Teknologi Berkembang, Gimana Nasib Calon Imam?

“Siapa yang tidak punya media sosial? Siapa yang tugas-tugasnya tidak bergantung pada internet, komputer, handphone? Dunia sekarang berubah, termasuk calon imam kita,” kata Romo Dr. Yosep Susanto Pr, Selasa (12/12).

Romo Yoseph adalah seorang dosen, formator, sekaligus content creator Youtube Bible Learning with Father Josep Susanto dengan 391K subscribers. Dia memberikan input kepada para formator (pembimbing calon imam) SCJ Indonesia melalui sharing pengalamannya sebagai imam, formator, sekaligus content creator.

Romo Dr. Yosep Susanto Pr memberikan input kepada para formator (pembimbing calon imam) SCJ Indonesia | Foto: Majalah FIAT/ KOMSOS KAPal

Dunia internet yang di dalamnya ada media sosial, menjadi bagian dari kehidupan zaman ini.

“Apa yang ditonton oleh para imam masa depan, OMK kita? Ada satu pengalaman saya. Media sosial mengubah paham calon imam tentang konsep imamat mereka, konsep (terhadap seorang) imam, seksualitas mereka, image atau gambaran diri mereka. Ada positifnya, tapi juga negatif,” kata Romo Yoseph.

Galau

Romo Yoseph membagikan pengalamannya yang lebih dikenal umat sebagai content creator ketimbang seorang imam. Ini membuatnya sedih. Ia mengaku lebih ingin dikenal sosok imamnya, ketimbang ketenarannya berselancar di media sosial.

“Ketika saya tugas di seminari, saya berpikir juga, apakah saya terlalu berlebihan dengan Youtube ini? Karena apa yang saya lakukan (ini) berhubungan dengan formandi (calon imam yang dibimbing),” tanyanya.

Romo Yoseph bersama para peserta temu akbar formator | Foto: Majalah FIAT/ KOMSOS KAPal

Ada Batasan Imam Tampil di Medsos

Menjadi imam adalah sebuah panggilan khusus. Dengan demikian, seorang imam maupun calon imam yang tampil di media sosial, tetap ada batasannya. Dia memberikan pola pikir yang harus dipunyai oleh imam dan calon imam dalam bermedia sosial.

“Batasannya, apakah ketika aku tampil di medsos, aku sedang menjadi jembatan? Bukan aku artisnya, tapi jembatan antara umat dan Allah,” katanya.

Mengapa imam berbeda? Menurutnya, karena imam adalah manusia yang dipilih dari antara umat untuk menjamin kehadiran Allah di tengah umatnya.

“Maka imam harus hidup kudus. Saya bayangkan, bagimana saya membersihkan umat saya yang kotor, kalau sayanya kotor. Kalau kita mau mencuci baju, bagaimana bajunya mau bersih kalau detergennya kotor?” jelasnya.

Penting bagi Romo Yoseph, ketika ia tampil di media sosial, ia menampilkan Allah.

“Ketika saya tampil di Youtube, harus menampilkan Allah itu ada. Allah yang hadir, Allah yang sayang sekali dengan umat-Nya.”

Bermedsos tidak dilarang, tapi apakah relasi dengan Allah itu berjalan?

Panggilan imam tetap membutuhkan kesucian di tengah perkembangan teknologi | Foto: Majalah FIAT/ KOMSOS KAPal

Keprihatinan

Masih tentang kesucian imam, seksualitas menjadi tantangannya. Penyelewengan seksualitas ini, katanya, membahayakan panggilan.

“Juga dari seksualitas, bagaimana ketergantungan pada pornografi. Semenjak mereka (para calon imam) boleh memegang handphone, sangat meresahkan. Para calon imam tidak bisa membedakan apa yang membahayakan panggilan mereka,” jelasnya.

Selain itu, ketergantungan terhadap teknologi digital, khususnya internet, juga memengaruhi sebuah panggilan.

“Saya tidak tahu mereka menjadi imam masa depan (yang) seperti apa. (Candu teknologi) ini mempengaruhi hidup berkomunitas. Kalau di skolastikat tidak boleh memegang hp, masih bisa ngobrol dan bercanda bersama. Tapi kalau sudah di teologan?” tanyanya.

Meskipun membantu proses kuliah para calon imam, namun kemajuan teknologi tidak menambah kedalaman mereka dalam studi.

“Yang paling mengerikan hidup studi. Nulis skripsi, handphone di atas meja. Belum selesai menulis satu kalimat, sudah melihat WA. Meskipun sekarang sudah banyak (teknologi yang membantu), ada yang namanya GPT, tapi kemajuan teknologi tidak menambah kedalaman mereka studi.”

