Temu Akbar Kaum Muda (TAKM) Distrik Tugumulyo, Lubuk Linggau, dan Curup (Tugulucu) merupakan agenda rutin dua tahunan Orang Muda Katolik (OMK) tiga paroki, yaitu Paroki Santa Maria Tugumulyo Musi Rawas, Paroki Penyelenggaraan Ilahi Lubuk Linggau, dan Paroki Santo Stephanus Martir Curup. Sempat vakum karena Covid-19, namun tahun ini, TAKM kembali digelar. Kali ini Paroki Santo Stephanus Martir kebagian jatah tuan rumah.

Adapun tema yang diangkat adalah Mewartakan Kasih di Era Digital. Tentang tema ini, Yasinta Dian Kristiani, ketua TAKM Tugulucu ini menjelaskan, “Karena zaman sekarang makin maju. Kita lihat sendiri semakin maju, orang semakin tidak butuh orang lain, seperti kurang peduli. Maka kami angkat tema ini, walaupun dunia semakin maju, tapi kita tetap perlu mewartakan kasih,” kata Dian.

Lebih lanjut, tema ini juga ingin mengajak OMK Tugulucu untuk bijak bermedia sosial. “Seperti yang dijelaskan bapak uskup tadi, hati-hati gunakan jempol dalam mengetik. Apalagi sekarang banyak hoax. Jangan jadi pelaku penyebar hoax, tapi menyebarkan kasih. Menyebarkan kasih kan sama saja dengan mewartakan Injil, mewartakan Yesus Kristus,” jelasnya.

TAKM Tugulucu 2022 berlangsung dari Jumat hingga Minggu (29-31/7). Adapun rangkaian acaranya adalah Perayaan Ekaristi, materi tentang pewartaan di era digital, outbound, dinamika kelompok, pentas seni, dan animasi.


“Kami juga mengundang aparatur pemerintahan. Ini berdasarkan keprihatinan sinode paroki kami. Kami kurang relasi eksternal, jadi orang kurang mengenal Gereja Katolik. Makanya, kali ini kami mengundang aparatur pemerintahan dalam opening ceremony,” kata Dian.

Outbound kali ini juga menarik. Karena masing-masing kelompok menggunakan media digital dalam memainkan game di setiap post. “Jadi ada 5 post, yang bertemakan 5 pilar Gereja. Game-nya kayak yang manfaatkan teknologi. Peserta tau informasi post yang dituju pun dengan scan barcode,” kata Dian.

Kelima pilar Gereja yang dimaksud adalah diakonia, koinonia, martyria, liturgia, dan kerygma. Masing-masing kelompok akan mendapat tugas. Misalnya di post martyria, beberapa orang akan memeragakan martir yang dimaksud. Mereka harus mengambil undi siapa martir yang akan mereka praktikkan dengan menggunakan wheel spinner. Lantas, ciri khas martir itu akan diperagakan, sedangkan anggota kelompok harus menebak siapa martir yang dimaksud. Mereka boleh menggunakan sarana internet untuk menebak jawaban.
Setelah itu, para peserta akan membuat video singkat mengenai kisah yang mereka dapatkan dari kelima post dan mengunggahnya di Instagram. Ini akan melatih OMK Tugulucu untuk mewartakan kasih di era digital. **
Kristiana Rinawati
