Jika Bunda Maria meninggal dan diangkat ke surga, lalu bagaimana dengan Santo Yosef?

Still on the same topic tentang Santo Yosef. Di Alkitab, khususnya Injil Sinoptik, tidak mencatat banyak kisah tentang Santo Yosef. But, tradisi mengatakan bahwa Santo Yosef meninggal sebelum Yesus memulai karya pelayanannya, di usianya yang ke tiga puluh tahun (bdk. Lukas 3:23). Setidaknya ada empat alasan yang memperkuat pendapat ini.
Pertama, setelah Yesus memulai pelayanan publiknya, nama Santo Yosef benar-benar tidak pernah disebut lagi dalam Injil. Beda dengan Bunda Maria, yang kerap kali masih disebut-sebut.
Kedua, ingat peristiwa saat Yesus dipersembahkan di Bait Allah? Simeon mengatakan kepada Bunda Maria, padahal di sana ada Santo Yosef, tapi ini cuma untuk Bunda Maria, kalau suatu pedang akan menembus jiwanya sendiri, agar menjadi nyata pikiran hati banyak orang (bdk. Lukas 2:33-35).
Ketiga, dengan meninggalnya Santo Yosef sebelum Yesus berkarya, maka ajaran-Nya tentang sosok Allah Bapa, menjadi jelas.
Keempat, ingat peristiwa sebelum Yesus menghembuskan nafas terakhir, Dia menyerahkan Bunda Maria kepada Santo Yohanes (bdk. Yohanes 19:27). Ngapain kan Yesus menyerahkan ibu-Nya kepada Yohanes, kalau Santo Yosef masih hidup? Lagi pula, Santo Yosef juga tidak hadir dalam peristiwa penyaliban.
Kembali pada pertanyaan awal, bagaimana Santo Yosef meninggal?

Ada tradisi yang mengatakan bahwa Santo Yosef meninggal dalam pelukan Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Bayanginnya aja indah banget, guys! Maka dari itu, Gereja Katolik mengelari Santo Yosef sebagai pelindung kematian yang bahagia. Karena memang sebahagia itu.
Nah, lantas seorang biarawati, Venerabilis Maria de Jesus de Agreda mendapat wahyu pribadi tentang peristiwa meninggalnya Santo Yosef ini. Kejadiannya begini,
“Kemudian hamba Allah ini, menghadap Kristus, Tuhan kita, dengan rasa hormat yang terdalam, ingin berlutut di hadapan-Nya. Tetapi Yesus yang paling manis, mendekat, menerimanya dalam pelukan-Nya, di mana, sambil menyandarkan kepalanya di atas mereka, Santo Yosef berkata: ‘Tuhan dan Allahku yang tertinggi, Putra Bapa yang kekal, Pencipta dan Penebus Dunia, berikan berkat-Mu kepada hamba dan pekerjaan tangan-Mu; maafkan, ya Raja yang Maha Penyayang, kesalahan yang telah aku lakukan dalam pelayanan dan hubungan-Mu. Aku memuji dan mengagungkan-Mu dan mengucapkan terima kasih yang abadi dan tulus kepada-Mu karena telah, dalam kerendahan hati-Mu yang tak terlukiskan, memilihku untuk menjadi pasangan dari Ibu-Mu yang sejati; biarlah kebesaran dan kemuliaan-Mu menjadi ucapan syukurku untuk selama-lamanya.’ Penebus dunia memberinya berkat, dengan mengatakan: ‘Ayahku, beristirahatlah dalam damai dan dalam kasih karunia Bapa-Ku yang kekal; dan kepada para nabi dan orang suci, yang menunggumu di limbo, bawalah kabar gembira tentang mendekatnya penebusan mereka.’ Mendengar kata-kata Yesus ini, dan bersandar dalam pelukan-Nya, Santo Yosef yang paling beruntung meninggal dan Tuhan sendiri menutup matanya.”
Itulah beberapa sumber yang mengisahkan bagaimana Santo Yosef meninggal dunia. Bagaimanapun kisahnya, Santo Yosef adalah pria yang paling bahagia, karena dipilih Allah sendiri menjadi ayah angkat-Nya. **
Kristiana Rinawati
