan Sumatera Selatan dari tahun 1811 sampai dengan 1923 masuk dalam Perfektur Apostolik Padang. Kehadiran para misionaris Saudara Dina Kapusin ke Daerah Pasemah membawa corak baru bagi kehidupan beriman saat itu. Mereka menghadapi persoalan sulit yang muncul pada zaman itu. Penetapan Perfektur Apostolik baru di Sumatera ini membuat pelayanan semakin mantap. Para pastor dan bruder OFMCap bekerja keras untuk memajukan kehidupan umat katolik di daerah Pasemah dengan berbagai karya pastoral, karya Pendidikan dan Kesehatan. Karya-karya ini menjadi Langkah awal bagi hadirnya Gereja di Sumatera Bagian Selatan. Karya ini penuh perjuangan dan campur tangan Allah yang penuh belas kasih.

Setelah para Jesuit dan Saudara Dina Kapusin karya misi di wilayah Perfektur Apostolik Bengkulu dipercayakan kepada para misionaris SCJ provinsi Belanda. Pastor Henk J.D. van Oort SCJ, P. Karel van Stekelenburg SCJ, Bruder Felix van Langenberg SCJ. Mereka tiba di Tanjung Sakti tanggal 23 September 1924. Mereka bertemu dengan P. Spanjers OFMCap yang masih tinggal di situ bersama lima orang suster Belas Kasihan (Tilburg) yang menyelenggarakan perawatan dan mengelola sekolah. Kedatangan mereka disambut dengan tangan terbuka dan dirayakan dengan perayaan ekaristi meriah.

Stasi Ketiga: Mempersiapkan Persemaian Gereja, Mendidik Bangsa

(Lokasi di Sekolah Hollandsche Chineesche School (HCS); saat ini menjadi Cafe Time to wohoo), yang didirikan oleh Pastor Neilen, dan Kemudian pada tahun 1929 diserahkan kepada Suster-suster Carolus Boromeus (CB)

Berdiri di depan bangunan kuno yang telah berubah menjadi cafe ini, kita semua diajak untuk melayangkan padangan jauh di masa lampau. Ada karya kerasulan klasik yang seakan melekat dan menjadi trade mark dari kehadiran Gereja. Karya kerasulan di bidang Pendidikan dan Kesehatan merupakan karya yang seakan khas dalam Gereja Katolik sampai kini.                           

Pastor van Meurs mulai membangun sekolah untuk mendidik orang-orang muda. Beliau membangun sekolah di belakang rumah pastoran, di seberang sungai. Pastor ini menjadi guru dengan mengajarkan huruf-huruf latin dan Lebong. Pastor ini bercerita bahwa ia berhadapan dengan murid-murid jorok, pengecut, penipu, pencuri tetapi juga berhadapan dengan guru yang malas, pembual dan pencuri.

Tahun 1911 dalam kerangka politik, pemerintah Hindia Belanda membuka bermacam-macam sekolah. Kontrolir Manna mendekati pimpinan misi dan meminta agar mendirikan sekolah di daerah Ulu Manna. Tawaran tersebut diterima oleh para misionaris dengan sukacita karena sekolah diterima sebagai tempat persemaian Gereja.

Pada tahun 1928 Pater Neilen mendapatkan teman yaitu Pater Nico Hoogeboom. Mereka mendirikan sebuah sekolah Hollands Chinese School (HCS) di sebuah dusun, yang berjarak satu jam jalan kaki dari pastoran Bengkulu. Sekolah tersebut diurus oleh seorang guru pria dan dua guru perempuan. Mereka dibantu Yayasan Melania – Gilde. Selang beberapa saat, Misi SCJ berkorespondensi dengan para suster Onder de Bogen Maastricht dan mengundang mereka untuk datang ke tanah misi. Pada tanggal 10 Agustus 1929, pemimpin umum suster CB menerima tawaran dari misi di Sumatera tersebut.

Betapa besarlah rasa gembira umat ketika tanggal 19 Desember 1929 lima suster CB tiba di Bengkulu. Muder Hadeline menjadi pemimpin komunitas. Pada tanggal 2 Januari 1930, Sekolah Hindia Tionghoa (HCS) diserahkan oleh P. Neilen SCJ kepada para suster CB. Saat itu sekolah ini mempunyai 80 murid, satu kelas persiapan dan kelas 1. Awalnya sekolah ini dihadapkan pada banyak tantangan. Pada tanggal 25 April 1935, sesudah dua kali diadakan penilaian, Sekolah Tionghoa-Belanda diakui sebagai sekolah Katolik dan tidak dianggap sebagai sekolah liar. Pada tanggal 1 Agustus 1938 dibuka Sekolah Kejuruan (SKP) dengan asramanya. Ibu Fatmawati, ibu negara yang pertama, pernah menyelesaikan pendidikannya di sekolah itu.

