Bertumbuh dalam Mawas Diri

Pertolongan Tuhan datang seiring dengan datangnya pencobaan, karena Tuhan tidak akan tinggal diam melihat kejatuhan kita.

Suatu hari seorang anak mengagumi seekor tupai yang sedang melompat dari pohon ke pohon. Dia sangat heran, tupai itu begitu piawai melakukan hal itu. Lantas, dia mendatangi ayahnya yang sedang bekerja di kantornya. Dia ingin sekali mengetahui alasan mengapa tupai itu begitu piawai dalam melompat.

Dia bertanya, “Ayah, ayah, kenapa tupai itu tidak jatuh waktu dia melompat dari satu pohon ke pohon yang lain? Apa di kakinya ada lem?”

Sang ayah tersenyum mendengar pertanyaan anaknya. Lalu dia berkata, “Itulah kemampuan yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Dia bisa melakukan itu sebagai cara Tuhan memelihara hidup dia. Dia bisa mencari makan untuk hidupnya.”

Anak itu bertanya lagi, “Tapi apakah dia tidak bisa jatuh?”

Sang ayah berkata, “Iya sesekali dia jatuh juga. Maka dia sangat berhati-hati. Kalau dia menyombongan kemampuannya melompat-lompat, dia akan jatuh. Demikian juga kita manusia. Kita diberi kemampuan-kemampuan yang banyak oleh Tuhan. Tetapi kita tidak boleh menyombongkan diri. Kemampuan-kemampuan yang kita miliki itu digunakan untuk kebaikan bersama, bukan untuk diri kita sendiri saja.”

Demi Kebaikan Bersama

Pepatah ‘sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga’, masih relevan bagi hidup kita di zaman kini. Banyak orang membanggakan kemampuan yang mereka miliki. Mereka sering mempertunjukkannya ke publik dengan berbagai alasan yang mereka buat. Kadang-kadang mereka tidak menyadari seberapa jauh kemampuan itu.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk mau mawas diri dalam hidup ini. Tuhan telah melengkapi diri kita dengan berbagai kemampuan. Semua itu ada untuk bekal perjalanan hidup kita di dunia ini. Anak dalam kisah tadi mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari ayahnya setelah mengagumi kemampuan seekor tupai. Ia diajarkan untuk tidak menyombongkan diri, karena keterbatasan manusiawinya.

Kita mesti membangun hidup dengan mawas diri. Artinya, kita ingin mengendalikan diri kita dari berbagai cobaan yang sering menghampiri hidup kita. Kita menimbang-nimbang apakah cobaan atau godaan yang datang itu berguna untuk kemajuan diri kita atau tidak.

Ada godaan bagi seseorang untuk membanggakan kemampuan dirinya. Hal ini berbahaya kalau dipupuk dan ditranfer untuk dihidupi. Mengapa? Karena orang bertumbuh dalam cinta diri yang berlebihan. Orang merasa bahwa hanya dirinya yang memiliki kemampuan itu. Orang kemudian mengandalkan dirinya sendiri. Orang tidak mau bekerja sama dengan orang lain. Akibatnya, orang seperti ini menjadi duri dalam daging bagi kehidupan bersama.

Orang beriman tentu senantiasa menghargai kemampuan orang lain. Dengan semangat ini, orang mau berkolaborasi dalam berbagai kegiatan bersama demi kesejahteraan bersama. Mari kita terus-menerus mawas diri, agar hidup kita bersama menjadi lebih indah. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.