Trik untuk Formator

Romo Yoseph yang mendampingi calon imam tingkat akhir mengaku tidak punya larangan khusus untuk mereka.

“Tentukan sendiri keputusanmu, belajar dari pengalaman. Jadi kami, formator, mencoba mengajar para frater, ‘di balik keputusanmu apa konsekuensinya? Kalau balik malam, besok misa bisa nggak, nggak ngantuk?’,” katanya.

Penting bagi para formator untuk peka melihat bakat para formandi. Romo Yoseph yang ahli di bidang Kitab Suci, awalnya pun tidak menyadari potensinya ini. Seorang imam yang memberitahunya saat itu.

“Pater Martin mengatakan, ‘Yoseph, kamu punya sesuatu dalam Kitab Suci yang tidak dipunyai oleh orang lain,’” kenangnya.

Tahu akan potensi membuatnya sukacita menjalani kesehariannya. Setiap hari membuat konten Kitab Suci, bukanlah sebuah tekanan baginya. Sebaliknya, ngonten malah me-refresh dirinya dari rutinitas yang padat.

Seorang formator, kata Romo Yoseph, punya mata yang berpengalaman. “‘Ter, kamu kalau jelasin itu runtut sistematis, kotbahnya bagus lho, suaranya bagus lho’.” Memuji tulus frater akan potensinya mampu mengubah hidup mereka.

“Percayalah hidup mereka akan berubah. Pujian harus tulus. Panggil mereka empat mata, tepuk (pundak) mereka, itu menambah rasa percaya diri mereka.”

Kecuali itu, memang ada tantangan mendidik generasi modern.

“Generasi (sekarang) ini sangat sulit konsisten. Mereka mampu bikin macam-macam, (tapi) ketika diajak mendalami satu (bidang), tidak mau, biasanya,” kata Romo Yoseph.

Para frater SCJ Yogyakarta mengunggah kegiatan mereka dalam media sosial | Foto: tangkapan layar Instagram Skolastikat SCJ

Imam yang Bermedsos, Harus Disiplin

Romo Yoseph menceritakan kesehariannya yang tidak biasa. Dia bangun pagi, menyalakan kamera, lalu mulai ngonten. Setelahnya, dia menjalankan kegiatannya sebagai seorang imam, merayakan Ekaristi, ibadat, dan bermeditasi. Di sela tugas utamanya, ia mengedit dan mengupload konten yang telah dibuatnya.

“Kalau orang mau di media sosial, (harus bisa) disiplin diri. Kalau disiplin diri, hasilnya juga akan kelihatan. Punya tekad, melakukan tugas, dan tanggung jawab. Meskipun saya aktif di Youtube, tugas-tugas saya berjalan baik, karena disiplin diri, bisa menempatkan diri, kalau di sini, saya harus ini. Banyaknya tugas bukan meng-excuse kita menjadi minimalis,” katanya.

Imam tetaplah Imam

“Saya beruntung orangnya introvert. Saya tidak suka keramaian. Saya suka keheningan. Dengan keheningan, saya bisa membaca firman Tuhan, saya bisa berpikir kreatif. Keheningan diam bersama Tuhan, berpikir, mengelola rasa, mengecap, karena kalau mau mengembangkan firman Tuhan, Firman Tuhan tidak dipelajari, tapi dirasa, direnungkan, dicecap. Tidak bisa (dilakukan ketika) kita sambil menyetir.”

Dia prihatin melihat imam zaman sekarang yang mempelajari kasih Tuhan, tapi kurang merasakan kasih itu.

“Ketika para frater aktif bermedia sosial, tanyakan berapa jam hening dengan Tuhan di luar waktu ibadat? Itu sangat menentukan. Orang (yang) nggak suka hening, suka lari dari kesepian. Dia menjadi kosong. Dia bersaudaranya juga sulit, karena semuanya ada di permukaan,” katanya.

Aktif di Media Sosial Malah Bisa Membantu Umat

Romo Yoseph menceritakan bagaimana kontennya mampu berdampak positif bagi netizen. Mereka jadi mengerti firman Tuhan. Selain itu, ia juga bisa berdonasi yang nominalnya lumayan untuk mereka yang sakit di salah satu rumah sakit Katolik di Jakarta. Donasi itu ia dapatkan melalui AdSense konten-konten Youtubenya.

Lagi pula, Gereja Katolik pun menjadikan Beato Carlo Acutis, seorang muda sebagai pelindung teknologi informasi. “Ketika kita bicara kepada orang muda, media tidak selalu buruk. Tergantung pada penggunanya. Maka diperlukan sikap bijaksana, arif.” **

Kristiana Rinawati

Baca juga: Jangan Jadi Budak Media Sosial

One thought on “Teknologi Berkembang, Gimana Nasib Calon Imam?

Leave a Reply

Your email address will not be published.