Ketika bapak uskup berkunjung ke Bengkulu, Muder Laurentia mengajukan gagasannya untuk membuka sekolah Mulo di Lahat. Mulo ini dimaksudkan untuk menampung HCS dari Bengkulu maupun Lahat. MULO ini dibuka dengan 40 orang murid. Mereka datang dari daerah sekitar Lahat dan Bengkulu, dan berasal dari suatu kelompok bangsa dan agama yang beragam.

Stasi Keempat: Terpenjara dan Menderita Bersama Kristus

(Lokasi di Benteng Malborough, tempat para imam, suster, awam dipenjara, sebelum diintenir ke Muntok.)

“Raga terpenjara, tetapi jiwa tetap memuliakan Allah” barangkali itulah narasi yang muncul saat memandang benteng Malborough yang tetap kokoh berdiri sampai kini. Seakan memandang para imam dan para suster yang dimasukkan dalam penjara, karena imannya pada masa penjajahan Jepang. Seperti para rasul Yesus maupun Paulus yang terpenjara secara fisik tetapi imannya akan Yesus Kristus tidak terpenjara.

Kita ingat para rasul yang ketika dimasukkan dalam penjara mereka tidak menangis sedih tetapi bersukacita, karena boleh menderita seperti Kristus. Bagi rasul Paulus penjara tak membuatnya berhenti mewartakan, tetapi justru menjadi kesempatan untuk mewartakan dan bersaksi tentang Yesus yang menderita dan tersalib.

Seperti rasul Paulus, romo Elling yang fasih berbahasa Inggris mengunakan kesempatan untuk mengajar agama dan katekumen. Imam yang riang ini menjadi sumber inspirasi bagi banyak inteniran Inggris dan Amerika. Pastor Elling bahkan menyiapkan anak untuk komuni pertama dan persiapan penerimaan Sakramen Krisma.

Dalam suratnya tanggal 15 Maret 1943, beliau mengatakan bahwa waktu penginteniran merupakan peluang unik untuk karya misi yang subur; oleh karena itu waktu ini harus dipakai sebanyak-banyaknya. Ceramah-ceramahnya disukai entah oleh orang Katolik maupun banyak orang yang tidak Katolik.

Hidup dalam kamp inteniran tentu tidak mudah, karena berhadapan dengan orang-orang yang harus terpisah dengan isterinya, kehilangan kedudukan, status sosial dan harga diri, sehingga rasa marah dan benci sering muncul. Para inteniran tidak jarang dihadapkan pada hinaan oleh tantara Jepang, 2 kali dalam sehari harus apel, mereka dihitung bagaikan binatang ternak. Di antara para inteniran terbentuk kelompok-kelompok yang tidak jarang terjadi gesekan atau bahkan benturan.

Terutama di Bengkulu, semua orang berbangsa Belanda dikumpulkan: kelompok laki-laki di pastoran dan kelompok perempuan di susteran CB. Lima puluh laki-laki dikurung dalam penjara, 150 perempuan dan anak-anak dalam benteng Malbarough, Bengkulu. Tempat tinggal terlalu sempit. Mula-mula suster-suster tertinggal bersama perempuan Eropa lainnya. Namun, benteng itu tidak siap huni, tidak ada tempat tidur, hanya ada satu kamar mandi dan toilet untuk sekian banyak perempuan.

Para tahanan harus memasak Bersama-sama, tetapi alat untuk memasak tidak tersedia. Sr Theodoretha CB diizinkan mengambil panci-panci dari susteran. Sesudah beberapa bulan berada di kamp Benteng, para perempuan dan suster dipindahkan ke Kepahyang, sekitar tiga jam perjalanan dari Bengkulu.

Dalam penjara kaum laki-laki diperlakukan seperti kriminal. Mereka digunduli dan dipaksa memakai pakaian narapidana. Mutu makanan mereka jelek. Sekalipun mereka diberi kesempatan mencari makanan tambahan. Kaum laki-laki dan perempuan boleh bertemu selama 2 jam sekali seminggu. Para pastor boleh merayakan ekaristi bagi kaum laki-laki dan perempuan, meski hanya sekali seminggu karena persediaan hosti kurang.

