Jangan Jadi Budak Media Sosial

Dalam temu akbar formator dan koordinator kelompok kategorial Dehonian, para formator diberi kesempatan untuk ‘belajar’ lagi. Seorang tokoh pendidikan dan pakar teknologi informatika, Prof. Richardus Eko Indrajit hadir untuk membagikan materi tentang penggunaan teknologi informasi dalam mewujudkan algoritma kebangsaan.

Profesor Eko mengatakan bahwa zaman media sosial itu sudah berlalu dan sekarang yang sedang marak adalah Artificial Intelligence (AI). Dalam keseharian bermedia sosial, algoritma bekerja tanpa kita sadari. Sebagian masyarakat tidak mengerti tentang hal ini. Misalnya, ketika membuka Youtube, algoritma bekerja. Jika suka membuka video tentang politik, maka seterusnya akan muncul video-video tentang politik, jika suka membuka video sepakbola, maka seterusnya akan muncul video-video tentang sepakbola. Apa yang kita tonton, itulah yang muncul. Orang-orang berpikir, konten-konten itulah yang ditonton oleh seluruh masyarakat. Maka di sinilah pentingnya literasi digital.

Lantas apa itu algoritma kebangsaan? Apa hubungannya dengan kehidupan formasio?

Prof. Richardus Eko Indrajit menyampaikan inputnya kepada para formator SCJ Indonesia | Foto: Majalah FIAT/ KOMSOS KAPal

Fenomena perkembangan teknologi digital dan media sosial cukup mengejutkan. Profesor Eko membeberkan bahwa aktivitas user Indonesia di dunia siber sekitar 35% waktu tersebut dipakai untuk berinteraksi via media sosial. Sebanyak 8 jam per hari masyarakat Indonesia menggunakan internet. Lebih dari 50% digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain dan lebih dari 40% dipergunakan untuk mencari konten

Penggunaan teknologi khususnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara memiliki pengaruh positif maupun negatif bagi masyarakat Indonesia. Salah satu pengaruh positifnya adalah mendapatkan dan saling berbagi berita, konten, dan informasi.

“Tapi apa sih sebenarnya tujuan komunikasi sekarang ini? Tujuan komunikasi di era sekarang adalah membuat orang melakukan apa yang kita inginkan. Maka, tugas romo setiap hari Minggu itu sulit karena harus berkotbah bagi umat dari berbagai generasi dan usia. Jadi ada dua hal yang harus kita ingat untuk membuat orang lain melakukan apa yang kita inginkan: tahu siapa yang akan kita pengaruhi dan bahasa yang akan digunakan,” tutur Profesor Eko.

Untuk meng-influence (memengaruhi) masyarakat, kita pun harus mengerti dan memahami filosofi dan algoritma dari setiap media sosial. Misalnya menggunakan Facebook untuk bercerita, dengan mode story-telling (bercerita), atau menggunakan Instagram yang lebih menonjolkan gambar daripada kata-kata.

Jika masyarakat tidak memahami filosofi dan algoritma media sosial, tentu bisa mengalami dampak negatifnya. Sosial media bisa mempengaruhi opini publik secara cepat dan masif dan akan semakin cepat tersebarnya berita hoax. Selain itu, sosial media juga bisa merusak citra seseorang (pembunuhan karakter). Kebutaan pada algoritma sosial media pun bisa menciptakan dan memperburuk polarisasi politik, sosial, budaya, dan agama (intoleransi). Pada akhirnya hal-hal ini bisa mencuci otak manusia dengan paham-paham keliru dan melahirkan beragam tindakan kejahatan baru (cyber-crimes). Dari kejahatan baru ini, rendahnya literasi digital masyarakat dimanfaatkan dalam diskusi media sosial hingga lahirlah algoritma destruktif.

“Lalu apa masalahnya? Orang baik cenderung diam dan berdoa. Orang jahat posting terus. Maka ketika ada algoritma destruktif, kita harus punya algoritma kebangsaan untuk melawan algoritma destruktif itu. Kita orang baik harus sering posting (hal-hal baik dan membangun), agar algoritma kebangsaan itu semakin banyak muncul,” tegas Profesor Eko.

Para suster juga dilibatkan untuk mendengarkan input bagi para formator | Foto: Majalah FIAT/ KOMSOS KAPal

Algoritma Kebangsaan

Algoritma kebangsaan dimaknai sebagai suatu rangkaian langkah sistematis dan terstruktur untuk menciptakan serta meningkatkan rasa cinta dan bangga masyarakat Indonesia terhadap bangsa dan negara melalui pemanfaatan beragam teknologi digital, khususnya media sosial. Saat ini, mulai muncul di sosial media berita-berita dengan judul-judul kontroversial yang mengundang orang ingin tahu (clickbait).

Agar tercipta algoritma kebangsaan, pengguna media sosial mesti bisa mendidik diri sendiri dan orang lain mengenai sejarah dan budaya Indonesia serta berpartisipasi dalam diskusi online yang konstruktif. Gunakan media sosial untuk promosi karya, prestasi, dan inovasi positif; mendukung produk dan jasa buatan Indonesia; berinteraksi dengan masyarakat internasional secara positif; menghargai dan menjaga kelestarian alam, budaya, dan warisan sejarah Indonesia; mendorong dan berpartisipasi dalam inisiatif sosial yang menggunakan teknologi digital.

Literasi Digital

Selain algoritma kebangsaan, literasi digital juga menjadi penting untuk diberikan pada pengguna media sosial. Dengan media sosial dan platform digital lainnya memungkinkan penyebaran informasi dengan cepat dan terciptanya komunikasi efektif.

“Dalam algoritma kebangsaan, komunikasi efektif akan mempengaruhi sikap dan persepsi orang,” kata Profesor Eko.

Literasi digital memungkinkan individu lebih aktif dalam diskusi online. Maka mereka bisa berkontribusi pada pembangunan bangsa untuk menghadapi misinformasi. Dengan memiliki literasi digital yang baik, individu dapat membangun citra positif untuk diri mereka dan negara. Maka setelah literasi digital dilaksanakan, akan tercipta kecerdasan digital. Sebab teknologi diciptakan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Karena itu, manusia harus semakin berkualitas, lebih cerdas, produktif, humanis, dan produktif.

“Teknologi itu budak kita. Bukan teknologi yang memperbudak kita. Siapa yang bangun pagi langsung buka HP? Buka Whatsapp? Jangan sampai kita yang diperbudak oleh teknologi!” tandas Profesor Eko.

Di sesi kedua, Profesor Eko memperkenalkan AI pada para formator. Mereka diajak untuk mencoba salah satu fitur dari AI yang bisa digunakan untuk membuat berbagai macam tulisan atau produk dengan diberikan perintah.

Para formator tampak tertarik dengan konsep AI yang sungguh luar biasa. Hampir segala hal bisa dilakukan oleh AI. Namun Profesor Eko juga mengingatkan agar para formator tidak hanya bisa menggunakan AI, namun juga bijak dalam penggunaannya. AI hadir dari otak manusia, maka dengan menyebarkan kata-kata positif dan membangun, AI juga akan menghasilkan hal-hal yang konstruktif.

“AI tidak melakukan copy paste, namun merangkai kata-kata baru dari bahasa, kata-kata, atau grammar yang sudah ada. Apa yang kita ketik, tulis, dan katakan, direkam oleh algoritma. Kitalah yang memperbudak AI ini!” kata Profesor Eko. **

Maria Sylvista

One thought on “Jangan Jadi Budak Media Sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published.