Suatu hari, seorang pemuda tidak punya uang lagi untuk makan malam. Dia cemas, kalau malam itu dia akan pergi ke tempat tidur dengan perut kosong. Apalagi dia sudah bekerja seharian penuh. Tenaga sudah dia keluarkan sedemikian banyak. Gaji belum dia peroleh. Dia tidak ingin ngutang makan lagi di warung sebelah tempat kosnya.
Dalam kondisi demikian, dia didatangi seorang bapak yang baik hati. Dia mengajak pemuda itu untuk makan di warung sebelah tempat kos pemuda itu.
“Yang penting malam ini kamu makan, besok kita pikirkan solusinya,” kata bapak itu.
Malam itu pemuda itu membaringkan diri di tempat tidur dengan hati yang penuh sukacita.
Hadiah yang Indah
Sering orang merasa bahwa membahagiakan orang lain itu dengan memberi hadiah yang mahal harganya. Lantas orang mulai berjerih payah mengumpulkan barang-barang yang mahal itu. Padahal tidak seharusnya begitu. Ada yang merasa berbahagia dengan perhatian yang penuh belas kasih, sepiring nasi misalnya.
Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk peduli terhadap orang yang membutuhkan kasih sayang dari kita. Pemuda itu tidak membutuhkan banyak hal bagi hidupnya. Dia butuh sepiring makanan untuk mengenyangkan perutnya. Dia peroleh makanan dari seorang bapak yang tidak dikenalnya. Dia berbahagia boleh tidur nyenyak malam itu.
Masihkah kita mau peduli terhadap sesama yang membutuhkan pertolongan? Orang beriman senantiasa tergugah hatinya untuk membantu sesamanya yang membutuhkan. Tidak perlu memberi banyak hal untuk membahagiakan orang lain. Yang kita berikan adalah yang dibutuhkan oleh orang itu. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales SCJ