Di Bengkulu diintenir Pater Piet Cobben, Bruder Fidelis dan Pater A Gebbing, yang kebetulan tinggal di Bengkulu. Ada 4 Suter FCh dari Tanjung Sakti, 9 Suster HK dari Tanjung Sakti dan Palembang.

Sesudah hari raya Paskah tahun 1942, Pater Frans Hovers SCJ dan Pater Gerad Koevoets SCJ ditahan bersama lima puluh orang Eropa. Dua belas perempuan dikurung dalam sebuah sekolah. Laki-laki diperlakukan secara kasar seperti penjahat. Untuk merendahkan derajat orang Belanda di hadapan pribumi, kaum laki-laki dipaksa untuk bekerja di penjara, yaitu membersihkan selokan, parit becek, yang berbau kotoran manusia dan anjing. Mereka juga harus membuat jalan baru. Meski berat, namun mereka menyukai pekerjaan ini karena bisa berjumpa dengan orang. Kebanyakan orang merasa kasihan dan menunjukkan kepeduliannya dengan membawa makanan dan minuman bagi mereka. Sambil bekerja, kedua romo sempat bergaul dengan umat Tionghoa yang lewat. Pada tahun terakhir mereka dilarang merayakan ekaristi dan berdoa.

Stasi Kelima: Tinggal dan Beribadah di Rumah Pastoran

(Lokasi di Dinas Pariwisata Bengkulu, Pasar Melintang; Pastoran pertama dan tempat ibadat pada zamannya Pater Neilen)

Saat kita berdiri tegak memandangi tempat ini, tak tampak bekas tempat ibadat dan rumah pastoran, tetapi tanah ini menjadi saksi bisu yang menyimpan sejarah iman. Di tempat ini Perayaan Ekaristi dirayakan, di sini tempat tinggal para misionaris awal, di sinilah pewartaan dan pengajaran iman disuarakan, dikumandangkan secara lantang ke semua penjuru.

Saat ini kita diajak mengingat Pastor van Oort, Pastor Neilen. Para misionaris awal yang hadir dan melayani umat di Bengkulu. Ketika Pastor van Oort mengunjungi Bengkulu, kota Bengkulu secara formal adalah pusat Prefektur Apostolik. Di kota ini terdapat beberapa keluarga katolik yang sudah dilayani sejak masa misionaris Jesuit maupun Capusin.

Pastor van Oort berkenalan dengan Bapak van der Vossen dan keluarganya. Bapak Vossen dan keluarganya terkenal baik dan saleh. Rumahnya menjadi tempat pertemuan para pastor. Perjumpaan dengan keluarga-keluarga katolik di Bengkulu ini disampaikan kepada Mgr Smeet, yang di kemudian hari menjadi bahan pertimbangan untuk mendirikan tempat misi tetap di Bengkulu. Pastor Neilen diutus untuk menetap di Bengkulu dan diminta untuk mengelola pusat misi baru ini. Tanggal 31 Juli 1926, Ia tiba di Bengkulu.

Dalam bulan November 1926 Pater van Oort dibantu oleh Bapak van der Vossen mencari tempat yang cocok untuk dijadikan pusat karya misi. Mereka berhasil membeli sebuah rumah di jalan Pasar Melintang. Tanggal 31 Desember 1926 Pastor Neilen diangkat sebagai pastor tetap, sehingga Paroki Bengkulu dinyatakan berdiri. Pada awal Januari 1927 diadakan misa perdana di rumah Pasar Melintang.

“Semoga perjalanan napak tilas semakin menambah pengetahuan, membangun semangat iman, menguatkan perjuangan kita menuju Gereja masa depan, yang semakin bertumbuh menjadi garam dan terang dunia serta sakramen keselamatan. Semoga peristiwa ini sungguh dirasakan sebagai anugerah karunia iman. Kita semua adalah hasil panenan yang telah ditaburkan oleh para misionaris berkolaborasi dengan banyak orang, sungguh benar kata-kata pemazmur ‘Yang menabur dengan bercucuran akan menuai dengan bersorak-sorai’,” pungkas Rm Paulus Sarmono, parokus Paroki St Yohanes Penginjil Bengkulu itu. **

RD Widhy

Leave a Reply

Your email address will not be published.